“Ra,” Aretta menyikut lengan Laura yang terlihat melamun. “Kenapa? Liatin siapa sih, Arghi?” tanyanya, karena pandangan Laura terarah ke sana.
“Em? Nggak!” sahut Laura mengerjap dan menggelengkan kepala.
“Terus kenapa, ada masalah?”
Laura menggeleng lagi.
“Ya udah, mending cepet dikerjain tuh soal, keburu waktunya abis entar. Satu soal aja anak sama cucunya ada lima.” keluh Aretta mendengus malas.
Laura mengangguk sembari mulai memusatkan perhatian pada soal matematika di atas mejanya.
Meski tidak terima dijadikan bahan taruhan, namun Laura juga menyimpan rasa penasaran. Laura tahu tidak ada yang bisa diharapkan dari omongan playboy seperti Ellzio, tapi mengingat kepercayaan diri Ellzio saat menerima taruhan dari Amara kemarin, Laura tertarik ingin melihat bukti keseriusan cowok itu.
Namun ... Laura melirik bangku Ellzio lagi sebelum tersenyum tipis.
Jangankan bisa menilai bagaimana keseriusan atau usaha Ellzio saat menjawab soal, cowok itu tidak ada masuk kelas bahkan setelah Amara mengumpulkan lembar jawabannya ke depan.
Seandainya Ellzio masuk dan bersaing dengan Amara sekalipun, cowok itu pasti kalah. Nilai Amara yang merupakan siswi terpintar di kelas sudah pasti akan menjadi yang paling besar. Begitupun dengan Ellzio si siswa paling malas dan bengal sudah pasti angka nilainya akan menjadi yang terendah seperti biasanya.
Siswa paling malas belajar taruhan sama siswi paling pintar memang aneh. Sudah sangat bisa ditebak siapa yang akan menang bukan? Laura tahu itu. Ellzio akan kalah, namun dia hanya ingin melihat usaha cowok itu.
Tapi realita membuktikan kalau Ellzio hanya senang memainkan perasaan perempuan.
“Tuh, kan, Ra. Apa gue bilang, gue pasti menang,” ucap Amara berbalik balik badan ke belakang, menatap Laura dengan senyuman bangga tepat setelah Laura mengumpulkan lembar jawabannya ke depan.
“Padahal gue ngajak dia taruhan supaya ada usaha belajar, tapi tuh anak emang bener-bener pemalas banget,” sambung Amara mendumel sebelum akhirnya kembali tersenyum senang. “Tapi nggak apa-apa deh, malah jadi bagus banget gue bisa bebas nyuruh atau minta apapun sama Zio selama seminggu ini. Lo kalo punya ide atau request-an buat ngerjain si Zio juga bisa langsung bilang ke gue ya, Ra. Kita kerjain dia sama-sama.”
Laura hanya mengangguk-angguk dan tersenyum seakan turut senang. Dia kebingungan memberi komentar.
★★★
“Bawain tas gue!”
Amara mengulurkan tas sekolahnya pada seorang cowok yang bersandar santai didinding depan kelas. Satu tangannya sibuk bermain ponsel sementara tangan lainnya tersimpan nyaman di saku celana abu-abunya. Yang memang, cowok itu berdiri di sana untuk menunggu Amara.
Karena Amara yang memintanya dijemput ke kelas melalui chat.
Namun, mendapat perintah seperti itu cowok dengan seragam putih abu-abu itu mengernyit.
“Lo nggak lupa kalo lo kalah, kan? Dan lo harus nurutin semua perintah gue selama seminggu ini,” terang Amara sembari menggerakkan tasnya, memberi kode agar Ellzio segera meraihnya. “Bawain!”
Ellzio melirik cewek berjaket denim di samping Amara——Laura yang segera membuang muka saat ditatapnya. Dia menyeringai tipis sebelum menyisir rambut dengan jemari kebelakang kemudian meraih tas Amara dengan malas.
Meskipun berseragam putih abu, namun Ellzio sama sekali tidak ada masuk kelas. Entah berangkat jam berapa cowok itu dari rumah dan apa saja yang dilakukannya di warung belakang sekolah sampai lebih memilih menghabiskan waktu di sana alih-alih mengikuti ulangan matematika dan pelajaran lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT
Jugendliteratur⚠️17+ Arcellzio Bagja Sagara, dinobatkan sebagai cowok ganteng paling meresahkan sepanjang sejarah siswa baru SMA Cakrawala. Siswa pindahan dari Bandung yang masuk sekolah semaunya dan membuat masalah adalah hobinya. Selain menjadi incaran guru BK...
