22 | Benjamin : My Dangerous Boyfriend - Good News

4.2K 330 22
                                        

Halo semuanya, dengan feign disini.

Senang sekali rasanya membaca afirmasi positif yang kalian berikan di kolom komentar, aku membacanya — berterima kasih kepada kalian karena sudah percaya, aku akan berusaha untuk menyajikan chapter-chapter menarik untuk kedepannya.

Salam hangat, feign.

*****

Stella menghela nafas sejenak, mencoba untuk menenangkan debaran di dadanya yang berpacu sangat cepat, kilas balik dimana kejadian itu seolah menjadi kaset kusut yang berputar di dalam kepalanya. Stella tidak akan pernah melupakan detail nya, Stella masih sangat mengingatnya. "Sekarang tante sudah menikah, kebetulan suami tante yang sekarang merupakan kolega yang cukup dekat dengan Wiradmaja. Pada saat menghadiri pesta pertunangan kalian, itu kali pertama setelah belasan tahun tante tidak bertemu dengan mereka. Melihat kamu, tante merasa perasaan yang sangat tidak bisa dijabarkan — tante merasa Wiradmaja tidak pantas untuk mendapatkan gadis semanis kamu untuk mereka, mereka tidak pantas!" Stella berseru dengan perasaan yang menggebu-gebu, suaranya tampak bergetar. Iris matanya memperhatikan Kamala dengan seksama, penuh dengan luka.

"Tante tahu perilaku yang tante perbuat dimasa lalu tidak dapat dibenarkan, tante hanya tidak ingin ada orang lain yang masuk ke dalam neraka yang mereka ciptakan. Kamala, percaya dengan tante. Mereka tidak lebih seperti sekumpulan iblis yang sangat berbahaya."

Kamala meremat kecil jemarinya yang saling bertautan, menatap Stella. Mencoba untuk berpikiran jernih, "Maksud tante? Bahaya bagaimana?" Tanya Kamala pada Stella, lidahnya terasa sangat kelu ketika mengucapkannya. Semua informasi yang Kamala dapat hari ini sangat berat dan tidak terduga.

Stella tampak memperhatikan sekitar sebelum kembali menatap Kamala, "Wiradmaja lebih besar dari apa yang kamu pernah bayangkan Kamala, secara turun temurun keluarga mereka menjadi penggerak—memimpin para pemimpin. Mereka gila, nyawa-nyawa seperti kita tidak akan ada harganya di mata mereka. Semua berlutut, semua mengabdi, mereka seolah seperti menciptakan dinasti milik mereka sendiri."

"Kalau kamu ingin pergi, kamu bisa pergi ke Rusia, hubungan mereka sedikit tidak baik—Wiradmaja cenderung memihak Amerika, blok barat yang beraliran kapitalis. Setidaknya itu bisa menjadi opsi pelarian yang baik." Tambah Stella sembari berbisik sangat pelan pada Kamala.

"Tante..." Kamala seolah tidak dapat melanjutkan perkataannya, setiap yang dikatakan oleh Stella seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Tentang Wiradmaja, tentang Bagaskara, dan masa lalu kelam keluarga mereka.

Announcement mengenai penerbangan yang Stella akan naiki sudah terdengar, wanita paruh baya itu tersenyum sembari meraih pelan tangan Kamala. "Tante hanya tidak ingin ada orang lain yang bernasib sama dengan tante, tolong pikirkan dengan baik apa saja yang sudah tante katakan kepada kamu. Semua keputusan ada pada kamu Kamala," Ucap Stella dengan senyuman yang senantiasa terpatri di wajahnya. Melepas genggaman tangan mereka, Stella merogoh tas jinjing miliknya, menyerahkan sebuah kartu nama berwarna silver kepada Kamala. "Tante harap hanya kita saja yang mengetahui tentang obrolan ini, ini kartu nama tante, suatu saat kalau kamu membutuhkan bantuan tante kamu bisa menghubungi tante." Kaku, lengan Kamala terulur untuk mengambil kartu itu dari tangan Stella.

Stella tersenyum untuk terakhir kalinya, meraih kacamata hitam miliknya sebelum beranjak dari tempat duduk mereka, meninggalkan Kamala. "Sampai bertemu lagi, Kamala."

Setelah kepergian Stella, Kamala masih terdiam sembari mengamati kartu yang berada di genggaman tangannya. Semua informasi yang Kamala dapatkan dari Stella, semuanya sangat mengejutkan Kamala. Paula, wanita yang menyambut Kamala hangat sesaat setelah pertunangan mereka. Wanita yang selalu tersenyum sembari mendampingi Bagaskara, siapa sangka Paula memiliki masa lalu yang kelam seperti itu.

Benjamin : My Dangerous BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang