Halo, feign disini...
Sebelumnya terima kasih banyak untuk kalian yang sudah menunggu Benjamin. Rasanya senang sekali, kalian masih sama antusiasnya.
Dengan banyak waktu luang yang ku miliki saat ini, mungkin kedepannya aku akan berusaha untuk update Benjamin dengan teratur.
Semoga kalian selalu bahagia dan baik-baik saja ya.
Salam hangat. feign.
*****
Kamala mengalihkan perhatiannya pada Renata saat suara ketukan pintu terdengar, mengamati punggung Renata yang bergerak untuk membuka pintu. Disana, terlihat Agya yang tengah berbicara dengan Renata, sedikit berbisik — sehingga membuat Kamala tidak bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.
Renata mengangguk, kemudian kembali menutup pintu saat Agya beranjak pergi. Menghampiri Kamala dengan senyuman manis yang terpatri di wajah ayu nya.
"Mala, tante sangat menunggu jawaban Mala. Jangan terburu-buru, Mala bisa memikirkannya terlebih dahulu."
"Tante akan merasa sangat senang sekali ketika Mala memutuskan untuk bergabung dengan Wiradmaja." Ucap Renata seraya tersenyum pada Kamala. Sungguh, meskipun tutur kata Renata terdengar lembut di telinga, Kamala merasa ada setiap tekanan di setiap katanya. Memperingatkan—Renata seolah memperingatkan Kamala untuk menerima tawarannya.
Menghela nafas, Kamala menyandarkan kepalanya pada bahu Benjamin. Setelah percakapannya bersama dengan Renata, pintu kamar kembali diketuk. Seorang pelayan datang, memberitahu mereka bahwa Benjamin menunggu Kamala. Tidak lama setelah itu, Benjamin berpamitan pada kedua orang tuanya, membawa Kamala meninggalkan kediaman utama Wiradmaja.
Mengenai permintaan Renata, Kamala benar-benar gundah dibuatnya. Dua tahun menjalin hubungan asmara bersama dengan Benjamin tidak membuat Kamala berpikir sampai sejauh ini. Kamala merasa masih ada banyak hal yang belum Kamala ketahui, baik mengenai Benjamin juga para anggota Wiradmaja yang lainnya.
Amira Djojosusanto—entah mengapa nama perempuan itu tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya. Melirik telapak tangan miliknya, disana masih terlihat dengan samar bekas goresan gunting yang dilayangkan Amira padanya. Kamala masih mengingat dengan jelas, bagaimana tatapan penuh kemarahan itu menghunusnya. Amira berkata bahwa Kamala menjadi penyebab dari kematian seluruh anggota keluarganya, Kamala penyebabnya? Menurut informasi yang Kamala dapatkan, Keluarga Amira terlibat sebuah kecelakaan yang terjadi di kawasan Tol Jagorawi. Hal itu membuat mereka semua meninggal di tempat.
Kamala juga sempat menanyakan perihal Amira pada Benjamin, sama. Kekasihnya itu berbicara mengenai kecelakaan yang menimpa keluarga Djojosusanto. Ditambah dengan informasi mengenai kesehatan mental Amira. Menurut cerita Benjamin, saat mengetahui keadaan keluarganya yang sudah meninggal, Amira sempat depresi bahkan nyaris gantung diri jika tidak dicegah oleh asisten rumah tangga di kediamannya. Setelah beberapa hari dalam perawatan intensif, Amira mulai meracau. Berhalusinasi bahwa mereka lah yang menjadi penyebab atas meninggalnya keluarga Amira. Hingga puncaknya terjadi di Jogjakarta, pada saat pemakaman Sonia. Entah bagaimana, perempuan itu bisa sampai di kediaman Sonia dan lolos dari penjagaan keluarga Wiradmaja yang menyebabkan Kamala terluka. Setelah kejadian itu, Benjamin mengirim Amira ke rumah sakit jiwa yang terletak di Singapura—memastikan bahwa perempuan itu tidak bisa menemui Kamala seumur hidupnya.
Mengenai Amira, Kamala tidak terlalu banyak bertanya. Semua yang diceritakan oleh Benjamin, Kamala mempercayainya. Namun setelah berlalu, Kamala merasa sedikit aneh, apa yang memicu Amira sehingga berhalusinasi bahwa Wiradmaja lah yang menjadi penyebab kematian anggota keluarganya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
Fiction généraleMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
