Aula Besar tampak megah seperti biasanya, langit-langit disihir untuk menampilkan tiruan langit malam penuh bintang.
Piring-piring dan piala-piala emas berkilauan tertimpa cahaya ratusan lilin yang melayang di atas meja-meja. Keempat meja asrama penuh sesak oleh anak-anak yang ramai berceloteh.
Hermione berjalan melewati meja Slytherin, Ravenclaw, dan Hufflepuff, dan duduk bersama anak-anak Gryffindor lainnya di meja paling ujung, di sebelah Nick si Kepala-Nyaris-Putus, hantu Gryffindor. Nick malam ini memakai baju ketatnya yang biasa, tetapi dengan rimpel ekstra besar.
"Selamat malam nona Granger," sapa sang hantu Gryffindor. Tersenyum menyapa Hermione ramah.
Hermione tersenyum dan membals, "selamat malam."
Hantu itu kemudian melayang untuk menyapa murid-murid Gryffindor lain yang baru tiba, mengajak ngobrol mereka dengan berbagai macam topik seru.
"Rose belum datang?" tanya Hermione ketika menyadari anak perempuan Ron Weasley tidak berada di meja panjang Gryffindor.
Anne menutup buku yang sedang dibacanya, terlihat tulisan besar berwarna silver "Pembuatan Ramuan Tingkat Lanjut" pada sampul biru gelapnya. Gadis yang duduk tepat berhadapan dengan Hermione itu mendongkak.
"Ada rapat prefek. Sudah dari tadi, dia mungkin akan kembali sebentar lagi," katanya memberi tau. Hermione mengangguk maklum.
Rose Weasley adalah ketua murid putri yang baru saja di pilih tahun ini. Rekannya adalah Jack Kenley dari Hufflepuff. Anne menceritakan dengan bangga pada Hermione di hari pertama sekolah saat mereka di asrama perempuan, kebetulan Hermione satu kamar dengan Anne, Rose dan seorang gadis bernama Lidya. Seorang half-blood yang agak pendiam.
Tidak lama, Rose muncul seperti perkataan Anne. Gadis Weasley itu berjalan masuk bersama seorang pemuda berjubah kuning hitam Hufflepuff, dari pin emas mengkilap yang tersemat dijubahnya, bisa ditebak kalau pemuda itu adalah Jack Kenley si ketua murid putra. Rose dan Jack berpisah dan menuju meja asrama masing-masing. Tidak jauh dibelakang ada beberapa anak lain yang juga baru datang. Penjaga sekolah menutup pintu setelahnya.
"Apa ketua murid memang selalu melakukan rapat begitu sering?" Hermione mengerutkan alisnya heran. Ingat bahwa kemarin, juga sempat ada rapat ketua murid dan prefek.
Rose menoleh dan sedikit terkekeh, lantas menggeleng. "Tidak. Tapi kali ini memang ada yang mendesak, jadi harus mengadakan rapat."
Alis Hermione masih berkerut, tapi tidak memperpanjang pembicaraan. Perhatiannya kemudian teralihkan oleh kepala sekolah yang berdiri di depan meja para guru, seolah bersiap menyampaikan sesuatu.
Rose tersenyum. "Kurasa kepala sekolah akan mengatakan hal yang menarik."
Hermione dan Anne melirik, lalu kemudian saling tatap dan mengedikan bahu.
"Selamat malam semuanya. Sebelum kita memulai makan malam, ada yang ingin saya beritaukan kepada kalian semua."
Sebagian murid menyimak dan tampak penasaran, sebaginnya lagi terlihat mengeluh karena makan malam masih belum dimulai juga, beberapa menatap pada piring-piring emas yang tertata kosong di setiap meja panjang keempat asrama.
"Setelah lebih dari 28 tahun, setelah tragedi-tragedi yang terjadi di tahun-tahun di masa lalu, sekolah yang didukung oleh kementrian, akan kembali melaksanakan turnamen triwizard tahun ini, dan menjadi sebuah kehormatan sebab Hogwarts kembali terpilih menjadi tuan rumah bagi kedua sekolah yang akan tiba beberapa hari lagi. Durmstrang Institute dan Beauxbatons Academy of Magic akan kembali berpartisipasi dalam turnamen dan akan mengirim beberapa murid untuk meramaikan pemilihan champion."
Kata-kata kepala sekolah seakan menguap dan hilang kemudian tidak lagi terdengar. Hermione tidak bisa menutupi reaksinya, jelas sekali bahwa dia kaget dan agak syok. Sementara berbanding terbalik dengan reaksi para murid yang sebagian besar bersorak penuh kegirangan, menyambut pengumuman tersebut dengan antusias tinggi.
"Kepala sekolah meminta agar ketua murid bisa mengatur penempatan murid-murid Durmstrang dan Beauxbatons akan ditempatkan diasrama mana selama turnamen nanti, prefek akan siap menjadi tuan asrama yang baik untuk tamu. Murid Durmstrang akan menginap di asrama Gryffindor dan Huflepuff, sementara Beauxbatons akan berada di Slytherin dan Ravenclaw." Kata Rose, menjelaskan dengan fasih.
"Bukankah Slytherin terlalu dingin dan suram untuk para gadis prancis itu?" Sahut Fred Weasley II. Perkataanya menarik perhatian ketiga gadis yang sedang mengobrol.
Anne mengangguk menyetujui perkataan sepupu Rose tersebut, lalu kembali melihat pada Rose "benar, kenapa para gadis ditempatkan di ruang bawah tanah?"
Rose menghela napas "sudah diatur seperti itu."
"Tidak mungkin, itu pasti keinginan para ular agar mendapatkan para gadis prancis di asrama mereka." kali ini Hugo, anak kelas 5 itu menyahut protes. Rose menaikan alisnya heran, sejak kapan adiknya itu duduk diantara murid kelas 7.
"Kau sedang apa di sini? Duduk bersama teman seangkatanmu sana," gertak Rose. Hugo mengejek.
"Tidak ada peraturan harus duduk dengan teman seangkatan, lagipula aku bersama Fred," balas Hugo. Rose memutar bola mata malas.
"Mengingat yang pernah terjadi, protokol ketat akan dilakukan untuk mencegah kecelakaan fatal selama turnamen. Dan untuk kriteria akan tetap mengambil murid berusia di atas 17 tahun..." Banyak keluhan terdengar, kepala sekolah memberikan tatapan peringatan sebelum melanjutkan perkataannya "para prefek disetiap asrama telah diberi tanggung jawab untuk menjadi tuan rumah yang baik dibawah pengawasan ketua murid dan saya sendiri selama tamu berada di lingkungan sekolah."
"Untuk kelas-kelas yang telah ditetapkan akan tetap berjalan sesuai jadwal, mungkin waktu pelajaran akan sedikit berkurang agar champion yang terpilih nanti bisa punya waktu imbang antara turnamen dan pelajaran."
Draco mengeruhkan ekspresi wajahnya. Dia ingat betul bagaimana tragedi triwizard di tahun 1994 terjadi. Cedric Digory, champion Hogwarts yang berasal dari Hufflepuff mati oleh kutukan terlarang. Hari kematiannya sama seperti hari kebangkitan kembali pangeran kegelapan. Draco tiba-tiba merinding.
"Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Dan dua patah kata lagi. Selamat makan."
Piring-piring kosong segera terisi oleh berbagai macam makanan. Draco mengambil seperlunya. Memulai makan malam seperti yang lainnya ketika Aron Nott bersuara.
"Kau mau ikut turnamen itu?" Tanya Aron pada Albus. Draco melirik sejenak, lalu kembali makan, sedikit mendengar percakapan kedua anak laki-laki tersebut.
"Aku akan perlu persetujuan ayahku untuk itu." Kata Albus.
Aron mengangguk-angguk "apa ayahmu punya trauma pada triwizard?" Aron meringis "diturnamen terahkir kali, ada seseroang yang mati dan Voldemort bangkit."
Draco menelan ludah. Di jaman ini, tidak ada yang takut atau ragu untuk menyebut nama itu, seakan nama tersebut tidak lagi berpengaruh dan tabu. Bagi Draco, dia masih cukup trauma dan enggan menyebutkan nama itu. Dia hidup terlalu lama bersama ular di dalam rumahnya sendiri. Pangeran kegelapan terasa sangat dekat dan ularnya seakan siap melahapnya jika Draco berbuat sesuatu yang berbeda dari keinginan Voldemort. Dia masih dibayangi. Bagi orang-orang, perang telah berlalu 25 tahun yang lalu, tapi bagi Draco Malfoy, yang menderita trauma psikis, dan hidup seperti perang baru saja meletus kemarin, itu adalah sesuatu yang sulit. Bagaimanapun, dia telah melompati waktu begitu jauh dan menjadi orang yang masih menyimpan ingatan masa lalu begitu jelas.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
