08. "Sejak kapan Ibu peduli dan sayang sama aku?"

193 33 3
                                        

"Kamu malam ini nginep?"

Umji noleh kearah luar dari pintu kamar yang terbuka, lalu ngangguk pas Ibunya ikut duduk disebelahnya yang lagi ngeluarin karton buat prakarya yang bakal dia kerjain nanti malam dari dalam tas.

"Kenapa? Ara tidur sini?" tanyanya kemudian lalu mulai ngegulung potongan karton itu dengan bantuan lidi. "Suruh dia tidur di ruang tengah. Ada kasur lipat kok."

"Masa kamu tega sih sama sepupu sendiri, Mair."

Cewek bercepol itu menghela napas. Suasana hatinya berubah jelek karena intro ucapan Ibunya sama kayak sebelum-sebelumnya. Selalu aja bikin dia harus ngalah dari cewek kurang ajar satu itu.

"Terus aku yang harus tidur disana? Ini kamarku loh, bu. Aku baru pulang dari kosan-"

"Kamu di kosan udah biasa tidur tanpa AC kan? Dia gak bisa kena panas, nanti kulitnya jadi muncul ruam gitu, Umaira sayang."

Jengkel.

"Kalo gitu suruh dia bersih-bersih rumah sore ini. Gantian," ujar Umji nahan emosinya. "Dia udah kelas dua SMA, bu. Gak ada alasan dia dimanja kayak anak SD begitu. Adeknya Sinbi walau masih kelas empat udah biasa bersihin kamar sendiri, nyuci piringnya sendiri. Lah dia? Udah segede itu masa masih manja."

Drap.

"Mbak kalo gak suka sama aku tuh bilang langsung, gausah ngadu-ngadu ke Ibu."

Umji mutar bola matanya malas. Kesempatan bagus buat skakmat manusia gatau diri yang sekarang berdiri dengan gak sopannya didepannya dan sang Ibu yang duduk dilantai.

"Habisnya Ibu punya telinga buat denger omonganku. Kalo kamu?" Umji terkekeh. "Telinga aja dikasih anting bagus, tapi gak bisa denger. Dikasih tau malah ngeyel. Kalo udah kena masalah juga nangisnya ke sini."

"Umaira-" Ibunya berbisik pelan. "-gak boleh gitu ngomongnya."

"Biarin aja. Lagian aku baru dateng udah disuruh masak buat dia? Dikira aku pembantunya apa?" Cewek itu tanpa sadar naikin suaranya sambil nunjuk Ara. "Hei, kamu sadar diri coba. Udah gede. Udah pacaran. Masih aja manja, gak bisa masak, gak bisa nyuci, terus bisamu apa? Ngelon terus kayak bayi."

"IBU! MULUTNYA MBAK UMAIRA INI PERNAH DIAJARIN NGOMONG SOPAN GAK SIH?!"

Brak!

Cewek itu berteriak bak kesetanan. Tangannya ngelempar kotak rokok punya sang Ayah sampai isinya berhamburan di lantai.

"DASAR JELEK. BILANG AJA KAMU IRI KARENA AKU LEBIH CANTIK DAN DISAYANG SAMA AYAH DARIPADA KAMU!" teriaknya lagi.

"Oalah, jancuk," umpat Umji kemudian.

Cepat-cepat dia berdiri. Berniat buat ngejambak rambut gelap bergelombang itu sampai jatoh. Dia capek habis perjalanan jauh dari kosan, begitu pulang bukannya damai malah harus berhadapan sama sepupunya itu.

Grep!

"Jangan kasar sama dia!" bentak Ibunya. Tangannya dicekal dan dihempas begitu aja. "Dia masih kecil, Mair. Kamu harus ngerti!"

Tubuh Umji mendingin saat Ibunya yang berdiri di depannya milih buat meluk cewek dengan proporsi tubuh sempurna itu. Sambil ngucap maaf berkali-kali, wanita itu nyeka air mata sosok Ara yang masih aja nangis.

"Jadi Ibu ngebela dia?" Getir rasanya Umji bicara begitu ke Ibunya sendiri. "Dia yang salah, Bu, kenapa harus minta maaf?"

"Gausah drama. Cepetan beres-beres barangnya habis itu masak," balas Ibunya cepat tanpa noleh. "Sayurnya jangan dipedesin, Ara gak bisa makan."

Habis bicara begitu, Ibu dan Ara pergi dari sana. Ninggalin Umji dengan tenggorokan tercekat sampai gak bisa bicara apa-apa.

"S-sejak kapan sampai separah ini?" batinnya. Mendadak rasa ngilu menjalar di dadanya. Sesak. Seolah oksigen dikamarnya direnggut semua seiring kepergian dua orang itu. "Aku salah apa lagi?"

L O V E A D E Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang