[ follow sebelum baca]
Brothership✓
VMIN✓
Sebuah dinding besar telah terbangun di kehidupannya sejak awal. Bukan tanpa dasar, keberadaannya yang diragukan menimbulkan sebuah keretakan.
Tidak ada keharmonisan dalam kisahnya, ia hanya remaja penyakit...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~o0o~
Jimin kadang bingung, apa ia punya kesalahan besar di masa lampau? Kenapa dunia seakan-akan mendukung penderitaan nya. Apa ia tak bisa atau tak boleh merasakan apa yang nama nya bahagia??
Kenapa kebahagiaan nya hanya sebentar, di hitung jari pun bisa. Semalam ia merasa begitu bahagia, terbang tinggi dalam kebahagiaan. Namun tiba-tiba pagi nya yang cerah lansung hancur.
Saat ini ia tengah meringkuk di atas kasur, bergelut dengan selimut. Air mata nya selalu menetes, bahkan sudah berkali-kali jemari mungil itu mengusap kasar mata nya hingga memerah.
'' Hiks kenapa kau cengeng sekali sih Jimin hiks" mulut nya tak henti mendumel. Tangan nya masih menghapus air mata yang setiap kali di hapus akan turun kembali.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, ia tak berangkat ke sekolah. Entahlah tiba-tiba saja niat nya menguap hilang, ia rasa ke sekolah bukanlah pilihan yang bagus. Dan saat ini kasur adalah hal yang terbaik yang bisa ia tempati, daripada brangkar rumah sakit.
' Berhentilah berharap Park! Kau itu bukan keinginan tapi kesalahan !'
Mata Jimin yang tertutup kembali terbuka, tersentak hingga kerja jantung nya bertambah cepat. Isakan kembali keluar dari mulut nya, Jimin memukul dada nya sesak.
Terngiang-ngiang jelas kata kata pedas yang di ucapkan sang kakek tadi pagi. Jimin tak menyangka jika sang kakek akan mengunjungi nya. Sebab setelah ia diusir dari rumah dan di asingkan ke rumah lain di pelosok Seoul. Jadi seharusnya tak ada alasan orang datang ke rumah nya,kecuali untuk menyakiti nya, persis seperti yang dilakukan sang Kakek.
Flashback
''Paman aku sudah ss-siap?"
Langkah semangat Jimin terhenti, tubuh nya menegang kaku. Senyum nya perlahan luntur,wajah nya memucat pasi. Di hadapan nya berdiri seorang pria tua yang berusia 85 tahun. Tampan! Meski sudah sangat berumur namun visual nya tak bisa di sembunyikan bahkan oleh keriput.
''K-Kakek?" Jimin bergumam pelan,ia bahkan melangkah mundur. Jimin berharapbibi Ahn keluar dari dapur.
'' Kau terlihat sangat bersemangat sekali Park?" Pertanyaan itu seperti hinaan bagi Jimin. Bahkan hati nya berdenyut nyeri kala marga sang ibu di panggil sang kakek.
Tak bisakah ia menjadi bagian keluarga Lee di mata sang kakek? Apa Jimin berbuat kesalahan? Atau terlahir dari kesalahan? Setahu Jimin ia terlahir dari pernikahan sah sang papa dan sang mama, lalu dimana salah nya?
'' Tentu saja kau bahagia eoh, kau lepas dari segala kekang-ngan keluarga Lee. Dan bisa hidup sepuas mu, tanpa kehormatan."
Pria tua itu senantiasa bicara santai kendati setiap kata yang keluar di mulutnya seperti umpatan yg menyakitkan.
'' K-kakek Jimin harus..."
'' Tidak usah memanggil ku kakek, kau bukan anggota keluarga Lee! Jadi mulai sekarang berhentilah memanggil kakek. "
Jimin kembali tersentak,jujur ini bukan pertama kalinya ia dilarang memanggil kakek. Bahkan di setiap kali ia memanggil kakek, pria tua itu akan kembali mengingat kan posisinya.
'' Aku tak akan basa basi, aku hanya ingin mengatakan pada mu untuk tidak lagi mempengaruhi putra ku. Kau tahu masa depan nya mungkin masih cerah jika kau tak ada."
Jimin ingin menangis rasa nya, ia meremas jemari nya. Menahan segala luapan emosi yang hampir lepas.
'' Kek a-aku"
'' Kau memang keras kepala eoh? Jangan panggil aku kakek, panggilan mu akan membuat semua orang salah paham"
Dada Jimin mulai bergemuruh, jantung nya berdetak 2 kali lebih cepat. Pertanda buruk! smart watch milik nya mulai bergetar.
'' Semalam harusnya putra ku menghadiri acara perjodohan yang telah ku atur. Tapi ia justru melewatkan nya dan pergi menemui mu. Kau? Kenapa kau tak setuju jika putra ku menikah lagi? Kau tak ingin ia bahagia?"
Air mata Jimin meluluh, ia tak sanggup lagi! Kata kata sang kakek semakin menyakitkan. Perkataan yang terlontar dari mulut pria tua itu tak seperti perkataan yang seharusnya dikatakan seorang kakek ke pada cucu nya.
'' Aku bahagia jika papa bahagia, a-aku bahkan tak bertemu papa semalam" Jimin berucap lirih namun masih bisa terdengar.
Tuan Lee mengangguk pelan.
'' Syukurlah jika begitu, ah satu lagi pertukaran marga mu sudah ku urus. Kau benar-benar akan bebas Park."
Pria tu itu kembali berbicara santai, bahkan dengan senyum manis namun bagi Jimin itu adalah senyum hinaan. Langkah nya perlahan menjauh di ikuti dua orang bodyguard di belakangnya.
Jimin yang melihat sang kakek menjauh dan menghilang di balik pintu,lansung terduduk. Air mata nya kembali menetes, ia pikir kedatangan sang ayah semalam adalah pertanda jika hubungan mereka mungkin akan baik-baik saja. Namun sayang, hal yang ia pikir akan membawa kebahagiaan ternyata adalah awal dari kehancuran.
Dirinya sudah merasa di asing kan kala tak dipandang di keluarga besarnya, tinggal terpisah dari sang ayah. Dan sekarang? Ia benar-benar hancur! Mengganti marga menjadi Park? Itu seperti mimpi buruk bagi Jimin, kendati itu marga ibu nya sendiri.
'' Hiks KENAPA!"
Teriakan Jimin mengundang bibi Ahn berlari ke depan. Ia berada di taman belakang sedang menjemur baju, bahkan ia tak tahu kedatangan tuan Lee.
'' Jimin kenapa nak?" Ia perlahan memeluk tubuh bergetar Jimin.
''Hiks bi, k-kenapa semua orang membenci Jimin bi hiks, Jimin ingin bersama mama bi hiks,Jimin benci semuanya."
Jimin berbicara terbata, dengan isakan pilu dan suara smart watch yang tadi nya hanya bergetar sekarang justru berbunyi keras. Hal itu membuat bibi Ahn gelisah dan panik. Alhasil ia memapah Jimin menuju kamar dan menidurkan pemuda itu seperti menidurkan anak kecil.
Flash end
* * *
Hay, i'm back. Semoga suka ♥️
Maaf Tae Tae sama kookie masih Hye umpetin, next chapter bakalan muncul.
Tuan Lee nya boleh di hujat ya, di persilahkan dengan segala hormat.