35. Salah Membenci Papa

3.4K 227 44
                                        


Laura menuruni tangga sembari menggendong dan mengajak ngobrol Licya. Sebelum kemudian dia mendengkus saat melihat kedua orangtuanya yang sibuk di dapur. Pantas mereka tidak mendengar suara tangis Cia yang baru bangun tidur.

"Tuh, Cia, lihat, kelakuan Mama sama Papa kamu." gumamnya, menunjuk kedua orang tua mereka dengan tatapan menyipit geli.

Kesalahan papa yang kesekian kalinya menghilangkan kotak bekal yang dibawanya ke kantor, membuat mama mengomel semalam lalu setelahnya mendiamkan papa sampai pagi ini.

Papa yang bucin dan tidak bisa dijauhi lama-lama oleh mama, berusaha caper dengan menganggu mama yang sedang memasak sarapan di dapur. Papa terus bergerak mondar-mandir seperti mencari sesuatu. Mama yang gerah melihat papa sudah seperti setrikaan panas disekitarnya, akhirnya menyerah. Mama mendengkus dengan memegang spatula di tangan kanan dan berkacak pinggang dengan tangan kiri.

"Nyari apa sih, Pa?"

"Hm?" Papa yang sedang menimang dan memeriksa gelas dengan menutup sebelah matanya langsung menoleh dan tersenyum sumringah. "Nah, akhirnya ketemu."

"Apa?"

"Suara Mama yang hilang sejak semalam."

"Ck, apa sih, ih!" decak mama memukul lengan papa kemudian kembali fokus pada masakannya dengan bibir mengulum senyum.

"Bonus senyumnya juga," goda papa sembari memeluk mama dari belakang. "Boleh marah, tapi jangan lama-lama. Papa kangen."

Kelakuan dua orang dewasa itu membuat Laura menghela napas. Dia kemudian mengecup pipi Cia.

"Adek, mending ikut kakak ke sekolah aja, ya?"

Laura menarik kursi untuk dia duduki. Tidak lama setelahnya papa membantu mama membawa hasil masakannya untuk mereka sarapan ke atas meja makan.

"Anak papa udah pada bangun?" tanya papa sembari menjatuhi kecupan dipuncak kepala kedua anaknya. Sebelum akhirnya mengambil alih Licya dari Laura.

"Mama sama Papa jadi berangkat ke Bali?"

"Jadi," jawab mama. "Kamu yakin nggak mau ikut?"

Laura menggeleng. "Aku sekolah. Nggak lama lagi ujian kenaikan kelas. Sayang kalau harus izin."

Adik sepupu papa akan melangsungkan pernikahan yang kedua kalinya di Bali. Jadi, papa dan mama memesan tiket penerbangan untuk datang menghadiri. Dan mereka tidak akan langsung pulang setelah resepsi selesai. Rencananya akan menginap satu sampai dua hari lagi untuk liburan bersama keluarga besarnya yang lain.

"Mama buatin bekal buat Amara. Udah lama dia nggak ke sini. Kamu sama dia baik-baik aja, 'kan?" tanya mama setelah Laura menyelesaikan sarapan.

Laura menatap kotak bekal yang mama siapkan. Dia menghela napas panjang sebelum memaksa senyum dan mengangguk.

"Em," gumamnya sembari meraih kotak bekal berwarna merah muda. "Nanti aku kasih ke Amara."

★★★

"Ada kebenaran yang harus kamu tahu. Saya nggak bisa nahan diri lebih lama lagi."

"Kita perlu bicara, kamu perlu tahu semuanya."

Ellzio masih berseragam sekolah saat kedua kakinya saling bergerak maju untuk menghampiri meja dipojok cafe. Tempat yang di isi seorang guru yang tadi siang menyampaikan kalimat seolah-olah selama ini ada rahasia yang wanita itu simpan.

Bu Senna menatap jam dipergelangan tangan sebelum meraih tas dan akan beranjak. Namun, berakhir menetap setelah menyadari kehadiran Ellzio yang menduduki kursi didepannya. Dia menghela napas dalam-dalam, mengumpulkan kesabaran setelah menahan kesal menunggu Ellzio terlalu lama. Bahkan mengira Ellzio tidak akan datang.

PERFECTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang