BXB
Pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral.. dan Taeyong benar-benar mengimpikan pernikahan yang romantis.
Dia, Lee Taeyong. Pria cantik yang namanya sedang meroket di industri model telah mendapatkan perhatian Jung Jaehyun- satu-satunya pewari...
"B-bwu- Bwuuu!"Suara pekikan girang seorang balita yang manis kedengaran di ruang keluarga.
"Adeeek! Echan punya kak Mark!"Taeyong bisa mendengar suara teriakan anaknya. Sore itu, dia memilih untuk meluangkan waktu bersama Ten.
"B-Bwuuu!"Kedengaran lagi suara anak bungsunya— Jeong Jeno memekik girang dan teriakan sang kakak yang marah.
"Maaf, Tennie. Aku tinggal sebentar ya? Mereka pasti merebutkan Echan lagi."Taeyong tersenyum kikuk. Ten menahan tawanya. Ah, Haechannya yang manis sentiasa direbutkan oleh kedua putra sang sahabat.
Pria cantik itu bangun dan menghampiri ruangan keluarga. Matanya terpaku melihat sang kakak yang memeluk pinggang Haechan erat.
"Kak, ada apa hm? Bukankah Bubu memintamu menjaga adek?"Taeyong bertanya lembut. Dia mendekati sosok gembul; yang tidak berbeda dengan wajah sang suami dan menggendong sosok lucu itu. Jeong Jeno, anak bungsunya yang kini umurnya menginjak tiga tahun.
"B-Bwuu! K-kaaaak B-Bwuuu!"Jeno merengek lucu. Dia memberontak ingin turun dari dekapan Papinya— ingin bermain dengan sang kakak yang masih memeluk Haechan dengan posesif.
Omong-omong, Minhyung sudah berumur dua belas tahun.
"Kakak, Bubu bertanya padamu. Kenapa tidak menjaga adek hm?"Taeyong menurunkan sosok gembul itu dari dekapannya. Dia penuh lembut mengambil tangan Minhyung dan mengecup lembut tangan anaknya. Putra sulungnya itu terlihat kesal. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Haechan.
"Echan punya kakak, Bubu. Adek ingin mengambilnya dari kakak."Minhyung menjelaskan dengan wajah yang kesal. Bibir Taeyong melengkung; menahan senyuman karena Haechan dengan genit mengecup lembut kening anaknya itu. Ingin membujuk sepertinya.
"Markie gak boleh bersikap begitu sama adek. Jeno hanya ingin bermain denganku sebentar. Benar kan, Bu?"Haechan membujuk lembut sosok tampan itu. Minhyung memalingkan wajahnya, masih merajuk. Matanya melirik ke arah Jeno yang sibuk mengemut jarinya— memandang dirinya dengan wajah yang terlalu imut.
"Benar. Sekarang kakak udah jadi kakaknya Jeno. Bukannya dulu kakak yang mau adek hm?"Taeyong bersuara lembut. Masih dia ingat Minhyung-lah yang memaksanya cepat-cepat hamil karena merasa kesepian.
Mata Minhyung meredup. Dia melepaskan pelukan Haechan dan beralih ke arah sang Papi— memeluk erat tubuh Taeyong yang berlutut, dan menangis. Taeyong tertawa pelan. Dia mengecup berkali-kali rambut anaknya.
"Hiks— kakak jahat ya Bu hiks—"Minhyung terisak lirih. Anaknya memang begitu. Jika dia merasa bersalah, dia akan menangis. Bahkan dia tidak menyadari kehadiran sang adik yang berjalan pelan ke arahnya. Jeno menubrukkan tubuhnya pada punggung hangat sang kakak.
"K-kaaaaak ngis? Ngan ngisssss! (Jangan nangis) S-sowwyyyyy.... Dekhhh sowwyyyy~"Jeno melengkungkan bibirnya ke bawah. Sedih karena Minhyung menangis. Putra sulungnya perlahan-lahan tersenyum. Dia menundukkan tubuhnya dan mencium gemas pipi si gembul— membuat Jeno tertawa lucu.
"Adek lucu!"Minhyung memekik gemas. Dia hanya membiarkan sang adik yang bergelayut manja pada kaosnya. Taeyong menahan senyum.
"Ya sudah. Bubu boleh minta Echan memantau mereka? Bubu ingin berbicara dengan Mae."Taeyong menaruh kepercayaannya pada putra tunggal Suh. Balita itu mengangguk dan mengajak kedua putra keluarga Jeong untuk bermain dengannya.
Baru saja Taeyong menghembuskan napas lega dan beranjak ke tempat Ten, dia bisa mendengar teriakan Minhyung yang sebal.
"ADEK!!! ITU SEMANGKA PUNYA KAKAK!!"
"Dasar."Taeyong menggelengkan kepalanya. Dia kembali duduk dan bergosip bersama sahabatnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.