PLAGIAT DI LARANG MENDEKAT!!!
----
Ini tentang Bumi Erlangga. J., si penyuka kopi, dengan gadis susu stroberi.
Menjadi ketua geng XAVIERUS dan dekat dengan gadis itu diluar kendalinya. Semuanya seolah sudah di rencanakan semesta.
Tapi sebentar, g...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara nyanyian khas anak tongkorongan menggema sepenjuru ruangan. Rumah yang dahulunya di beli Erlangga dalam keadaan kosong kini terisi banyaknya nyawa yang sering kali singgah jika 'rumah' mereka yang lain sedang tidak baik.
Erlangga memetik snar gitarnya merdu, sesekali bergumam atau ikut bernyanyi bersama Arsa. Jangan salah, cowok tengil itu memiliki suara yang merdu.
Sebuah lagu dari James Arthur tiba-tiba dinyanyikan oleh Arsa atas request-an dirinya kepada Erlangga. Entah sedang ada apa, tapi lelaki itu tengah menyukai lagu-lagu luar akhir-akhir ini.
I'm so in love with you And I hope you know Darling, your love is more than worth its weight in gold
Semuanya sesekali mengikuti Arsha bernyanyi , hanyut dalam petikan musik dan suara indah milik Arsa.
We've come so far, my dear Look how we've grown And I wanna stay with you until we're grey and old Just say you won't let go Just say you won't let go
Tepat saat lagu berhenti, pintu utama yang langsung menuju ruang tengah dimana mereka berkumpul itu terbuka. Seorang gadis dengan rambut yang di gerai lumayan berantakan akibat terkena angin, muncul dari balik sana.
"Hazel?"
Erlangga menatap gadis itu kaget, semua orang yang ada disana juga sama. Pasalnya sudah lumayan malam, dan Hazel datang secara tiba-tiba ke basecamp mereka.
Meraih tangan lalu menangkup wajah dingin Hazel adalah hal yang pertama Erlangga lakukan. Seburat sedih terpampang di sana, dan Erlangga tidak tau apa penyebabnya.
"Hey, kenapa hm?"
Tangannya merapikan anak rambut Hazel yang berantakan. Belum juga mendapat jawaban dari sang kekasih atas pertanyaannya Erlangga langsung mengajak cewek itu ke balkon kamarnya. Erlangga memang memiliki kamar sendiri di rumah yang ia jadikan basecamp ini, ia bebas ingin pulang ke rumah atau ke basecamp.
Beberapa menit keduanya masih diam tanpa bicara apapun. Hazel sibuk memeluk Erlangga sambil menangis, juga Erlangga yang sibuk menenangkan Hazel dengan pelukannya, sesekali mengusap punggung Hazel lembut agar lebih tenang.
Mata teduh milik Erlangga menatap khawatir. Tapi Erlangga tidak ingin gegabah, ia mementingkah Hazel dan emosinya. Erlangga tidak ingin ada emosi yang terpendam lagi di tubuh dan hati kekasihnya.
"Aku gak maksa kamu untuk lamgsung cerita, tapi kalo kamu udah siap dan udah ngerasa tenang aku ada untuk dengar cerita kamu," ucap Erlangga.
Hazel melepaskan pelukannya. Menatap Erlangga yang tangannya tengah mengusap sisa airmatanya.
"Aku mau cerita," kata Hazel.
"Udah tenang? Kalau masih mau nangis gapapa, aku temenin."
"Engga, aku mau cerita."
Keduanya duduk di bangku yang tersedia di balkon. Erlangga mengusap tangan Hazel dengan lembut, juga matanya tak henti menatap gadis itu sambil mendengarkan ceritanya.
Hazel menceritakan bagaimana tadi ia terbagun dari tidurnya yang langsung di susul tangis sesak dirinya sendiri.
Sebuah mimpi yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Sebuah kejadian di mimpi itu yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benaknya.
Bunda, Papa, dan dirinya.
Mimpi itu menampilkan Hazel yang meraung memeluk kaki sang bunda. Padahal bundanya sedang duduk diatas kursi plastik saat itu. Juga sebelumnya, ia tidak pernah bertemu atau tau jelas wajah sang bunda seperti apa. Karena perlu diingat, bundanya meninggal saat ia dilahirkan sampai akhirnya ia di rawat di sebuah panti.
Tapi di mimpi itu, ia sangat yakin bahwa itu benar bundanya. Hazel melihat paras asli sang bunda.
Hazel meraung, menangis dengan napas yang hampir sesak sembari memeluk kaki yang bunda. Katanya, ia meminta untuk ikut, padahal di mimpi itu bundanya tidak kemana-mana.
Katanya, "Bunda Hazel mau ikut, Hazel mau ikut aja bunda. Ajak Hazel, Hazel mau ikut."
Tangis Hazel di mimpi iti seolah sangat menyakitkan. Tapi tidak membuat sang bunda panik disaat itu, bundanya tetap tenang. Ia membiarkan Hazel menangis, mengeluarkan segala sakitnya dalam tangisan itu.
Tidak ada sosok ayahnya yang muncul disana.
Dengan tenang, sosok yang ia yakini sebagai bundanya itu tersenyum hangat sembari mengelus pucul kepalanya.
Katanya, "De, Dede enggak bisa ikut Bunda."
"Kenapa? Hazel, mau ikut bunda gamau disini, Hazel capek, Hazel sakit bunda."
Lagi sang bunda hanya tersenyum. Mengelus hangat sang putri yang ia panggil dengan sebutan "De" itu agar tenang.
"Dengerin bunda. Hazel gabisa ikut bunda, Hazel harus tetap disini karena waktu Hazel masih panjang disini, masih sangat jauh. Waktunya masih panjang, belum selesai. Yang bisa ikut sama bunda itu, Papa."
Hazel menatap nanar wajah sang bunda. Sedih berselimut di hatinya.
"Hazel, gaboleh ikut sama bunda. Yang boleh ikut bunda cuma Papa."
Dan saat itu ia terbangun dengan tangis yang belum reda.
Erlangga kembali memeluk Hazel yang juga kembali menangis tersedu. Tubuh gadis itu juga lumayan gemetar, dengan kedua tangannya yang kini berusaha menjambak rambutnya juga memukul kepalanya sendiri, namun Erlangga tahan dengan memberinya pelukan.
Hatinya di selimuti ketakutan. Hazel cemas, ia takut sekali. Pikirannya kalut dalam kalimat terakhir yang sang bunda ucapkan.
"Shtt, udah ya. Semuanya akan baik-baik aja."
Erlangga berusaha menenangkan gadisnya. Walaupum entah berpengaruh atau tidak.
"Aku takut Bumi, aku takut akan terjadi sesuatu," kata Hazel, masih sembari menangis.
"Enggak, itu cuma bunga tidur sayang, semuanya akan baik," jawab Erlangga.
Hazel melepaskan pelukan Erlangga paksa. Ia menatap cowok itu dengan pandangan sulit diartikan. Marah, sakit hati, takut, cemas, sedih, semuanya bersatu disana.
Sudah Erlangga bilang kalau ia harus mengontrol emosi Hazel dengan baik? Karena kalau tidak, sosok lain bisa saja mengambil alih tubuh gadisnya
"Gak bisa! Aku mau ikut bunda, Bumi aku mau ikut bunda aja, aku gamau sendirian, aku mau ikut Bumi aku mau ikut! Aku mau mat___"
"HAZEL CUKUP!"
Hazel terdiam dengan isak tangisnya. Tubuhnya melemas dan meluruh di lantai, disusul Erlangga yang kembali memeluknya.
"Shtt, udah ya, jangan pernah mikir untuk pergi dari dunia ini."
Erlangga mengusap tenang gadisnya. Mencium pucuk kepalanya, agar lebih tenang.
"Berhenti bilang ingin pergi dari dunia ini Hazel, gue gak suka. Gue gak akan izinin hal itu terjadi. Berhenti untuk berusaha pergi, lo punya gue Hazel," ujar Erlangga yang entah didengar atau tidak oleh si pemilik nama.
....
Ceritaku ini sudah sampai mana ya? Coba komen kalian asal mana??