Untuk Pertama Kali

777 36 4
                                        

"Happy Reading"

"Sama siapa?"

Bukannya menjawab, Gavin memilih untuk mengangkat bahunya dan melewatinya begitu saja. Dia memilih untuk duduk di tempat duduknya yang berada di belakang meja Stella.

Stella beralih menatap Rachel yang sudah fokus mengerjakan laporan, sudah jelas kalo anak itu fokus siapa pun tidak bisa mengganggunya.

"Lo mau kerjain laporan itu sekarang Chel?" Rachel mengangguk sebagai jawabannya, bahkan dia pun tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dengan berat hati Stella memutuskan untuk pergi ke ruang seni sendiri.

"Gua ke ruangan seni ya, kalo ada guru selanjutnya gua minta tolong izinin"

Rachel kembali mengangguk, dia benar-benar fokus saat ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi Stella memutuskan segera menuju ke ruangan seni karena dia juga penasaran siapa yang memanggilnya.

('∩。• ᵕ •。∩')

Sesampainya di depan ruangan seni, terlihat jelas dari celah pintu. Terlihat Bima yang duduk di kursi dan terdengar suara gadis di sana, mereka terdengar seperti sedang bercanda.

"Masa iya kak Bima cari gua si? Apa dia mau lanjutin masalah pas di kantin. Astaga gua harus apaaa!" Kecemasan menyelubungi Stella saat ini, dia sangat takut untuk masuk ke dalam dan memilih untuk kabur dari ruang seni itu. Namun niatnya gagal saat dia ingin melangkahkan kakinya pintu itu terbuka lebar.

Bukan Bima atau gadis itu yang membukanya. Melainkan Cakra, dia tidak tau kalau Cakra juga ada di sana. Berbeda dengan Cakra, dia sudah mengetahui keberadaan Stella dari jendela ruang seni dan berinisiatif untuk membuka pintu ruangan tersebut.

"Masuk"

Satu kata yang di lontarkan Cakra, terdengar dingin namun entah kenapa itu berhasil membuat Stella tidak bisa menolaknya. Dia segera masuk ke ruangan dan menghadap ke tiga orang tersebut.

"Aduh maaf ya bikin repot kamu, jadi to the point aja aku manggil kamu kesini buat minta tolong" ucap gadis itu, tentu Stella mengenalinya.

Gadis ramah itu bernama Diana Artemis, dia ketua kesenian yang merupakan kakak kelas Stella dan yang paling penting adalah Diana adalah pacar Bima.

Stella memberanikan diri menatap ke arah Diana, dengan senyuman sedikit di paksakan dia berusaha membuat dirinya tenang.

"Iya, mau minta tolong apa kak?" Diana tersenyum lalu memberikan selembar formulir kepada Stella.

"Aku minta tolong ke kamu, kamu kan ketua OSIS. Bisa bantu aku buat cari member buat music band? Karena besok aku bakal berangkat untuk mewakili lomba tari budaya antar sekolah, kurang lebih satu Minggu lombanya akan di adakan. So kamu bisa kan bantuin aku?"

Diana menjelaskan dengan panjang lebar namun di belakang Diana sangat terlihat jelas, Bima yang memberi kode untuk Stella mengiyakan permintaan Diana. Stella sedikit bingung karena ini bukan tanggung jawabnya namun di sisi lain dia tidak enak hati untuk menolaknya.

Stella menatap ke arah Cakra, dia merupakan wakil ketua kesenian. Stella bingung kenapa tidak Cakra saja, namun belum sempat Stella bicara Cakra lebih dulu bicara seakan tau isyarat dari Stella.

"Gua bakal ada urusan pribadi dua hari kedepan" Jawaban Cakra membuat Stella mengalihkan pandangannya ke arah Diana. Diana mengerti apa yang ada di pikiran Stella pun segera mendekat ke arah Stella dan mengusap lengan kanannya.

"Aku minta tolong ya, cuman buat pendaftaran dan terus sisanya nanti kami urus. Oh ya aku denger-denger kamu sama temen kamu itu hobi nyanyi ya dan kalian juga punya suara bagus. Aku harap kalian juga ikut berpartisipasi ya buat acara sekolah ini"

Dengan berat hati Stella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban permintaan Diana.

"Oke kak, gua bakal cari mulai dari besok. Itu aja kan?"

Bima bangkit dari duduknya lalu merangkul pundak Diana dan menatap ke arah Stella.

"Gua mau temen lo minta maaf atas sikap lancang dia tadi" Mendengar ucapan dari sang pacar, Diana memukul pelan bahu Bima.

"Udah deh Bim, lagian kan itu masalah  awalnya dari temen Stella sama tu cowo. Kalian ga usah ikut campur deh!"

Suara bell dari luar ruangan terdengar jelas, saat ini Stella sangat bersyukur akhirnya dia mempunyai alasan agar bisa keluar dari ruangan ini.

"Ah, itu bell kak gua duluan ya. Dari besok bakal gua cari dan kalau udah formulir nya kasih ke siapa?"

"Gua"

Stella kembali menatap ke arah Cakra yang sudah menuju ke arah pintu keluar.

"Temuin gua dua hari lagi di ruangan ini" Setelah berucap hal itu, Cakra langsung keluar dari ruangan tersebut meninggalkan mereka tanpa bicara apa pun lagi.

Stella hanya bisa tertawa kikuk dan menggaruk tengkuknya. Kenapa harus Cakra? Sial! Hampir dua tahun dia menyukai laki-laki itu, namun dia tidak pernah ingin ada keterlibatan mendekat dengan laki-laki itu karena Cakra di kenal sangat dingin dan tidak akan ragu-ragu menolak gadis yang berusaha mendekatinya. Dia tidak peduli dengan tempat dan keadaan, jika Cakra tidak suka maka dia akan berterus-terang dengan mengatakan hal yang tentu saja membuat hati kecil orang-orang tercubit.

"Makasihh ya Stella udah mau bantuin, nanti ke sini dua hari lagi buat kumpulin formulir ya" Jelas Diana kembali, Stella menganggukkan kepalanya dan memilih untuk kembali ke kelas nya.

('∩。• ᵕ •。∩')

Sesampainya di kelas, Stella baru ingat hari ini ada jadwal kimia dan ada praktek. Dia melihat isi kelas separuh darinya sudah menuju ke laboratorium kimia, syukurnya Rachel masih ada di kelas. Seperti nya anak itu baru selesai menyelesaikan pekerjaannya.

"Dari mana aja Lo?

Tanya Rachel dengan sedikit nada tidak santai. Stella meletakkan formulir pendaftaran kesenian ke bawah lacinya, dan menatap Rachel malas.

"Gua udah bilang tadi, gua di panggil ke ruangan kesenian!"

Seperti biasa jika Rachel sudah mode serius mau sekitarnya gempa dia ga akan engeh apa yang terjadi di sekitarnya. Dia tipe orang yang bener-bener fokus hanya satu titik.

"Masa? Kapan?" Tanya Rachel yang sedikit menyolot. Dari pada Stella menghabiskan seluruh tenaganya, dia memilih untuk keluar kelas dengan membawa tasnya dan disusul oleh Rachel.

"Serius gua nanya, dari mana Lo? Soalnya tadi ada sedikit kesalahan di laporan pas gua mau nanyain ke lo, lo nya udah ga ada di samping gua"

Stella menghela nafas panjang, dia memilih untuk menceritakan apa yang dia lakukan tadi secara detail ke pada Rachel. Hingga tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di lab kimia.

"WAH LO SERIUSAN?"

Teriakan suara Rachel berhasil membuat seisi orang yang ada di lab kimia menatap ke arah mereka.

Sialnya ternyata isi lab itu bukan hanya teman sekelas mereka, namun di ruangan itu juga terlihat kelas XI IPA 3 yang sedang melakukan praktek. Sangat jelas dari dalam ruangan sorotan mata tajam menuju ke arah mereka, bukan hanya itu ada seseorang yang menatap mereka lebih tajam dari siapa pun itu. Ya dia, Cakra Dhega.

('∩。• ᵕ •。∩')

Halooo guysss semoga kalian suka dengan cerita kami ya! Jangan lupa follow, like dan share cerita kami. See you next part-!!

Love Behind A HelmetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang