27 - Bersinar Terang

20 4 2
                                        

Chapter - 27

Tidak ada kata yang berlanjut, karena aku lekas pergi dan meninggalkannya dengan ruang hampa.

Telingaku berdenging, bahkan saat riuh malam hari ini terasa memekakkan telinga. Aku sempat pulang untuk berganti baju dan kembali lagi Jam 8 malam.

Semakin ku pikirkan, otakku semakin kalut. Bukannya aku tak bersenang senang, aku juga terlihat happy-happy, terlihat tak ada masalah, tapi sejak Atlas naik ke atas panggung dengan gitar di tangannya, pikiranku langsung tertuju ke percakapanku dengan Inggrid siang tadi.

Semua orang riuh lagi dengan sorakan dan tepuk tangan, bahkan Amel mengguncang guncang tubuhku sambil menunjuk-nunjuk Atlas yang berada di tengah panggung. Memetik gitar, dan bersenandung merdu. Memamerkan bakat lain yang ada dalam dirinya.

"Nggak usah terlalu kentara," peringat Irma sambil menatap Amel tajam. Hal itu lekas membuatku menoleh ke arahnya, tapi sial! Hal itu malah membuatku bertatapan dengan cewek berambut blonde itu.

Tidak ada ekspresi di wajahnya, hanya datar, tetapi penuh arti. Sebuah hal yang membuatku merasa seperti sedang tertangkap basah. Atau dia semakin yakin karena tindakan temanku. Apa yang dia pikirkan?

Berusaha tak ambil pusing, aku kembali menatap ke depan.

"Bila nanti kita berdua telah bahagia lagi
Tiada lagi ruang tempat untuk
Ku terlatih mengerti kala sedih temani
Ku tak masalah asal kau di sini..."

Semua orang ikut bernyanyi, tetapi aku tidak. Aku hanya mencatat liriknya di dalam otakku. Aku tahu, Atlas bernyanyi seolah sedang bercerita pahit. Suaranya merdu, aku yakin banyak orang terpukau, terlebih fansnya yang kebetulan emang banyak.

Meski bukan artis, Atlas sudah seperti seleb di sekolah ini. Aku yakin setelah ini, berita tentangnya yang bernyanyi merdu nan galau tersebar ke seantero sekolah. Dan hal itu adalah sinar ultra yang mengubahnya semakin besar, tentunya aku semakin sulit bermimpi karena sinar Atlas yang semakin membuatnya besar justru membuatku tampak kecil dan menghilang di tengah keramaian.

Meski saat ku tulis ini aku tampak berlebihan memujanya, tapi jujur aku merasa begitu.

Dia terlalu bersinar terang.

Bahkan sampai Atlas menyelesaikan nyanyiannya. Aku termagu menatapnya dengan waktu yang cukup lama dan.... dia balik menatapku dengan senyum kecil.

Aku menunduk menghela nafas, saat ponselku berdenting dan nama Atlas lah yang muncul di layar, aku segera mengalihkan pandanganku.

"Lo di notice, ya, barusan?" Kata Amel heboh. Aku hanya menggeleng tak mengerti, lantas melirik lagi ke arah poselku yang berdenting.

Atlas
Kata ibu gue, bunda lo nitipin lo balik sama gue.
Tapi nanti lo ikut gue bentar ya. Ada urusan soalnya.

"Wow, jalan lo buat deket sama dia semakin kebuka lebar Lun," celetuk Irma tiba-tiba.

"Kalau jodoh emang nggak kemana ya," sahut Amel ikut girang. Tetapi tatapanku tak berubah, malah jantungku rasanya sakit seperti ditusuk duri. Rasa sadar diriku tak pernah hilang karena quotes twitter yang terkenal itu. Bunyinya :

Kamu mungkin bisa bersaing dengan semua orang yang menyukainya, tetapi ketika itu dengan orang yang dia sukai, kamu bisa berbuat apa?

Terlalu realistis, dan aku benci.

Luna
Oke, nanti gue tunggu dmn?

Atlas
Di gerbang aja

Luna
Siip

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Silent LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang