Hallo para pembaca semua. Saya hadir kembali dengan membawa beberapa episode ekstra. Sebagai catatan, segala adegan yang tergambarkan dalam episode ini murni fiksi. Tidak ada satupun dalam sejarah bahwa kejadian ini terjadi. Dan timeline pada kisah diatas, dibuat secara acak. Ada yang merupakan kelanjutan dan ada yang merupakan kilas balik.
Saya harap pembaca menikmatinya dan bisa memberikan komentar yang baik, dan jika ada waktu luang, insyaallah akan saya lanjutkan beberapa episode ekstranya.
Selamat membaca.
Terima kasih
**********
Syarif Hidayatullah
Gerakan gadis itu semakin lincah dan gesit. Walau dengan mata tertututp, gadis itu masih tetap anggun memainkan pedang kayu dihadapannya.
Ia berhenti sejenak, mengatur nafasnya sembari mendengar langkah tapak kaki lawannya. Seorang pria berbaju hitam menyerang dari belakang. Ia segera berputar dan dengan satu gerakannya, pedang pria itu jatuh.
"Jika ingin menyerang dari belakang, sebaiknya jangan bersuara!" nasihatnya sembari menodongkan pedang kayu itu dihadapan lawannya.
Gadis itu tiba tiba membungkuk. Sebuah panah melesat diatas punggungnya. Ia dapat mendengar tarikan busur yang dihempaskan dibalik tubuhnya.
Dengan sigap, ia menangkis serangan panah yang bertubi tubi. Nafasnya mulai memburu. Ia kelelahan.
"Kau kehabisan panahmu, Nyimas." ucapnya selepas menangkap panah terakhir dengan tangannya. Ia pun membuka penutup matanya.
Sepuluh orang prajurit tergeletak lemas dengan nafas yang masih memburu. Gadis pemanah itu turun dari tempatnya dan segera memeluk gadis hebat tadi.
"Kau hebat, Nyimas!" ucap gadis pemanah itu memuji sang pendekar.
"Kemampuan memanahmu juga semakin hebat Nyimas Rara." balas gadis pendekar itu.
"Aku senang bertemu denganmu lagi. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik seperti yang kau lihat. Semakin cantik dan semakin hebat." ucapnya dengan bercanda. Keduanya pun tertawa bersama.
"Nyimas, sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu? Dan ada hal apa kau kembali ke Padjajaran?" tanya gadis itu.
"Alhamdulillah kabarku baik. Aku sedang mengunjungi ayahanda Prabu, Ibunda Kentring Manik dan juga yang lainnya."
"Oh iya, kenalkan. Ini putraku. Syarif Hidayatullah."
Mata gadis itu berbinar. Ia segera membungkukkan tubuhnya untuk berkenalan dengan anak kecil yang menggemaskan itu.
"Putraku, kenalkan ini bibimu. Nyimas Lilis Kumala Dewi."
Syarif Hidayatullah mengulurkan tangan mungilnya dan ia langsung saja mencium tangan gadis itu membuat Nyimas Lilis semakin gemas.
"Nyimas, putramu sangat menggemaskan sekali..." ucapnya sembari memeluk anak itu.
"Bagaimana jika kita berbincang dikamarku, Nyimas? Aku ingin mendengar cerita menarik darimu selama kita tak bertemu." Ajak Nyimas Rara.
Nyimas Lilis pun mengangguk setuju. Ia segera menggendong Syarif Hidayatullah untuk ia ajak bersama mereka.
***
"Kuucapkan selamat atas penobatanmu sebagai calon ratu penerus tahta Japura, Nyimas." ucap Nyimas Rara sembari menyodorkan sebuah kotak kayu kecil.
Nyimas Lilis menerima kotak itu dan membukanya. Serbuk wewangian. Ia tersenyum sebagai balasan terima kasih atas hadiah yang diterimanya.
"Aku menyukainya. Terima kasih, Nyimas."
KAMU SEDANG MEMBACA
PRABU SILIWANGI RAJA PADJAJARAN
Historical FictionPrabu Siliwangi adalah seorang raja legendaris yang amat terkenal di wilayah Nusantara terutama di tanah Jawa Barat. Ia adalah seorang Raja besar yang memimpin kerajaan Padjajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Raja yang telah memimpin dan menyatukan...
