“Maaa ...”
“Di dapur, kak,”
Laura yang baru pulang sekolah membawa kedua kakinya ketempat suara Mama berasal. Kemudian memeluk Mama yang sedang memotong semangka dari belakang.
“Kenapa, kak?” tanya Liora, sang Mama, saat mendengar anak sulungnya menghela napas panjang.
“Nggak,” Laura menggelengkan kepala dipunggung Mama. “Cia mana?”
Lycia, adik kecilnya.
“Sama Sasya, di kamar kamu kayaknya.”
“Sasya ke sini?” tanya Laura berbinar antusias. Sasya, sepupunya. Remaja yang seumuran dengan Laura.
“Iya. Gih, ganti baju dulu sana. Abis itu ajak Sasya makan.”
Laura mengecup pipi Mama sebelum meraih satu potong semangka yang Mama potong dadu. Kemudian berteriak memanggil nama Sasya sembari menaiki anak tangga.
“Kok lo nggak bilang kalo mau ke sini?” Begitu sampai di kamarnya, Laura memeluk Sasya yang duduk membelakanginya.
“Nunggu lo yang ke Bandung kelamaan soalnya,” Sasya menepuk tangan Laura yang membuat lehernya sesak, memeluknya terlalu erat. “Kangen Cia juga.” sambung Sasya sembari mengelus rambut Cia yang sibuk dengan mainannya.
“Nginep, kan?”
“Em,” gumam Sasya. “Udah lama banget kita nggak main berdua.”
Laura mengangguk, menyetujui pernyataan Sasya sembari melepas dekapannya. Berbeda sekolah dan kota dengan sepupu kesayangannya adalah salah satu hal yang mengecewakan untuk Laura. Seandainya empat tahun lalu Sasya tidak pindah, kemungkinan mereka akan lebih sering menghabiskan waktu berdua.
“Diantar Razka?” tanya Laura, menyebut nama pacar Sasya yang langsung disahuti dengan gumaman oleh sepupunya itu.
Laura melepas tas sekolahnya sebelum membanting diri ke atas kasur. Kemudian mengganggu Cia yang anteng dengan boneka Barbie nya.
“Sombong banget sih, Baby C.” Laura mencubit gemas pipi cabi adik perempuannya. “Main sama aunty Sasya, em?” sambungnya sebelum menciumi Cia sampai gadis kecil itu merasa risih dan terganggu. Sampai akhirnya Laura berhasil membuatnya menangis.
“MAMAAA ... CIA NANGIS!” adu Laura berteriak.
“Bawa sini, Sayang. Sekalian kalian juga cepet makan.” balas Mama yang terdengar samar dari bawah.
“Ra, ih!” Sasya menggeplak kesal lengan Laura, lalu menggendong Lycia. “Sini-sini, kita ke Mama, yuk!”
★★★
“El?”
Ponsel yang sedang Laura mainkan reflek dia sembunyikan saat Sasya kembali dan menciduknya. Laura merubah posisinya dari tengkurap menjadi duduk sembari menoleh dengan sedikit gugup pada Sasya yang membawa sepiring semangka yang tadi Mama potong dadu.
“El, kan?”
“E-el?”
“Em, Ellzio?”
“Ellzi—a-ah,” Laura menelan saliva sebelum akhirnya mengangguk gugup sembari menggaruk tengkuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT
Novela Juvenil⚠️17+ Arcellzio Bagja Sagara, dinobatkan sebagai cowok ganteng paling meresahkan sepanjang sejarah siswa baru SMA Cakrawala. Siswa pindahan dari Bandung yang masuk sekolah semaunya dan membuat masalah adalah hobinya. Selain menjadi incaran guru BK...
