07 | Benjamin : My Dangerous Boyfriend - Who's he?

12.7K 479 41
                                        

Halo, feign disini..

Minggu-minggu ini mungkin aku akan upload beberapa part di karenakan punya sedikit lebih banyak waktu senggang daripada biasanya.

Aku harap kalian tidak bosan untuk membaca kelanjutan Benjamin.

Jangan lupa tersenyum dan selalu bahagia, salam hangat🤍

*****

Kamala memakan makananya di bantu Renata, wanita paruh baya itu menemaninya, merawat Kamala dengan penuh cinta. Kamala sempat menangis histeris saat pertama kali membuka mata, bayangan gunting yang menikam lengan nya masih terbayang di kepala, terasa sangat nyata. Membuat Kamala mengingat semua tentang kejadian mengerikan yang baru saja di alaminya.

"Mala harus makan yang banyak, supaya cepat pulih." Ujar Renata setelah menyudahi suapan terakhirnya.

Kamala tersenyum, mengangguk. Senang sekali bisa di berikan kesempatan untuk bisa mengenal Renata. Ibu Benjamin benar-benar membuat Kamala merasakan kasih sayang serta kehangatan dari tangan seorang ibu. Anita — mamanya itu bahkan tidak mau repot-repot untuk sekedar mengurus Kamala yang tengah sakit. Mamanya biasanya menitipkan Kamala bersama dengan Bude Ratih.

"Terima kasih ya tan, tante sudah mau merawat Mala." Kamala menatap Renata dengan tatapan berkaca-kaca, tidak lagi mampu untuk membendung rasa harunya.

Renata memeluk Kamala—mengelus pelan punggung sempit yang terlihat kuat namun sangat rapuh di saat yang bersamaan. Renata tahu semuanya mengenai gadis mungil kekasih putranya, tentang bagaimana kehidupan Kamala, bagaimana gadis kecil ini tumbuh, semuanya karena bantuan dari Candra—suaminya. Renata sangat menyayangi Kamala seperti anaknya sendiri. Memang sejak dulu, Renata menginginkan seorang putri kecil di tengah-tengah pernikahannya dengan Candra.

Namun takdir berkata lain, Renata mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah pada saat Benjamin berusia dua tahun. Membuat rahimnya sobek karena benturan yang keras, dan berakhir dengan operasi pengangkatan rahim. Renata sempat terpukul—merasa tidak sempurna karena tidak bisa menjadi wanita seutuhnya, yang sempurna. Lambat laun dengan dukungan Candra, Renata kembali bangkit dari keterpurukan nya.

Ketika melihat Kamala untuk pertama kalinya, Renata merasa jatuh cinta. Keinginannya untuk memiliki seorang anak perempuan menjadi nyata—Renata egois, sangat egois. Kamala harus menjadi milik Benjamin, menjadi bagian dari Wiradmaja.

"Tante sayang sama Mala, tante senang kok merawat Mala. Mala kan pacarnya Benjamin, anak tante juga."

Kamala menguraikan pelukan mereka saat pintu ruang inap nya dibuka. Benjamin, pria itu berdiri sembari menatap Kamala dalam. Benjamin kini tampil lebih santai dari pada biasanya.

"Benjamin, Ibu akan menghampiri ayah mu dulu. Jaga Kamala baik-baik ya." Ucap Renata sembari tersenyum kemudian bergegas keluar dari ruangan inap Kamala. Memberikan waktu pada sepasang kekasih itu.

Benjamin berjalan mendekat, duduk di kursi kecil yang terdapat di samping brankar Kamala. Benjamin mengecup pelan jemari Kamala, mengelusnya disana. "Maaf, maaf karena sudah gagal untuk menjagamu, "gumam Benjamin lirih.

Kamala menggelengkan kepalanya, memeluk Benjamin erat. " Harusnya aku yang minta maaf sama kakak, kalau saja aku nggak ceroboh. Ini semua pasti nggak akan terjadi."

Menggeleng-Benjamin menguraikan pelukan mereka. Menyatukan kening mereka, menatap Kamala. Jantung Kamala berdetak dengan sangat kencang, netra tajam milik Benjamin dalam. Pria ini, pria yang sempat ingin Kamala hindari, pria yang selalu Kamala anggap sebagai monster kejam yang membatasi kehidupan bebasnya. Kamala benar-benar sudah jatuh, Benjamin selalu menemaninya, susah atau senang, Benjamin yang selalu mengerti dirinya. Memeluknya, menenangkannya. Kamala tahu, bagaimana kejamnya pria datar di hadapannya ini. Bagaimana bengis nya dia ketika menyiksa. Tapi bolehkah Kamala sedikit egois dengan menginginkan selalu bersama dengan Benjamin.

Benjamin : My Dangerous BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang