“Dasi, kaos kaki, buku pelajaran ... ”
Laura bergumam dengan satu tangan menempelkan ponsel ditelinga sembari sibuk mondar mandir menyiapkan keperluan sekolahnya.
“Baru Mama tinggal bentar aja kamu udah kelabakan. Gimana kalau Mama tinggal lama?” suara Mama mengudara dari ponselnya.
“Aku cuma telat bangun aja, Ma.”
“Karena nggak ada Mama yang bangunin. Dan, kenapa nggak nyiapin semuanya dari semalam? Kemarin tanggal merah, seharian ngapain aja, Kak?” omel Mama.
Gerak Laura yang menggantikan buku pelajaran di tasnya terhenti. Dia menggigit ujung bibirnya. Tidak mungkin jujur seharian dia bersama Ellzio bahkan membawa cowok itu ke rumah dan mengakui apa saja yang mereka lakukan.
“Aku ... lupa.”
“Kebiasaan. Lain kali, siapkan dari malam. Biar paginya tinggal berangkat.”
“Em.”
“Jangan lupa sarapan.”
“Iya.”
“Jangan telat makan.”
“Iya.”
“Banyak-banyak makan sayur sama buah. Jangan jajan sembarangan apalagi keseringan makan makanan instan. Jangan pulang malam dan begadang. Pastikan pintu udah terkunci kalau mau tidur. Cek kotak P3K juga, pastikan stok obat tetep ada. Jaga diri, jaga kesehatan ...”
“Jangan malas minum air putih juga.” tambah suara Papa.
Laura menghela napas mendengar nasehat panjang Mama. “Mama masih lama di sana?” tanyanya sembari memasangkan tas dipunggung.
“Besok atau lusa juga pulang.”
Panggilan suara kemudian beralih ke panggilan video. Laura mendengkus melihat wajah cengengesan Papa dilayar ponselnya.
“Apa sih, Pa ...” rengeknya. “Aku mau kesiangan ini.”
“Itu kan kamu,” ledek Papa. “Liat nih, Papa sama Cia mah lagi santai. Iya, kan, Sayang?” pamernya yang masih rebahan dan bergelung dibawah selimut sembari mendusel dan menciumi Cia. “Kasihan ya, kakak kamu. Diajak liburan malah nggak mau.”
Laura berdecak. “Iya, pulang-pulang Papa juga nanti kasian, langsung sibuk lemburan.” balasnya meledek. “Udah dulu, aku mau berangkat.”
“Bye-bye adek,” Laura tersenyum dan melambaikan tangan pada Cia sebelum kemudian merengut pada Papa. “Aku berangkat dulu.”
“Ya sudah, hati-hati. Papa, Cia sama Mama mau lanjut tidur lagi. Jangan iri, jangan cengeng, jangan nangis.”
Sambungan terputus. Laura segera keluar dari kamar mendengar suara klakson mobil Ellzio. Sembari menuruni anak tangga, Laura kembali mengecek ponselnya yang menerima notifikasi pop up WhatsApp.
Amara
Gue mau ngomong sama lo.
★★★
“Mara ... ”
Laura memanggil lirih Amara yang membelakanginya. Setelah sekian lama Amara menjauhinya, sekarang temannya itu yang memintanya lebih dulu untuk mengobrol berdua. Jam istirahat ini Laura menuruti kemauan Amara datang ke roof top.
Amara berbalik dan mendekatinya.
“Maaf,” ucap Laura dengan canggung. Meminta maaf untuk kesekian kalinya. “Maaf buat semua yang terjadi, Mara.”
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT
Teen Fiction⚠️17+ Arcellzio Bagja Sagara, dinobatkan sebagai cowok ganteng paling meresahkan sepanjang sejarah siswa baru SMA Cakrawala. Siswa pindahan dari Bandung yang masuk sekolah semaunya dan membuat masalah adalah hobinya. Selain menjadi incaran guru BK...
