Halo, dengan feign disini.
Selamat membaca chapter ini ya, semoga kalian selalu bahagia dan baik-baik saja. Salam banget semuanya.
*****
“Yang, dengerin penjelasan gue dulu sebentar!” Seno menahan lengan Mita yang tengah berusaha untuk pergi, gadis itu sedikit tersentak sebelum mendongakkan kepalanya, menatap Seno dengan tatapan marah. Tanpa aba-aba, Mita menarik paksa tangannya sehingga tautan mereka berdua terputus, Seno sangat speechless dengan apa yang baru saja dialaminya. Paramita kekasihnya menolak gestur kasih sayang yang kerap Seno berikan, Mita menolak dirinya, menolak keberadaannya?
“Jangan sentuh gue, gue jijik banget sama bekasan orang lain — kita udah selesai, jangan pernah muncul lagi di hadapan gue!” Desis Mita tajam, tubuhnya masih gemetar menahan tangis, daripada rasa sakit, rasa marah lebih mendominasi dirinya. Mita perempuan baik-baik, memiliki latar belakang keluarga yang baik pula, mereka selalu melimpahkan semua kasih sayang pada Mita, beraninya bajingan tengik sialan seperti Seno memperlakukannya dengan cara yang sangat tidak layak?
Sialan, Mita benar-benar membenci situasi ini. Hampir dua tahun bersama dan ini balasan nya? Sungguh, Mita tidak akan pernah mempermasalahkan jika Seno memiliki ketertarikan kepada gadis lain, atau bahkan memiliki keinginan untuk pergi bersama dengan cinta barunya, sungguh Mita tidak akan pernah merecoki semuanya. Semuanya akan berjalan dengan lancar tanpa harus melalui drama menjijikkan seperti ini kalau Seno melepasnya sejak awal, berbicara layaknya seorang yang gentleman, menyelesaikan semuanya dengan cara yang baik. Tapi manusia sialan yang ini lebih memilih menyelesaikannya dengan cara yang menjijikkan, sungguh rasanya Mita bisa saja mengutuk perilaku yang Seno lakukan kepadanya ini sampai akhir hayatnya.
Seno mengusap wajahnya kasar, menatap Mita dengan tatapan kalut, tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi untuk bisa berkomunikasi dengan gadis yang tengah dikuasai oleh emosinya saat ini. Mita salah paham, semuanya tidak seperti apa yang terskenario di dalam kepala mungilnya, semuanya sama sekali tidak benar.
“Tolong kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya dulu Yang, gue sama sekali nggak punya hubungan sama cewek gila tadi—semua yang akan di pikiran lo itu salah, tolong percaya!” Ucap Seno sembari menatap Mita dengan gusar, mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman mereka.
Mita terkekeh kecil melihat Seno yang terlihat frustasi, bajingan ini! Bukankah seharusnya Mita yang frustasi saat ini, Mita korban nya disini.
“Bullshit, gue jijik sama lo!” Sentak Mita sebelum berbalik meninggalkan Seno yang masih speechless dengan jawabannya. Mita menghampiri Kamala yang menunggunya bersama dengan Adam, memeluk Kamala dengan erat—menumpahkan semua emosi yang meluap dari dalam hatinya. Semuanya terasa sangat melelahkan, Mita merasa jika energinya benar-benar terkuras habis hari ini. Melihat keadaan Mita yang terlihat kacau membuat Kamala hanya mampu terdiam, tangannya terulur untuk mengelus pelan punggung bergetar milik Mita, berusaha untuk menenangkan.
“Nona, Pak Syarif sudah menunggu kita di akses keluar—saya akan memandu anda untuk keluar melewati akses khusus yang sudah dipersiapkan.” Ucap Adam kepada Kamala, gadis itu hanya bisa mengangguk seraya menuntun Mita untuk berjalan ke arah yang sudah diarahkan oleh Adam. Adam membawa mereka untuk masuk ke dalam lift khusus yang terletak di sisi bangunan yang akan membawa mereka menuju ke basement yang terhubung dengan akses keluar tempat dimana Pak Syarif berada. Begitu pintu lift terbuka Kamala bisa melihat Pak Syarif yang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka bersama dengan beberapa pria berjas hitam dengan pin emas berlambang kepala naga di masing-masing jas mereka.
Dengan sigap, Pak Syarif membukakan pintu penumpang untuk Kamala dan Mita. Kamala membantu Mita untuk masuk terlebih dahulu sedangkan Adam menyimpan paper bag yang berisi belanjaan mereka pada mobil yang lainnya. Orang-orang ini? Adam pasti sudah melaporkan mengenai apa saja yang menimpa mereka kepada Benjamin sehingga pria itu mengirim beberapa orang lainnya. Kamala mengucapkan terima kasih pada Pak Syarif, belum sempat masuk ke dalam, teriakan Seno melengking membuat Kamala mengurungkan niatnya. Kedua iris tenangnya mengamati Seno yang mulai berjalan mendekat mendekati rombongan mereka. Pria itu terlihat kacau dengan penampilannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Benjamin : My Dangerous Boyfriend
Ficción GeneralMenjadi miliknya merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan secara bersamaan.
