27. Luka Pukulan

7.6K 428 25
                                        

“Amara di tolak, si Zio katanya beneran udah punya pacar.”

Laura yang merapihkan seragam dan penampilannya di depan kaca toilet bergumam menanggapi ucapan Aretta di sampingnya.

“Dari awal gue udah menduga, kalo Amara bakal dapet penolakan.” ucap Aretta lagi yang sedang mencuci tangan.

“Kenapa?” Laura menoleh tertarik.

“Udah keliatan, sejak awal Amara cuma jatuh cinta sendirian,” Aretta mematikan keran. “Zio mungkin emang terkesan baik pada Amara, tapi apa yang Zio lakukan nggak lebih dari selayaknya teman.”

“Gue kadang gereget, mau ngingetin biar dia sadar. Tapi ... ah, udah males duluan. Males berdebat sama sifat dia yang terlalu ke-geer-an. Bakal sia-sia juga nasehatin orang yang lagi jatuh cinta. Takutnya nanti malah gue dikira nggak mau ngedukung dia.” sambungnya sembari mencipratkan sisa air yang basah ditangan sebelum dilap ke rok abu-abunya. Kemudian, ikut merapihkan penampilannya di depan kaca.

“Tapi, Katya kayak menilai berbeda. Dia selalu setuju dan semangat buat ngedukung apapun yang mau dilakukan Amara.”

Sampai kadang, Laura merasa gagal menjadi teman saat melihat Katya yang selalu bersemangat menyetujui pendapat Amara. Sementara dia, cukup sering berselisih kecil mendebat pendapat cewek itu saat dia tidak setuju.

“Nah, itu dia, yang buat gue tambah males buat berdebat. Katya bakal belain Amara.”

Laura membenarkan posisi jepitan rambut yang dipakainya—yang sebenarnya tadi pagi mama akan mengepang dua kecil-kecil di bagian depan rambutnya, namun tidak sempat karena Cia keburu bangun dan menangis. Cewek itu kemudian menyisir poninya dengan jemari.

Setelah dirasa penampilannya cukup baik dan rapih, Laura menyandar pada wastafel menghadap Aretta. Berusaha terkesan santai, dia bertanya.

“Emm ... By the way, Ta. Soal Zio yang udah punya pacar, seandainya ... lo yang jadi ceweknya Zio, lo bakal marah sama Amara, nggak?”

“Nggak,” Aretta menggeleng santai.

“Buat sekedar ngebayangin aja gue nggak mau jadi pacar dari cowok modelan Zio.” sambungnya.

“Kenapa?” Laura mengernyit tidak terima. “Kan, Zio udah jadi cowok yang cukup sama satu cewek.” belanya.

Dia merasa sedikit tersindir karena cewek yang dimaksudnya adalah dirinya sendiri.

Dan Ellzio, bukan lagi cowok playboy yang sebelumnya, kelakuannya sering Aretta komentari dan kurang dia disukai.

“Ya ... nggak mau aja pokoknya. Kalo lo mau jadi pacarnya Zio mah, nggak apa-apa. Gue mah ogah.” balas Aretta lalu menarik tangan Laura untuk keluar dari toilet. “Udah, yuk, ah. Kantin, laper.”

“Issssh ... ” Laura membatu ditempatnya. Menolak beranjak karena belum puas. “Tapi, soal Mara yang bilang kalo dia bakal tetep ngejar Zio, menurut lo, gimana?”

Ra, lo kok jadi ngebet mencari dukungan buat posisi lo, sih?

Laura menghela napas dan menyindir dirinya sendiri yang mulai mencari dukungan dan pembenaran dari apa yang diam-diam dia lakukan.

“Amara jelas salah dan nggak tahu malu soal itu. Tapi, ya ... udahlah. Kata gue tadi, debat atau nasehatin Amara cuma bakal buang-buang energi. Dia tetep bakal ngelakuin apa yang dia yakini. Biarin aja, biar dia capek lalu sadar sendiri.”

Amara mungkin memang salah, tapi bukan berarti Laura berpuas diri merasa benar.

“Terus kalo lo jadi ceweknya Zio, kira-kira apa yang bakal lo lakukan?” Laura kembali bertanya.

PERFECTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang