KINN - POV
"Apa rencanamu?"
Aku memandangi teman masa kecilku, sahabatku, rekan bermain anggar, rival bermain tenis, rival bermain polo, rekan bisnis dan asistenku, Pete. Dia menatapku khawatir.
"Menurutmu berapa lama kau bisa memaksa keluargamu dan penasihat kerajaan sebelum mereka memutuskan dan menyiapkan pesta untukmu sehingga mereka bisa mengundang semua gadis yang memenuhi syarat di kerajaan untuk mencari pengantinmu?"
Wajahku kusut.
"Ini bukan Cinderella, mereka tidak akan..."
"Mereka akan melakukannya." Pete berkata dengan penuh keyakinan.
"Ya, kau benar." Aku menyetujui ucapannya dengan pasrah. Karena mereka akan melakukannya. Jika bukan keluargaku maka penasihat kerajaan akan mendesaknya.
Umurku sudah 24 tahun. Ayahku bertunangan dengan ibuku ketika dia berumur 20 tahun. Kakekku dari nenekku bertunangan ketika dia berumur 18 tahun.
Jika dibandingkan, aku bisa dibilang seorang pria tua.
"Tapi Tesanee..."
“Belum siap menghadapi kesulitan menjadi calon Ratu.” Pete menyelesaikan kalimatku dengan sempurna. Mungkin karena dia sudah mendengarnya sekitar satu juta kali.
Aku menatapnya dengan kesal. Pete adalah orang terdekatku, tapi kami tidak selalu sepaham. Kami memiliki perbedaan. Dia mungkin sedikit lebih fleksibel dan menyenangkan dibandingkan aku, tetapi tidak terlalu banyak.
Singkatnya, dia juga keras kepala.
Aku menatap temanku, “Aku harus mencari seseorang yang bisa mengisi tempat itu sampai Tesanee siap,” kataku.
Pete mengerutkan kening, "Apa dia sedang bersiap-siap? Apa dia sedang berlatih? Bagaimana dia bisa siap jika satu-satunya orang yang berwenang untuk melatih pengantinmu adalah Ratu sendiri?"
Aku benci karena dia tahu semua hukum keluarga kerajaan. Pasti menjadi alasan mengapa dia belajar menjadi pengacara.
"Dia hanya butuh lebih banyak waktu," bantahku.
Pete mencibir, “Kau menganugerahkan hak istimewa yang besar kepadanya dengan menikahinya. Siapa dia berhak pilih-pilih ketika dia akan mengatakan iya? Kau adalah Putra Mahkota, Ai Kinn. Pewaris Tahta. Calon Raja. Kenapa kau terjebak pada gadis ini?"
"Aku mencintainya," jawabku singkat.
"Dan sebelum kau menanyakannya, ya, dia juga mencintaiku. Dia belum siap menghadapi kehidupan penuh tekanan sebagai pengantinku."
"Ada pepatah yang mengatakan, kau tidak akan pernah tahu apakah kau siap melakukan sesuatu sampai kau benar-benar melakukannya."
Aku mengerang, “Berapa kali harus kukatakan padamu kalau aku benci ucapanmu?!”
"Tak seorang pun akan siap menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan. Itu sebabnya dia harus menjalani pelatihan. Apa dia tidak tahu itu?" Suara Pete terdengar tidak suka.
"Dia tahu! Dia hanya..."
"Belum siap," desah Pete.
Keheningan menyelimuti kami. Aku tahu Pete tidak pernah menyukai Tesanee, ini adalah salah satu perbedaan kami. Pete berpikir Tesanee lemah dan dia tidak pernah bisa mentolerir kelemahan. Mungkin karena dia tidak pernah membiarkan dirinya memiliki kelemahan apapun.
Sebagai pengurus rumah tangga Keluarga Kerajaan berikutnya, Pete dilatih untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik sehingga dia bisa melayaniku di masa depan ketika aku duduk di singgasana dan memulai pemerintahanku sebagai Raja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love In The Kingdom - KinnPorsche
RomanceKinn Theerapanyakul adalah seorang pangeran modern di Thailand. Pewaris tahta dan bujangan paling memenuhi syarat di negeri ini. Tapi dia tidak ingin menyerahkan wanita yang dicintainya dalam bencana yang membingungkan, kehidupan seperti sirkus dan...
