PENJAGA

1.5K 67 6
                                        

PENJAGA

Setelah berpamitan dengan suami dan tiga madunya, Nyimas Kentring Manik pulang dikawal oleh beberapa punggawa yang dikepalai oleh punggawa paling berani. Maung Bodas. Prabu Siliwangi mempercayakan keselamatan istri, calon bayinya dan prajuritnya dalam perlindungan sahabatnya itu.

Dengan berat hati ia harus berpisah dari istri barunya dan juga calon bayinya. Ia tak punya pilihan lain, ayah mertuanya yang sangat ia hormati sakit lumpuh dan minta dirawat Putri semata wayangnya. Ia juga tak bisa meninggalkan Galuh Pakuan dalam waktu dekat atau memboyong seluruh keluarganya ke Sunda Pura karena berbagai alasan. Terutama karena istri tercintanya sudah bulannya melahirkan.

"Maung Bodas, aku mempercayakan padamu keselamatan Dinda ratu Kentring Manik dan juga calon bayiku. Dan mulai hari ini kau kuangkat sebagai Adipati Sunda Pura yang baru. Ku harap kau akan menjadi Adipati yang adil dan bijaksana." Titah Prabu sebelum menyerahkan sebuah kujang tanda kepemimpinan pada Maung Bodas yang sedari tadi berlutut dihadapannya.

"Hamba siap menjalankan tugas Gusti Prabu." Jawab Maung Bodas tegas.

Setelah menerima amanat dari sang Prabu, Maung Bodas melanjutkan perjalanan. Gusti Prabu dan kedua anaknya hanya mengantar rombongan Adipati baru itu sampai perbatasan dalam kerajaan Galuh.

Prabu mengajak kedua anaknya pulang setelah rombongan tidak lagi terlihat. Mau bagaimana lagi, Nyimas Subang Larang hanya tinggal menghitung hari untuk melahirkan sedangkan Aci Putih tubuhnya sangat lemah tidak seperti kedua istrinya. Ia telah berjanji akan mengunjungi istri mudanya setiap pertengahan bulan selama dua minggu.

Ditengah perjalanannya Prabu melihat seorang anak laki laki dan adik perempuannya berlari terengah-engah kearahnya. Keduanya meminta perlindungan dibalik punggung sang Prabu.

"Paman, ku mohon tolong lindungi aku dan adik perempuanku..." Ucap bocah itu ketakutan. Tubuhnya gemetaran mencengkram sisa baju Prabu. Begitu juga adiknya.

"Hei bocah sialan! Kemari kalian! Beraninya kalian lari dari tempatku!" Seorang pria bertampang sangar memegang cambuk memaki dua anak itu. Prabu terheran heran dengan pria itu, apa yang ingin ia lakukan pada dua anak itu dengan cambuk dalam genggamannya.

"Ki sanak, ada apa ini? Mengapa kau memarahi kedua anak ini?" Tanya Prabu baik baik.

"Kau tidak perlu ikut campur Ki sanak! Mereka berdua ini adalah budakku! Mereka telah dijual untuk menjadi budakku! Ha-ha-ha" jawab pria itu sok berkuasa. Ia tak tahu siapa yang rajanya disini.

"Bohong!" Bantah si anak lelaki itu dari balik tubuh Prabu.

"Kurang ajar!" Pria itu marah dan memecutkan cambuknya ketanah secara asal membuat Nyimas Rara ikut ketakutan. Nyimas Rara memeluk erat lengan bawah ayahnya dan menatap ragu pada pria kasar. Sementara Raden berusaha menenangkan ketiganya.

"Maaf Ki sanak, bisakah kau jelaskan secara baik baik apa maksudnya?!" Nego Prabu.

"Kembalikan kedua bocah ini padaku karena mereka adalah budakku yang melarikan diri saat bekerja. Mereka sudah dijual kepadaku oleh orang tua mereka untuk bekerja sebagai budakku."

"Bohong!" Ucap anak perempuan itu.

"Budak sialan! Awas kalian! Aku akan mencambuk kalian nanti!" Ancam pria itu.

"Paman, dia berbohong. Mereka merampok desa kami, membunuh kedua orang tua kami, merampas harta kami dan menculik anak anak desa untuk di pekerjakan. Kami disuruh bekerja banyak oleh Paman itu dan kami jarang dikasih makan sehingga aku dan adikku melarikan diri." Adu anak lelaki itu merasa sedih. Jika dilihat dari apa yang terjadi dan dari baju kedua anak itu sepertinya memang keduanya adalah anak anak yang di perbudakan.

"Beraninya kau!" Pria tadi hampir saja memecut sang anak tapi untungnya Prabu sigap menangkap ujung cambuk itu dan menariknya kuat hingga pria itu terjungkal ketanah.

"Raden, lindungi mereka dan adikmu!" Bisik Prabu memberi isyarat pada putranya. Raden segera menarik mundur ketiganya. Setelah dirasa aman, Prabu segera memukul mundur pria sangar itu dengan pukulannya.

Pria itu terkejut mendapat pukulan yang dirasa sebagai tantangan untuknya.

"Aku sudah memperingatkan dirimu untuk tidak ikut campur tapi sepertinya kau sudah rela kedua anakmu juga menjadi budak. Ha-ha-ha... Baiklah aku akan meladenimu!" Tantang pria itu. Pria itu mencoba menyerang Prabu tapi Prabu berhasil mengelak dan membalasnya.

Dari sudut bibir sang pria keluar darah segar akibat pukulan keras yang Prabu berikan. Sedangkan Prabu belum terluka sedikit pun. Pria itu kesal dan mengeluarkan kujang yang ada di pinggangnya. Prabu lebih berjaga jaga dan mengeluarkan sebuah pedang yang tak terlalu panjang dari belakang punggungnya. Keduanya kini bertarung saling menggunakan senjata.

Belum tumbang satu penjahat dihadapannya ternyata teman pria itu datang dan langsung mengeroyok Prabu berdua. Raden yang merasa pertarungan ayahnya tidak seimbang meminta anak lelaki tadi menggantikannya untuk menjaga adiknya karena ia ingin membantu ayahandanya.

Raden masuk kedalam pergulatan melawan kedua pria itu. Ia mengeluarkan belati panjang hadiah kakeknya untuk melawan dua penjahat berkujang itu. Pertarungan sangat sengit. Belum ada yang dilumpuhkan. Walaupun Raden cukup mahir dalam bertarung tapi Prabu tak melepaskan pengawasannya pada putranya. Ia bertarung dan juga diam diam melindungi Raden. Konsentrasinya terpecah hingga salah satu dari mereka berhasil melukai lengan kiri Prabu. Raden terkejut hingga ia lengah dan disandera oleh kedua pria itu.

"Ayahanda..." Teriak Raden yang meronta ronta karena lehernya sudah ditawan oleh salah satu lengan pria itu dan digunakan kujang dekat lehernya.

"Jika kau ingin putramu selamat, serahkan kedua anak itu dan bayarkan 100 kepeng uang sebagai tebusan anak ini!" Ancam pria itu. Raden bersiap ingin menyerangnya tetapi pria licik itu mengetatkan lengannya dan kujang itu didekatkan ke mata Raden.

"Ayahanda..." Panggil Raden memelas.

"Kau berani maju, anakmu akan kehilangan matanya! Ha-ha-ha" ancam pria licik itu.

Settttt

Sebuah anak panah melesat tepat di perut penjahat dengan kujang itu. Dan sebuah anak panah kembali melesat tepat di mata kiri penjahat lain membuat keduanya merintih kesakitan dan dengan sendirinya sanderaan mereka pada Raden lepas.

"Tidak akan ku biarkan kalian melukai Raka Walangsungsang!" Ancam seorang gadis kecil yang tak lain Nyimas Rara Santang. Gadis itu juga yang telah melepaskan anak panah dari belakang punggungnya.

******

Untuk kelanjutan ceritanya ditunggu ya kira kira kedua penjahat perbudakan anak dan komplotannya bakal diapain sama Prabu. Ini cuma ekstra part aja buat rasa terima kasih author pada pembaca yang setia.

Terima kasih...

PRABU SILIWANGI RAJA PADJAJARANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang