Halo dengan feign disini.
Sebelumnya aku mau mengucapkan banyak terima kasih pada kalian para pembaca, aku selalu menerima semua kritikan dan saran dari kalian yang menjadi bahan evaluasi untukku dalam menyajikan naskah-naskah berikutnya. Terima kasih atas perhatian yang kalian berikan untukku, setiap karakter yang dijelaskan tentu saja akan memiliki peranan tersendiri di chapter mendatang, aku berusaha untuk menciptakan detail-detail kecil yang lebih terperinci di awal agar mempermudahkan aku sebagai penulis untuk membangun plot selanjutnya.
Terima kasih karena sudah mempercayai aku selama ini, semoga kedepannya aku bisa menyajikan yang lebih baik lagi.
Salam hangat, feign.
*****
Kamala menggeliat di dalam tidurnya, mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya, kedua matanya berpendar —mencari eksistensi Benjamin di dalam ruangan ini. Nihil, ruangan temaram ini hanya dihuni Kamala. Setelah acara pelelangan selesai dilaksanakan, Benjamin meminta Kamala untuk kembali menginap di dalam kediaman utama milik Wiradmaja sedangkan Renata dan Candra? Mereka berdua diharuskan untuk kembali ke Perancis malam ini juga, mengingat Perancis merupakan negara pertama yang masuk ke dalam list ekspansi bisnis milik keluarga. Selain itu Renata benar-benar merealisasikan rencana mereka berdua, kalung dengan taburan batuan sapphire berwarna biru mengkilap itu berhasil mereka dapatkan dengan harga tinggi, diberikan kepada Kamala sebagai hadiah pertunangan bersama dengan Benjamin menurut penuturan Renata. Selain berpartisipasi dalam acara pelelangan, Wiradmaja turut memberikan sejumlah uang untuk Safe House Foundation sebagai bentuk dari dukungan keluarga mereka terhadap agenda yang berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan yang tengah mereka laksanakan.
Malam ini cukup dingin dengan suara hujan yang terdengar samar oleh telinganya, Kamala mulai beranjak dari posisi tidurnya, menyibak perlahan selimut tebal berwarna hitam milik Benjamin. Tenggorokannya terasa kering sekarang, Kamala membutuhkan segelas air minum untuk membasahi tenggorokannya. Kamala meraih cardigan berwarna krem miliknya yang berada di gantungan baju yang berada tidak jauh dari posisi ranjang, mengeratkannya pelan untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Tangan mungil itu terulur untuk mendorong pelan pintu kamar Benjamin, mengintip ke luar untuk memastikan keadaan sekitar. Lorong kamar Benjamin terlihat temaram tanpa adanya penjagaan tidak seperti biasanya, pada hari-hari biasa Benjamin pasti meletakkan dua atau tiga orang berjas hitam untuk berjaga di sepanjang lorong.
Kamala sedikit meremang melihat pemandangan di depannya, namun rasa haus lebih mendominasi. Dengan langkah kaki yang sedikit ragu, Kamala berjalan mendekat ke arah lift yang terletak cukup jauh dari kamar Benjamin, Kamala masih harus melewati lorong panjang yang temaram dengan lukisan-lukisan besar menempel pada sisi-sisinya. Semakin mengeratkan cardigan miliknya, lengan Kamala segera terulur untuk menekan lantai dasar kediaman ini, sebelum merapatkan tubuhnya pada sisi lift yang lainnya. Dengan harap-harap cemas, Kamala mengamati pintu lift dengan seksama, tidak lama setelahnya pintu lift terbuka. Kamala kembali melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, keadaannya masih sama. Tidak ada pelayan ataupun penjaga yang berada di lantai dasar, Kamala semakin memacu langkahnya menuju ke arah dapur, membuka pelan lemari es yang berada di sana, mengambil satu botol air mineral kemasan yang memang selalu disediakan.
Kamala segera menenggak sebotol air mineral miliknya, mendesah lega. Rasanya sangat menyenangkan ketika air dingin itu melewati tenggorokannya, air dingin merupakan pilihan yang baik bagi Kamala. Tersentak, Kamala mengalihkan pandangannya sesaat setelah mendengar suara gaduh yang berasal dari lorong yang terhubung dengan sayap kanan kediaman. Kamala menutup lemari es di depannya dengan cepat, meletakkan botol air mineral miliknya di atas meja makan sebelum beranjak dari posisinya untuk menuju ke sumber suara. Ragu, sebenarnya Kamala merasa ragu untuk kembali melangkahkan kakinya ke depan, namun kepalang penasaran, menggenggam erat cardigan miliknya, perlahan, Kamala mulai mendekat ke arah sumber suara. Pengamanan di tempat ini cukup baik, Kamala akan baik-baik saja, Kamala mencoba untuk meyakinkan perasaannya. Kamala hanya akan memastikan apa yang terjadi kemudian kembali ke dalam kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
General FictionMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
