38. "Dia punya riwayat depresi."

7 0 0
                                        

"Jadi sekarang gimana lo sama dia, Hwa?"

Pertanyaan itu muncul dari Yuto yang duduk di sebelahnya. Yang lainnya fokus sama pertandingan sepak bola yang terputar di layar televisi di depan mereka.

Ini adalah hari kelima setelah kejadian malam itu, dimana Seonghwa hampir kehilangan kontrol dirinya sendiri. Meski sampai sekarang dia gak tau pasti apa alasan sang doi dipukuli ibunya sendiri, tapi dia udah keburu janji untuk gak bocorin ini ke Ayah Umji ataupun orang lain. Umji bilang, ini salahnya dan dia belum mau cerita.

Awalnya Seonghwa gak mau banget ngikutin ucapan cewek itu, tapi Umji ngancam dia balik karena udah bersikap kurang ajar alias cium-cium dia malam itu , akhirnya Seonghwa nurut.

Bukannya langsung ngejawab, Seonghwa malah mengusak rambutnya kasar. "Lemah gue ama dia."

Yuto ketawa kecil. "Kalo bucin emang gitu, Pak," ledeknya yang malah diangguki sang teman. "Kalo Nara? Gimana lo sama dia?"

Seonghwa menghela nafas panjang. Wajahnya keliatan capek dan banyak pikiran.

"Lo udah liat video permintaan maafnya Nara?" tanya Yuto lagi. "Dia keliatan kacau banget, njir, bener-bener beda dari biasanya."

"Udah. Dia ngirim itu ke gue sebelum dia upload di akun Instagramnya," jawab Seonghwa. Nada bicaranya terdengar aneh. Kayak capek dan pasrah tapi bercampur marah juga.

"Lo bilang apa ke dia?"

"Gue bilang videonya jelek. Permintaan maafnya bertele-tele dan terlalu banyak alasan. Bego."

Mata Yuto melebar sedikit. "Anjir mulut lo."

Seonghwa mengusak rambutnya sendiri, lagi, sambil menghela nafas kasar. "Ya kenyataannya begitu. Terus-"

"Terus?"

"Umji gak ngerespon apa-apa, dia cuma reupload lukisan-lukisan lamanya. Rame. Orang-orang jadi banyak yang kepo sama dia."

"Ya bagus dong? Dia dapat atensi yang sepantasnya dia dapetin, kan?"

Seonghwa diam.

Ini yang bikin dia kepikiran dari beberapa hari yang lalu.

Hujatan yang diterima Nara semakin hari semakin parah, karena sejak awal cewek itu memang aktif ngebagiin kegiatan melukisnya. Pembawaannya yang ceria, ramah dan kontennya yang kreatif bikin dia dengan cepat dikenal banyak orang. Tapi justru itu yang bikin masalahnya semakin membesar karena kasus plagiatnya yang lama pun ikut muncul lagi.

Iya. Kasus yang bikin Umji waktu itu mutusin hiatus cukup lama.

"Gue kasian sama dia jadinya," katanya kemudian, agak pelan.

Yuto ngeliat dia dengan heran. "Barusan lo ngatain dia loh, anjir?"

"Iya, gue juga tau," balas Seonghwa agak kesal. "Tapi ini udah kelewatan."

Temannya itu ngangguk-ngangguk. Dia juga sempat ngebaca komentar-komentar buruk di akun sosmednya Nara, dan memang mulai berlebihan. Sampai ngatain fisik dan lain sebagainya. Padahal banyak komentar jahat yang udah dihapus, tapi tetap aja makin dihapus malah muncul komentar serupa lebih banyak.

Drrt ... drrtt..

"ANJIR!"

Padahal dering ponsel Seonghwa gak terlalu nyaring, cuma karena saat ponselnya itu bunyi, gak sengaja diliat sama Donghan. Cowok itu langsung tersentak kaget sambil nunjuk layar ponsel itu dengan dramatis.

"I-itu! Umji nelpon lo!"

Sebelum Donghan ngasih tau, sebenernya Seonghwa udah berdecak jengkel denger suaranya yang menurutnya lebay itu. Tapi begitu dia ngeliat di layar ponselnya, matanya melebar, jantungnya mendadak berdebar lebih cepat. Singkatnya, dia gugup.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

L O V E A D E Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang