Inferiority Complex

506 12 4
                                        

Maaf, bukan update.


Dinda :

‘Ga, kamu pernah berjanji, seandainya diusia dewasa aku belum menikah, atau aku nggak punya pria yang bisa aku nikahi, kamu bilang, kamu yang akan menikahi ku. Apa janji itu masih ... berlaku?’

Aretta menatap deretan kata yang terpampang dilayar ponsel Auriga, suaminya. Pesan masuk dari kontak bernamakan ... Dinda?

Sejak kapan ada nama Dinda dikontak Mas Auriga?

Dinda ...

Dia ... perempuan di masa lalu suamiku?

Aretta membatin dengan masih menatap pesan itu. Lekat, nyaris tanpa kedip, dan membeku di tempat. Pesan yang membahas janji masa lalu yang disampaikan perempuan bernama Dinda itu mengumpulkan banyak tanya di kepala Aretta.

Pria setenang Auriga yang selalu menatapnya penuh cinta, pernah menjanjikan pernikahan pada perempuan lain selain dirinya?

“Sayang ...”

Aretta tersentak dan refleks meletakan ponsel suaminya yang sedang tersambung ke pengisi daya baterai. Dia kemudian menatap pria yang baru memasuki kamar. Auriga, dengan kemeja yang digulung sampai lengan dan dasi yang sudah tidak terpasang. Pria itu menghampiri Aretta dengan senyum manis, hangat, dan penuh cinta khasnya yang membuat Aretta juga jatuh cinta setiap harinya.

Namun kali ini, senyum tampan yang Auriga sunggingkan tidak menular. Tidak membuat bibir Aretta turut tersenyum membalasnya. Aretta justru mematung ... linglung.

“Ma-mandi dulu, Mas.” Aretta memaksakan senyum—yang lebih terlihat seperti ringisan sembari mendorong pelan Auriga yang mengurungnya dengan menumpukan kedua tangan di atas meja riasnya. Di masing-masing sisi pinggang Aretta.

Auriga kembali tersenyum. Lalu menurut setelah mencuri kecupan lembut di pipi kiri Aretta.

Pria berpunggung tegap dan berbahu lebar itu menjauh dari Aretta sembari melepas kancing kemejanya. Sementara Aretta menoleh pada ponsel Auriga yang kembali menerima notifikasi pesan masuk.

Dinda :

Lupakan dulu yang tadi.

Aku mau tanya dan butuh jawaban kamu secara langsung nanti.

Makasih ya, Ga. Buat semuanya. Terutama untuk malam kemarin.

Selamat malam dan istirahat, Ga🤍

“Untuk ... malam kemarin?” Aretta membatin.

Kemarin adalah hari ulangtahunnya. Saat Auriga bilang akan pulang terlambat dengan alasan lembur, Aretta sempat percaya diri sekali itu hanya akal-akalan Auriga saja untuk memberinya kejutan. Auriga tidak pernah mengecewakannya di hari spesial. Bahkan, hari ulangtahun Aretta yang biasanya akan terlewat begitu saja, menjadi terkesan setelah dia bertemu Auriga yang mengingat dan merayakannya.

Namun malam kemarin, Auriga benar-benar pulang telat dengan gurat lelah dan kemeja yang sudah terlihat kusut. Tetapi meski begitu, pria itu tetap menunjukkan senyum manis dan bersemangat dengan membawa kue ulangtahun, buket bunga, kotak perhiasan berisi kalung, dan kotak kecil yang di dalamnya hanya selembar kertas kosong. Auriga bilang kertas itu bisa Aretta isi dengan satu permintaan yang akan Auriga kabulkan.

Aretta senang, bahagia, dan merasa dicintai dengan luar biasa. Dia selalu ingin menangis haru saat mengingat dia yang tidak dihargai keberadaannya menjadi sosok beruntung yang selalu dirayakan oleh Auriga.

Dan Aretta kira, raut lelah di wajah Auriga karena suaminya terlalu keras bekerja. Seperti keluhannya beberapa waktu terakhir yang mengatakan ada masalah dikantor nya. Namun ternyata, lelah yang suaminya dapat karena pria itu habis bertemu dan lebih dulu membahagiakan ... perempuan lain?

Sejak kapan suaminya berhubungan dengan perempuan bernama Dinda?

Sejak kapan suaminya menyembunyikan perempuan lain dari nya?

Dan ... Aretta mengira-ngira. Sejak kapan kebohongan suaminya dimulai?

★★★

Haiii, aku datang membawa cerita baruuu. Cerita drama rumah tangga pertamaku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PERFECTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang