Separate 22!

977 143 23
                                        

000

''Kak Jimin rumah nya dimana?" Tanya Jungkook sedikit keras, takut Jimin tak mendengar di belakang.

'' Turunkan di halte depan saja kook, rumah kakak ada di dekat situ." Jawab Jimin dengan nada sedikit bergetar, menahan dingin,gatal dan sesak yang datang.

''Eh kenapa di halte kak, biar ku antar sampai depan rumah kakak saja." Jungkook mengernyit bingung.

''T-tidak apa kok, lagian rumah kakak juga tidak bisa di masuki kendaraan apapun. Gang nya sangat sempit hehehe."

Dengan sedikit kekehan paksa Jimin mencoba tuk berbohong. Berharap Jungkook percaya akan apa yang ia katakan.       

Ia hanya ingin belajar untuk menerima segala fakta dan kenyataan. Tak ada yang tahu massa depan, sekuat apapun sang papa coba tuk mempertahankan nya. Jika cara yang di pilih dari awal sudah salah. Tidak menutup kemungkinan Jimin bisa di usir dari rumah nya sekarang. Karena bagaimanapun juga rumah itu masih berada dalam aset Keluarga Lee.

''Oh benarkah? Kalau begitu biar ku letakkan motor ku di dekat halte, lalu aku akan mengantar kak Jimin pulang."

Jungkook masih kekeh ingin mengantar Jimin, seperti penasaran dengan rumah Jimin.

'' Tidak apa Jungkook-ah, lagian cuaca semakin dingin lebih baik kau pulang saja hmm." Jimin coba tuk beri pengertian pada Jungkook dengan lembut.

''Humm padahal aku ingin melihat rumah kak Jimin."  Namun pada akhirnya Jungkook menyerah, dengan sedikit cemberut.

''Hmm bagaimana jika lain kali ? Kau boleh ke rumah kakak." Tawar Jimin, ia sedikit tak tega melihat wajah cemberut Jungkook.

'' Janji?"

Layaknya bocah Jungkook berujar girang, wajah nya kembali berseri bahagia.

''Hum, janji!" Balas Jimin dengan senyum, mengangguk pelan.

'' Kalau begitu aku pulang dulu, daa kak Jimin "

Jungkook melambaikan tangan nya dan mulai menjalankan motor nya menjauh. Hilang dari pandangan saat berbelok di persimpangan.

''Arghh"

Saat dirinya tak lagi melihat persepsi Jungkook, erangan kecil lolos dari mulut nya. Kepulan asap  keluar dari belah bibir Jimin, pertanda si empu kedinginan. Tak hanya itu, bintik merah mulai timbul di lengan dan leher nya. Terasa gatal dan perih, Jimin sedikit kesulitan bernafas tapi tak terlalu parah.

Ia alergi udang!!

Bukan alergi parah yg bisa menyebabkan Jimin susah bernafas, pusing atau bahkan pingsan. Tapi alergi itu cukup menyiksa, dengan rasa gatal dan perih yang terasa. Cuaca juga terbilang tak baik karena dingin, ia harus berjuang berjalan melawan dinginnya malam yang berhasil membuat seluruh tubuhnya bergetar.

Bohong jika rumah nya dekat, dari halte Jimin harus berjalan setengah jam menuju rumah. Tidak ada bis yang lewat, sekalipun ada Jimin tak punya sepersen pun uang untuk naik bis.

Dengan sekuat tenaga ia berjalan pelan untuk melangkah pulang, tidak ada handphone atau apapun yang bisa digunakan. Ia hanya berharap sang paman menemukan nya. Merapalkan doa agar bisa sampai di rumah dengan selamat.

Separate Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang