Bab 12

661 57 0
                                        

PORSCHE - POV

Kami tidak lama berada di klub. Setelah Vegas dan anak buahnya pergi, Kinn dan aku juga pergi.

Di luar, aku terkejut melihat Pete di sisi pengemudi mobil SUV.

"Hei," aku tersenyum dan berjalan ke arahnya untuk memeluknya tapi Kinn menahan lenganku.

"Berhentilah bersikap terlalu ramah," katanya sambil menyeretku ke kursi belakang mobil.

"Tapi Pete adalah temanku! Teman kita!" Aku memprotes sambil duduk ke kursi belakang.

Pete tertawa di kursi pengemudi sambil mengenakan sabuk pengaman, "Peraturan, tunangan Pangeranku. Kita semua berteman di dalam ruangan terkunci tetapi di luar, aku adalah asisten Kinn dan kau akan segera menjadi tunangannya di mata publik."

Kinn duduk di sampingku. "Dia perlu belajar tentang bagaimana bertindak sesuai di depan umum," dia berbicara pada Pete yang mengangguk setuju.

Aku mencibir pada mereka, "Maksudmu aku bahkan tidak bisa akrab dengan Pete di depan umum? Itu keterlaulan... apa hubungan kalian seperti itu?" Aku bertanya pada mereka berdua saat mobil meninggalkan halaman klub.

"Kami adalah Bangsawan, kami harus bertindak sesuai aturan," kata Kinn sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di kursi.

"Tapi aku bukan Bangsawan!" Aku mengingatkan mereka berdua.

"Kau akan menjadi seperti itu," kata Kinn. Itu membuatku dan Pete terdiam.

"Sekarang diamlah dan sisakan tenagamu untuk bertemu keluargaku. Percayalah, mereka akan membuatmu lelah," Lanjut Kinn.

Aku terdiam dan berpikir. Kenapa dia terdengar lelah melihat keluarganya? Apa mereka benar-benar menekan Kinn terlalu keras hingga dia menjadi seperti ini?

Aku melihat ke bawah dan tersentak. Aku memukul bahu Pete, "Hei, ngomong-ngomong soal peraturan, haruskah aku mengganti bajuku dulu sebelum bertemu Raja dan Ratu? Lihat aku?"

"Apa yang salah dengan bajumu?" Kinn-lah yang menjawab.

"Aku terlihat seperti remaja punk yang tersesat di Istana setelah terpisah dari rombongan tur." Ucapku blak-blakan.

Menurutku jeans robekku yang melekat pada tubuhku adalah hal yang paling menyinggung. Belum lagi anting di telinga kiriku.

"Apa kau perlu ganti baju dulu?" Pete bertanya sambil mengarahkan mobilnya melewati lalu lintas.

"Tidak," jawab Kinn untukku.

"Kau terlihat baik-baik saja, Porsche.
Berhentilah resah. Suruh dia berhenti resah Pete," perintahnya dengan mata yang masih terpejam.

Pete tertawa lagi, "Berhentilah Porsche resah. Menurutku kau terlihat manis," kata Pete.

"Aku suka gayamu. Anak jalanan yang cerdas dan kasar."

"Hentikan mobilnya."

Pete menghentikan mobilnya. Kami berdua melihat ke arah Kinn yang meneriakkan perintah dan membuka matanya untuk menatapku dengan kritis. Lalu dia beralih pada Pete.

"Ayo kita mampir ke toko untuk mengganti bajunya,"

Dia membuatku sakit kepala. "Tapi kau baru saja bilang penampilanku baik-baik saja!"

Kinn menggelengkan kepalanya, "Aku benci jeansmu," dia membuat alasan.

"Ibu dan nenekku akan tersinggung melihatmu memakai itu." Lanjutnya.

"Benarkah?" Aku mulai resah.

Dia mengangguk. Pete mengangkat bahu dan mengikuti kemauan Pangeran. Aku duduk dan menunggu sampai kami berhenti di depan sebuah toko dengan merek pakaian pria yang familiar.

"Oke, tapi ada syaratnya," kataku saat kami keluar dari mobil.

"Aku tidak akan memakai celana panjang. Jangan memakaikan aku mantel atau sweater pria tua. Jangan warna coklat, hitam, atau warna tone gelap..."

"Apa yang salah dengan warna tone gelap?" Kinn mengerutkan kening padaku.

Dia memakai warna tone yang gelap. Aku mengabaikannya. Tetap berbicara pada Pete.

"Dan tanpa bahan kulit. Tidak dalam cuaca panas seperti ini," aku menyelesaikan persyaratanku.

"Aku akan memakaikanmu celana kulit," gumam Kinn muram saat kami memasuki toko.

Manajer toko, seorang pria berusia awal tiga puluhan menyambut kami. Kinn menunjuk ke arahku.

"Dandani dia," perintahnya sebelum pergi ke kursi tunggu dan duduk di sana.

Manajer toko menatapku dengan intens lalu menoleh ke arah Pete. Pete meringis melihat apa yang dibacanya dari mata manajer.

"Dia sudah dewasa. Hanya saja wajahnya baby face. Dan tolong dandani dia secara semi formal. Dan jangan terima pelanggan lain sampai kami pergi. Tentu saja kami akan memberikan kompensasi padamu."

Manajer toko mengangguk dan dia bertepuk tangan agar para asisten mulai mengambil pakaian. Seorang asisten membimbingku untuk masuk ke ruang ganti di salah satu sisi toko dan menyuruhku menunggu pakaian diserahkan padaku agar aku bisa mencobanya.

Aku akui aku tidak terlalu memperhatikan cara berdandanku. Jeans, kemeja, dan sepatu kets adalah pilihanku. Bisa diandalkan dan selalu ada selama aku ingat untuk mencuci baju.

Tapi ini? Ini adalah tingkat belanja "Wanita Cantik". Berbelanja bukan keahlianku.

Aku tidak bergaya. Sama sekali...

"Jangan khawatir." Kinn berkata sambil dia dan Pete duduk di kursi mewah tempat mereka menungguku memamerkan pakaian yang telah mereka pilihkan untukku.

"Aku harus menjadi model di depan kalian berdua?" Aku mengerutkan kening pada mereka.

"Tidak perlu malu." Kinn berkata selagi pegawai toko menyajikan minuman untuk mereka.

"Ayo sekarang, ganti bajumu,"

Aku menghela nafas dan memejamkan mata. Jadi aku masuk ke dalam ruang ganti. Syukurlah karena aku ingat untuk mengenakan celana boxer yang layak dan mulai mengganti pakaianku sesuai keinginan Pangeran Kinn.

Kalau terus begini, dia akan menjadikanku patuh seperti Pete.

Dengan enggan aku memakai pakaian di depan mereka seperti model. Pakaian demi pakaian. Aku hanya merenung saat Kinn dan Pete berdebat apakah pakaianku cukup layak untuk bertemu dengan Keluarga Kerajaan.

Sekarang aku ingat kenapa aku benci berbelanja. Karena aku benci orang yang mengetahui fashion dan menilaiku berdasarkan standar mereka.

Seperti keduanya.

Setelah apa yang terasa seperti selamanya bagiku, Kinn dan Pete akhirnya menyetujui pakaian untukku. Kemeja lengan panjang berwarna biru muda dipadukan dengan jeans berwarna putih dan blazer berwarna putih. Aku juga punya sepatu kulit baru.

Kinn dan Pete tampak puas.

"Oke!" Pangeran Kinn bertepuk tangan.

"Kau siap bertemu keluargaku. Ayo pergi!" Dia menunjuk ke arah pintu toko dan berjalan lebih dulu.

Pete dan aku saling berpandangan. Dia mengangkat bahu dan kami mengikuti Kinn.

Love In The Kingdom - KinnPorscheCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang