"Gimana? Kamu udah baca artikel-"
BRAKKK!
"Lo bisa gak sehari aja jangan bertingkah bodoh, hah?!"
Nara tersentak. Reflek melangkah mundur saat barang-barang di atas meja ruang tengah berhamburan jatuh ke lantai saat sang tuan rumah ngamuk.
"S-Seonghwa-"
"Gue nutupin itu atas permintaan lo, sekarang lo yang buka semuanya demi makin terkenal? Lo tolol apa bego sih?"
"Seonghwa, s-stop-"
"JANGAN BERGERAK ATAU BICARA SAMPAI GUE SURUH LO BUKA MULUT."
DEG!
Langkah-langkah kaki yang sempat berbondong-bondong menuruni tangga pun reflek berhenti juga.
Donghan menelan ludah dengan gugup, berpandangan dengan Lino dan teman-temannya yang lain.
"Anj- ngamuk," batinnya. "Nyesel gue ke sini asli."
Bukan cuma dia yang berpikir kayak gitu. Semua temannya juga punya pikiran yang sama. Apalagi saat ngeliat lantai bawah yang berantakan. Para ART di sana saling berpandangan takut, gak berani mendekati keduanya yang ada di ruang tengah.
"Mama Sowon kemana?" tanya Donghyun berbisik ke yang lain.
"Tadi gue denger sih pergi sebentar," sahut Hongjoong, ikut berbisik. Masih tegang dengan suasana yang gak nyaman ini. "Kita jadi turun apa gimana ini?"
Semuanya gak ada yang ngejawab. Sama-sama gak tau mau ngapain.
"Sampai lo ngomong sembarangan lagi, gue bakal berhenti bicara sama lo," ucap Seonghwa lagi. "Kalo lo tau lo salah, gausah lo bangga-banggain lagi karya lo yang palsu itu!"
Nara meneguk ludahnya sendiri, takut sekaligus tersinggung. Air matanya sudah mengalir sejak Seonghwa ngebentak dia.
"Kenapa lo gak tunjukkan karya lo yang lain sih, Ra? Kenapa harus karya-karya Umji yang lo pamerin?" tanya cowok itu saat ngeliat temannya udah nangis. Nadanya seperti memohon, menyadarkan Nara dengan tindakan bodohnya. "Umji ada di sana sewaktu lo pamerin lukisan yang persis miliknya di acara sekolahnya sendiri. Lo punya otak, Nara, lo tau itu tindakan paling bodoh dari semua yang udah lo lakuin!"
"K-kenapa lo malah belain dia?!"
"KARENA DIA GAK SALAH APA-APA, NARA!"
PRANGG!
Kali ini vas bunga berukuran besar yang jadi korban luapan amarah Seonghwa. Benda itu jatuh dan pecahannya terlempar ke segala arah.
"Kenapa gue belain dia? Kenapa? Masih punya nyali lo nanya begitu ke gue?!" tanya Seonghwa lagi. "Cepat minta maaf ke dia. Minta mereka buat hapus artikel sampah itu!"
Nara menggeleng, tubuhnya gemetar karena takut. "Gamau. Gue gamau."
"Perlu gue seret lu ke depan Umji buat minta maaf?" Cowok itu mendekat ke Nara dengan wajah marah bercampur heran. "Kenapa lo gak mau? Lo takut harga diri lo yang gak seberapa itu rusak?"
Semua terkesiap denger ucapan Seonghwa yang begitu kasar. Nara bahkan kembali nangis dengan tangan terkepal.
Para ART perlahan mundur, gak berani menonton pertengkaran itu terang-terangan. Apalagi saat Seonghwa ngeliat mereka dan ngasih gestur minta mereka buat pergi. Dia cuma belum sadar aja ada teman-temannya juga di tangga.
"Lo harus tau seberapa susah gue buat ngelakuin ini! Gue buat itu semua demi satu orang! Demi lo, Seonghwa!" kata Nara terisak.
Seonghwa berdecak. "Gue gak minta lo, Nara. Sejak gue tau lo ngelakuin begini, gue gak pernah dukung lo. Jangan pakai alasan 'demi gue' buat membenarkan tindakan gila lo ini," katanya lagi. "Aneh. Lo itu udah besar, masih aja mikir kayak anak kecil."
KAMU SEDANG MEMBACA
L O V E A D E
Fanfiction[AU lokal, on going] "yang minum loveade ini, bakal fall in love sama gue, hehe." Umaira Jian disclaimer « ateez×viviz, seonghwa × umji « theboyz×viviz, juyeon × umji « harsh word ° 22 Dec, 2022 publish: 11 Aug, 2023 -
