o0o
''Kak Jiminnn, Un Ji rindu" teriakan cempreng itu menggema di sekitar lorong rumah sakit.
Gadis 7 tahun itu berlari ceria menuju kamar sang kakak, dengan teriakan yang mungkin saja mengganggu pasien lain. Tapi apa boleh buat, tak ada yang bisa menghentikan nya kalau tidak ingin kena omelan si kecil. Bahkan ayahnya sekalipun hanya bisa meringis malu dan sesekali meminta maaf kepada pasien lain yang merasa terganggu.
''Yun Ji-ah ayah sudah bilang jangan berteriak, toh kakak mu juga tidak akan mendengar." Peringat sang ayah.
Tapi tetap saja dengan sifat keras kepalanya,gadis itu berteriak hingga sampai di ruang rawat yang ia tuju.
''Kakak Un Ji datang." Teriaknya,lagi!
''Aaa princess sudah datang." Tak kalah berteriak sang kakak juga menyahut. Tangan nya ia rentangan minta di peluk. Tentu saja gadis itu segera memeluk sang kakak. Pelukan yang sangat erat seperti sudah terpisah begitu lama, padahal kemaren baru saja bertemu meski hanya sebentar.
''Bagaimana keadaan mu Jimin?" Kali ini ayah sang gadis yang bertanya.
''Baik paman, nanti juga sudah boleh pulang." Jawab Jimin dengan senyum, tak lupa memangku gadis itu sembari mengusap kepala nya sayang.
''Un Ji mengganti sampo lagi?" Tanya nya sembari mencium rambut lembut itu, wangi stoberi.
''Hmm, masa ayah mengatakan jika sampo Un Ji yang lama bau kentut kuda kakak." Ujar nya dengan kesal sembari menunjuk sang ayah kesal.
Jimin terkekeh, mulut sepupu nya ini benar-benar luar biasa.
''Memang bau sayang, ayah tidak suka." Balas sang ayah santai.
Gadis itu memelototi sang ayah kesal, bersiap untuk mengamuk.
'' Kan yang tidak suka ayah bukan aku, kenapa aku yang harus jadi korban." Kesal nya dengan penuh drama.
Sang ayah mendengus kesal, anak nya keras kepala. Sangat sangat keras kepala, sama seperti nya!
''Jimin sendirian?" Dari pada si kecil tak diam, lebih baik pembicaraan di alihkan.
''Tadinya iya tapi sekarang kan sudah ada paman Yoon Gi dan Yun Ji." Balas Jimin tersenyum lebar,namun terasa hampa.
''Paman Hoseok mana?" Tanya Yoon Gi penasaran, adik satu ayah nya itu biasanya tidak akan meninggalkan Jimin barang sekejap pun jika sedang sakit.
''Tadi katanya ingin membeli makan keluar sebentar paman."
''Papa mu sudah datang?" Tanya Yoon Gi lagi,ia tahu pertanyaan ini sensitif.
''Paman Hoseok bilang papa ke luar negeri." Jawab Jimin lesu.
Yoon Gi hanya mengangguk mengiyakan. Luar negeri?? Luar negeri mana yang letak nya di apartemen di daerah Itaewon. Saat menjemput Yun Ji tadi, ia tak sengaja melihat Seokjin memasuki apartemen nya di daerah Itaewon. Tapi Yoon Gi memilih diam, tak ingin menambah luka di hati keponakan nya.
Entah bagaimana perasaan remaja akhir itu jika tahu papa yang ia nanti pergi keluar negeri dengan alasan pekerjaan justru hanya berbohong dan tak pergi kemana-mana.
'' Sudah makan?" Tanya Yoon Gi lagi, pengalih topik.
''Belum boleh" jawab Jimin lesu, sembari membenarkan selang nasacanula yang sedikit berganti posisi karena pergerakan nya tadi.
Yoon Gi hanya mengangguk, ia lihat tangan kiri Jimin. Terdapat 3 selang yang terhubung masuk ke dalam tubuh gembil itu dengan bantuan jarum.
''Yun Ji jangan terlalu membuat kak Jimin lelah." Teriak Yoon Gi dari balkon rumah sakit.
''Siap ayah" jawab gadis itu tak kalah berteriak.
Sibuk bermain dengan sang kakak sepupu, Jimin.
*
*
*
Hoseok pergi ketika Jimin tertidur dan meninggalkan note jika ia sedang mencari makan keluar. Namun kenyataannya ia malah menemui Jin yang tengah sibuk dengan laptopnya di salah satu apartemen di Itaewon.
Brak
Bukan pintu apartemen yang di banting, tapi rekap medis Jimin yang setebal buku agenda yang ia dapat dari rumah sakit. Ia lempar ke atas meja,di depan mata sang kakak, Seokjin. Membuat kakaknya itu mengernyit kesal.
''Apa-apaan kau Hoseok " teriak nya kesal.
'' Karena ulah mu buku itu kembali bertambah lembaran nya,125 lembar. Ia baru saja selamat dari maut lagi!" ujar Hoseok datar,ia sudah cukup sabar selama ini.
''Lalu apa peduliku." Ujar Seokjin tak kalah datar. Hal itu membuat percikan api kemarahan Hoseok berubah menjadi api besar.
''Kau sudah gila? Dia putra mu!" Teriaknya marah,mata berkaca-kaca dengan perasaan campur aduk.
Sejak awal kerenggangan Jin dan Jimin, timbul pertanyaan besar. Kenapa Seokjin terlihat membenci Jimin, membenci putra nya sendiri. Padahal dulu saat Jimin masih bayi hingga balita, ayah tunggal itu begitu menyayanginya. Namun saat berumur 9 tahun, sepulang dari Jepang Seokjin berubah. Ia berhenti menyekolahkan Jimin di sekolah umum. Menutup rapat ke hadiran Jimin agar tak tercium media.
''Bolehkah aku menyesal Hoseok-ah " ujarnya pelan.
''Aku menyesal karena ia adalah putra ku"
Flashback
Jepang, Osaka.
Hari ini hari terakhir ayah tunggal itu di negeri sakura itu. Ia sedikit berjalan jalan, mencari oleh oleh yang bisa ia bawa untuk Jimin.
Lalu siapa sangka niat nya mencari oleh-oleh justru sesuatu yang tak terduga ia temukan. Berjarak kurang lebih 300 meter dari nya, wanita yang pernah ada dalam kehidupan nya berdiri. Dengan dress pink se lutut di depan nya ada stroller bayi. Seokjin tak mengerti, kenapa kaki nya melangkah mendekat dan menyapa wanita itu.
Dan Se Ra tentu terkejut, manta suami nya yang sudah 7 tahun ia tinggalkan dan tak pernah terlihat olehnya kini berdiri di depan matanya.
''Lama sudah tak bertemu." Sapa nya lembut.
Se Ra hanya mengangguk dan terlihat kurang nyaman.
''Kau ke sini dengan suami mu?" Tanya Jin badan basi.
''Dia pergi ke Australia " jawab Se Ra seadanya dan bersiap untuk pergi,tapi itu terhalang saat Jin mencegahnya.
''Jangan menghindar lagi, aku tak akan menganggu kehidupan mu. Tapi aku tak bisa tahan lagi saat kau membawa separuh jiwa ku bersama mu." Seokjin menatap Se Ra dalam.
'' Bagaimana kondisi putra kita?" Tanya nya lembut,ia bahkan menjauhkan tangan yang tadi menyentuh lengan Se Ra.
Wanita itu menghela nafas panjang, balas menatap Seokjin.
''Semua sudah ku tinggal Seokjin-ssi. Harta mu yang pernah ku pakai,cincin pernikahan, cinta yang pernah kau beri juga sudah ku tinggalkan. Dan anak, aku juga sudah meninggalkan nya bersama mu." Balas nya nanar, mata itu menunjukkan kekecewaan.
''Aku tahu, tapi yang kau bawa itu berbeda. Dia juga anak ku, dan aku ingin melihat nya barang sebentar pun apakah tak boleh?" Seokjin masih kekeuh dengan pendirian nya.
''Bahkan yang satu itu pun ku tinggal di Seoul, ___
________ku tinggal jauh di dalam tanah di Seoul. Tak ada satupun pemberian mu yang ku bawa Seokjin-ssi, tak satupun bahkan malaikat pemberian Tuhan itu sekalipun."
***
TBC
See you again
And
See you next chapter everyone 👋🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Separate
Fantasi[ follow sebelum baca] Brothership✓ VMIN✓ Sebuah dinding besar telah terbangun di kehidupannya sejak awal. Bukan tanpa dasar, keberadaannya yang diragukan menimbulkan sebuah keretakan. Tidak ada keharmonisan dalam kisahnya, ia hanya remaja penyakit...
