18. Hubungan Main-Main

8.9K 461 28
                                        

Laura menarik kursi untuk dia duduki. Di sampingnya, Amara juga melakukan hal yang sama. Nasi goreng dan telur ceplok buatan mama sudah tersaji di meja makan untuk mereka sarapan.

“Di habiskan.” ucap mama yang menuangkan air ke dalam gelas kemudian meletakkannya di sisi piring Laura dan Amara.

Amara tersenyum dan mengangguk. “Makasih, Tan.”

Sementara Laura merengut, “Ini kebanyakan, Ma,” protesnya. Pagi ini Laura merasa sedikit badmood.

“Selamat pagi,” dibelakangnya, papa yang baru turun dengan stelan jas kantornya sembari menggendong Cia yang baru bangun mengecup pucuk kepala Laura lalu mengacak rambut Amara.

“Pagi Om,” balas Amara ramah.

Cia berpindah tangan ke Mama kemudian keempatnya memulai sarapan pagi mereka.

“Papa dengar dari Mama, dua hari kemarin anak Papa yang cantik diantar pulang sama cowok yang berbeda?” tanya papa menggoda.

Laura berhenti mengunyah, membuat pipinya mengembung sebelah. Dia merajuk menatap Mama sebelum bibirnya bergerak untuk mengeluarkan suara. Namun, terdahului Amara yang duduk disebelahnya.

“Iya, Om,” sahut Amara ikut tersenyum menggoda sembari melirik Laura. “Yang satu namanya Erzhan, satu lagi namanya Zio, Ellzio. Salah satu dari mereka man—”

“Temen, Pa. Dua-duanya temen aku,” Laura menyenggol sikut Amara dengan memberinya lirikan tidak suka—tanpa sadar dan direncakan. “Erzhan temen sekelas aku tahun lalu dan Zio ... temen yang kebetulan sekarang sekelas sama aku,”

Nggak. Nggak. Nggak. Ucapan Amara tadi sudah hampir tepat. Salah satu dari mereka adalah mantannya.

Erzhan mantanku dan Ellzio ... pacarku.

“Lagian kan, aku pulang sama mereka juga gara-gara Papa nggak bisa jemput.” sambung Laura melempar balik umpan.

Papa terkekeh. “Iya, Papa lembur jadi nggak bisa jemput.”

“Tapi Kak, cowok yang nganter kamu kemarin lebih ganteng, agak-agak mirip siapa gitu, Pa,” Mama ikut menyahut.

Ellzio maupun Erzhan tidak ada yang mampir, Mama hanya melihatnya dari jauh.

“Iya, ganteng, Tan. Tapi tengil banget.” ucap Amara.

“Oh, ya?” Mama tertawa. “Cowok ganteng rata-rata emang tingkahnya rada-rada.”

“Kecuali Papa.” ucap Laura yang melihat papa dengan pedenya memainkan rambut, yang kemudian membuat papa merajuk.

“Kalo Papa nggak ganteng, kamu sama Cia nggak bakal ada. Mama kamu nggak bakal mau sama Papa. Iya, nggak, Ma?” ucap Papa percaya diri dan diakhiri dengan meminta validasi dari mama.

Mama hanya menghela napas, mengiyakan saja. Sebelum akhirnya menatap anak pertamanya, Laura. “Lain kali kalo dianter pulang sama temen, ajak mampir dulu, Kak.”

“Sama kalo lagi deket sama cowok, kenalin dulu ke Papa.” tambah Papa. “Papa ... nggak akan kaget, kalo nanti dengar kamu direbutin cowok.”

Mungkin lebih tepatnya aku yang ngerebutin cowok, Pa.

★★★

Laura dan Amara memasuki gerbang setelah turun dari mobil diantar papa. Kebaikan kedua orang tua Laura tidak sekadar mengizinkan tinggal, memberi makan dan mengantar sekolah, namun sampai memberi Amara uang jajan atau mungkin bisa dibelikan sesuatu lain yang lebih dibutuhkan. Laura yang tahu dan melihatnya sendiri, tidak merasa iri, marah ataupun benci. Dia justru menjadi pihak yang meminta Amara menerimanya saat cewek itu sempat menolak karena merasa tidak enak.

PERFECTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang