Halo semua, feign disini...
Mohon maaf sebelumnya karena mungkin minggu-minggu ini 'Benjamin' bakal sering telat update. Karena akhir-akhir ini aku sedang di sibukan dengan kesibukan-kesibukan manusia yang baru saja lulus sekolah menengah atas.
Tapi tenang aja, aku tetap akan menyempatkan diri di sela-sela kesibukan untuk mengetik naskah Benjamin. Aku harap kalian masih bersabar menunggu.
Oh iya, aku juga minta doa nya. Supaya semua yang aku lalui bisa berjalan sesuai dengan apa yang memang sudah di rencanakan.
Aku juga berdoa semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
Salam hangat, feign.
*****
Kamala merebahkan tubuhnya di atas kasur sapi miliknya, menghela nafas lelah. Setelah pulang sekolah Benjamin mengantarkan Kamala ke rumah dengan wejangan-wejangan penuh ancaman yang Benjamin berikan. Mengingat aksi nekat Kamala yang pergi tanpa izin Benjamin. Mengenai hukuman yang Benjamin katakana tempo hari, Kamala benar-benar merasa sangat kesal. Pasalnya setelah kejadian itu Benjamin semakin protektif tidak jarang Kamala bisa melihat beberapa orang-orang Benjamin yang berkeliaran di sekitar rumahnya.
Merasa pergerakannya menjadi semakin terbatas, membuat Kamala tidak bisa bergerak dengan bebas. Kamala benar-benar merasa seperti tananan yang harus selalu di awasi. Kamala juga mengingat pertemuan pertamanya bertemu dengan Wiradmaja yang lainnya.
Renata — ibu Benjamin, perempuan paruh baya itu menyambut Kamala dengan sangat antusias. Kamala bisa menebak jika Renata merupakan sosok menyenangkan. Namun tetap saja ada yang menganjal di pikiran Kamala. Interaksi yang tercipta antara Benjamin dan Renata benar-benar berbeda, mereka tidak bersikap layaknya seorang ibu dan anak pada umumnya. Terkesan formal dan segan, seolah ada benteng tinggi yang menghalangi mereka berdua.
Kamala juga tidak lupa dengan respon sinis yang di berikan Sonia kepadanya, wanita paruh baya itu terus saja melayangkan tatapan tidak sukanya pada Kamala. Di tambah lagi dengan eksistensi perempuan bergaun merah yang duduk di samping Sonia, perempuan yang Kamala tahu bernama Amira. Kamala bisa melihat dengan jelas, bagaimana antusiasnya Sonia ketika memperkenalkan Amira pada mereka semua. Kamala menebak jika tujuan Sonia tidak lain hanya untuk menyodorkan Amira pada Benjamin. Melihat respon yang tidak kalah antusiasnya dengan Sonia membuat Kamala merasa jika Amira juga memiliki maksud dan tujuan yang sama saat datang ke kediaman utama Wiradmaja.
"Nenek itu benar-benar menyebalkan." Ucap Kamala pelan,. Sungguh, rasanya Kamala ingin sekali merontokkan rambut penuh uban milik Sonia. Dimana saat wanita tua itu dengan angkuhnya bertanya mengenai asal usul keluarganya, Kamala bisa melihat dengan jelas, kilat merendahkan Kamala terlihat dari kedua matanya. Kamala juga tidak ingin bersama dengan Benjamin, apalagi bermimpi untuk bisa bersanding dengan pewaris tunggal Wiradmaja seperti yang Sonia kira. Benjamin yang memilih Kamala, membawa Kamala untuk masuk ke dalam kehidupannya. Kamala juga tidak memiliki pilihan lain selain bersama dengan Benjamin.
Ketukan dari arah pintu Kamarnya membuat Kamala menghentikan lamunannya, dengan gestur malas—Kamala segera beranjak dari posisi berbaring nya, membuka pintu Kamar. Sesaat setelah pintu terbuka, terlihat Bude Ratih yang membawa sebuah kotak hitam berukuran sedang tengah tersenyum ke arahnya. "Non Mala, tadi ada tukang paket datang. Katanya ini untuk Non," ucap Bude Ratih dengan ramah. Kamala menerima kotak hitam dari tangan Bude Ratih setelah mengucapkan terima kasih.
Setelah menutup pintu, Kamala melihat-lihat kotak hitam yang baru saja di berikan Bude Ratih. Mengrenyit heran, Kamala merasa tidak memesan apa-apa. Kamala juga meneliti kotak hitam ini, berharap bisa menemukan siapa pengirim. "Apa salah alamat ya?" Gumam Kamala ketika tidak mendapati nama si pengirim di kotaknya. Kepalang penasaran, Kamala membuka kotak hitam yang sudah berada di atas pangkuannya. Sesaat setelah membuka kotak, Kamala mencium bau anyir yang medadak memenuhi indra penciumannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
General FictionMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
