o0o
''Kak Jimin,punya waktu luang tidak akhir pekan ini?''
Bel pulang berbunyi 5 menit yang lalu, dan Jungkook sudah duduk tenang di samping Jimin. Ia menyeret Jimin menuju kantin bahkan 2 menit sesudah bel berbunyi nyaring. Alasannya tentu jelas ingin makan siang karena kebetulan jam pulang di percepat.
Dan yang pasti tak lupa ia juga menyeret Taehyung, memastikan kakaknya itu ikut makan siang. Dua hari yang lalu ia harus rela menjadi babu Taehyung, karena kakaknya itu sakit.
''Hmm sepertinya punya, aku tak terlalu sibuk di akhir pekan.'' Jawab jimin santai, ia masih sibuk menyuap bibimbap yang ia bawa dari rumah.
Jungkook berbinar penuh semangat. ''Kalau begitu kakak mau kan ikut makan malam dengan ku di rumah. " ajak nya antusias.''Mama membuat makanan enakk loh kak." Tambahnya, berharap membuat Jimin tertarik.
''Kau jangan mengada-ngada anak nakal." Sinis Taehyung, adik nya ini benar-benar.
Bagaimana bisa mengajak orang asing ke acara keluarga eoh??
''Memang kenapa huh, mama saja tidak melarang. Kan aku sudah mengadu pada mama dulu sebelum mengajak kak Jimin. " Jungkook balas sinis menatap sang kakak, mencari celah untuk memulai peperangan.
Jimin sendiri masih canggung berada di antara dua saudara yang sering bersiteru ini.
''Kau itu harus tahu, makam malam nanti itu untuk keluarga bukan orang asing." Ujar Taehyung penuh sindiran, ia bahkan menetap Jimin remeh.
Hal itu tentu membuat Jimin merasa tak enak dan menunduk. Lalu menatap jungkook dengan senyum lembut.
''Aku tidak di izinkan keluar malam kok, jadi aku sepertinya tidak bisa hadir, maafkan aku ya." Balasnya lembut, meminta maaf karena merasa membuat anak itu kecewa.
''Yahh, Kak Jimin kalau tidak mau datang karena ucapan kak Taehyung tidak perlu di dengar." Jungkook masih nampak berusaha, ia sedikit memaksa. Ingin memperkenalkan teman barunya kepada mama, tentu terutama
''Tidak, aku memang sulit mendapat izin keluar jika malam hari." Jelas jimin meyakinkan jungkook. Nada nya lembut dan ia tersenyum, hal itu membuat jungkook ikut tersenyum.
''Ya sudah kapan-kapan kakak harus ikut makan siang di rumah ku ya, kepiting kecap buatan mama ku sangat lezat lohh." Ujar remaja itu penuh kesombongan, membanggakan kemampuan sang mama.
''Hmm jika aku ada waktu aku akan ikut." Jimin mengangguk ringan, membalas pernyataan jungkook. Ia merasakan aura kemurkaan dari orang di sebelah jungkook itu.
Dimana muka Taehyung sudah memerah menahan amarah dan kekesalan. Jimin tak ingin memperpanjang waktu, apalagi jika harus menjawab pertanyaan jungkook yang tak ada habisnya. Anak itu terlampau mudah dekat dengan orang baru.
''Jika kau masih ingin membuang waktu, pulang saja dengan taksi." Dan benar saja kan, baru saja Jimin berpikir demikian. Mulut sarkas Taehyung lansung berbicara, membuat Jungkook memutar bola mata malas. Bahkan makanan nya belum datang, tapi kakaknya itu sudah berdiri dan berjalan menjauh.
''Cihh, dasar orang iri, kan makananku belum datang, heii'' Ujar jungkook kelewatan kesal, meneriaki Taehyung yang tampak tak peduli.
''Kak Jimin, aku pergi dulu ya, da~~" Tangan jungkook melambai sembari berlari , bibirnya tersenyum cerah.
Hal itu membuat sudut bibir Jimin ikut tertarik merekah, ia ikut melambai hingga Jungkook tampak hilang di ditelan dinding yang bercabang.
Kembali ia merasa sepi, bibirnya mengulum senyum tersirat. Dirinya berdiri keluar dari kantin menuju gerbang,menunggu sang paman yang berjanji akan segera datang.
*
*
''Sergera bersiap, ibu sudah menyediakan jas mu di atas kasur. " suara Se Ra menyambut kedatangan Jungkook dan Taehyung. Ibunya itu baru saja sampai tadi pagi, mungkin?
''Jungkook-iee jangan tidur eoh, mama menunggu. " Merasa di hiraukan Se Ra kembali bersuara,sedikit berteriak.
''Ma~~aku lelah lohh, kenapa tidak ajak kak Taehyung saja sihh ." Jungkook mengelak tak terima, ia malas sebab acara seperti itu pasti akan lama dan ia bener-bener malas.
''Kenapa kau menjadikan ku tumbal eoh!" Taehyung menatap Jungkook tajam.
Yang di tatap hanya merenggut tak suka, ia kesal. Selalu seperti ini, jika ada acara maka ia yang akan di ajak. Bukan bermaksud durhaka, tapi ia malas saja. Setiap pertemuan pasti ada saja teman sang mama yang menjodohkan Putri mereka. Cih nasib menjadi ganteng.
''Taehyung-ah mama sudah menyiapkan makanan, jika kau lapar lansung saja ke meja makan ya. Kalau belum lapar, nanti panas kan saja lagi. '' Se Ra berucap sembari memperbaiki make up nya.
Taehyung hanya bergumam tak jelas lalu masuk ke dalam kamar nya. Paling paling nanti ia tak akan makan, hanya tidur dan bermain handphone.
*
*
*
''Bi~ Jimin ingin ayam kecap. " Suara lembut itu mengawali langkah pertama Jimin memasuki dapur.
Ia tersenyum lembut, memeluk wanita tua itu dari belakang. Wanita yang telah merawatnya itu berpostur tubuh lebih pendek, sehingga dengan mudah jimin memeluk dan meletakkan kepalanya di bahu bibi Ahn. Wanita tua itu tersenyum, mengelus kepala jimin dengan sayang.
''Pergilah duduk di depan, nanti bibi buatkan ayam kecap hmmm." Wanita itu sedikit mendorong kepala yang menyender nyaman di bahunya.
''Emmm tidak mau, ingin memeluk bibi saja." Jimin bersikap manja, pasti ia tengah bersedih. Bibi ahn tahu itu, membesarkan jimin dari bayi membuat nya 100% paham kondisi hati si anak.
'' Hmm apa yang membuat Jiminie lucunya bibi sedih hmmm?"
Pemuda itu menggeleng pelan, bibi ahn membalikkan badan. Kepala jimin yang semula nyaman di bahunya terangkat perlahan. Wanita tua itu tersenyum, tangan keriputnya mengelus pipi jimin dengan lembut.
''Kenapa Jiminie berpikir bisa membohongi bibi hmm? Katakan apa ada yang nakal dan membuat Jiminie sedih?" Wanita itu kembali bertanya lembut, tak marah meski tahu jimin telah berbohong padanya.
'' Tidak ada, hmm hanya sedikit merasa tidak nyaman saja melihat orang orang." Sedikit demi sedikit ia mulai jujur, meski bercerita tanpa keterangan jelas.
'' Apa hal yang membuat si tampannya bibi sedih? Apa orang itu menikmati es krim dan jimine nya bibi tak bisa?" Masih dengan tersenyum wanita tua itu coba mencairkan suasana.
Hatinya sedih, ia tahu apa yang dirasakan jimin bahkan hanya dari pancaran mata anak itu. Terlalu lama hidup individu tanpa interaksi yang cukup membuat jimin sulit untuk memahami emosinya sendiri.
''Tidak ada, hanya iri dengan mereka yang di jemput ayah atau ibunya." Ujarnya pelan nyaris bergumam, lalu melangkah pergi meninggalkan dapur. Melupakan sedikit kebahagiaannya tadi di awal ketika meminta ayam kecap.
Juga meninggalkan wanita tua yang menatap kembali sendu, meruntuki nasib bocah malang itu.
'' Apa yang bisa lakukan nak? Bibi ingin kamu terus tersenyum saja." Gumam wanita tua itu sendu.
Tbc
Yap, setelah 1 tahun? Atau mau masuk 2 tahun nih?, maaf sebelumnya ke semua yang masih baca dan menunggu. Aku gak tahu bakal update kapan lagi karna jujur aku sibuk ☹️🤏🏻 pake banget, yah setelah tahun kemaren aku sibuk utbk, sekarang alhamdulillah aku keterima di jurusan impian aku, yeah kedokteran hewan dan konsekuensi nya aku jadi sibuk banget ☹️ tapi karena ku pikir ini sangat menggantung jadi ku lanjut, so semoga suka 🤗💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Separate
Fantasy[ follow sebelum baca] Brothership✓ VMIN✓ Sebuah dinding besar telah terbangun di kehidupannya sejak awal. Bukan tanpa dasar, keberadaannya yang diragukan menimbulkan sebuah keretakan. Tidak ada keharmonisan dalam kisahnya, ia hanya remaja penyakit...
