Suara deburan ombak yang menabrak dinding terdengar begitu Harry tiba di menara suram Azkaban. Kepala auror dengan luka berbentuk petir di dahi kirinya itu memperbaiki letak kacamatanya, sementara penjaga membukakan pintu untuknya. Dia berjalan masuk, sedikit berbicara dengan penjaga dan meninggalkan tongkatnya sebelum masuk lebih dalam ke ruang-ruang suram dan lembab Azkaban.
Penjaga mengantarnya ke salah satu sel tingkat atas, kemudian berjalan menjauh untuk memberi ruang pada Harry.
Pria itu mengetuk pintu, mengintip lewat cela lebar pintu sel. Seorang pria tengah duduk dilantai dengan tangan dan kaki diborgol rantai yang menyatu dengan dinding, membuat pria tersebut tidak bisa leluasa untuk bergerak dalam ruangan tahanan yang sempit. Pria itu mengangkat kepala, melihat Harry dengan matanya yang sayu.
"Sedang apa pahlawan perang di Azkaban yang suram?"
"Tuan Montague, saya ingin bicara dengan anda, saya harap anda bisa bekerja sama."
Pria itu menatap Harry, wajahnya yang sudah mulai mengeriput tidak menunjukan ketertarikan apapun.
Harper Montague adalah seroang pelahap maut, satu dari sedikit yang berhasil kabur. Bertahun-tahun mereka memburu para pelahap maut, menyitas yang masih tersisa. Dua minggu lalu, Harper Montague ditemukan di pelosok Indonesia, negara yang tidak termasuk dalam komunitas sihir internasional. Indonesia adalah salah satu negara yang membangun komunitas penyihir dan tidak terlibat dengan negara lain. Mungkin karena itu, Harper memilih untuk bersembunyi di negara tersebut, sebab tidak ada yang bisa menebak bahwa Indonesia akan jadi tempat persembunyiannya yang paling aman. Namun dua minggu lalu, mereka menemukan Harper atas laporan dari seorang penyihir yang tengah berkunjung ke Indonesia.
Harper menjalani masa sidang yang singkat dan segera dijebloskan ke Azkaban dengan putusan 10 tahun penjara. Pria ini sudah tua, mungkin tidak akan bertahan lama di Azkaban yang dingin dan kotor. Di sidang beberapa hari lalu, Harry mendengar tuntutan-tuntuan yang disematkan pada Montague, ada banyak tuntuan termasuk seragan yang dilakukan pria itu saat masa perang. Tapi kemudian, Harper menambah tuntunannya sendiri, memberi tau wizengamot tentang beberapa hal yang dilakukannya dan tidak diketahui kementrian. Tampaknya sudah putus asa dan tidak lagi perduli akan nasibnya.
Dan disana Harry mendengarnya sendiri, bahwa Harper adalah pelahap maut yang melemparkan sihir asing Exitium pada Hermione dan Malfoy.
"Mantra Exitium, mantra seperti apa itu?"
"Oh, kau penasaran dengan mantra yang kulemparkan pada Nona Granger?" Bibir Harper terangkat sedikit. Harry menyipitkan mata, menduga bahwa pria itu hendak menyeringai.
"Aku malu memberi taumu, tapi jika dipikir lagi, untuk apa?" Ada kekehan ringan yang terdengar sebelum Harper kembali bicara dengan suaranya yang paruh, "itu adalah mantra yang kucuri dari Snape. Si rambut minyak itu suka sekali menuliskan mantara aneh di bukunya, aku hanya melihatnya tanpa tau efek apa yang diberikan."
Alis Harry mengerut. Buku Snape, apa maksud Harper adalah buku the half-blood prince? Harry memandang Harper Montague yang kini menunduk suram.
"Terima kasih atas kerjasama anda Tuan Montague."
Harry bergegas meninggalkan Azkaban, ingin cepat memberitau Hermione tentang penemuannya. Tapi saat hendak menuliskan surat, Harry baru ingat kalau kamar kebutuhan sudah terbakar habis bersama barang-barang lain yang ada di dalamnya. Terahkir kali Ginny menyembunyikan buku tersebut di kamar kebutuhan. Harry menarik nafas berat, melanjutkan kehendaknya menuliskan surat.
To Hermione
Bagaimana kabarmu di Hogwarts, ku harap baik-baik saja. Aku sudah menemukan pelahap maut yang menyerangmu saat itu dan bicara dengannya. Namanya Harper Montague, dia seangkatan dengan Snape dan orang tuaku saat masih sekolah. Dia bilang, Exitium adalah mantra yang dia temukan dibuku milik Snape, dugaanku adalah buku the half-blood prince. Tapi buku itu sudah terbakar di kamar kebutuhan, jadi jalan satu-satunya adalah kau harus bicara dengan lukisan profesor Snape. Aku akan mengirim surat pada kepala sekolah agar kau diizinkan untuk mengobrol dengan lukisannya.
Dari Harry Potter
Sahabat terbaikmu.
Harry melipat parkemen tersebut dan memasukannya ke dalam emplop. menyegelnya sebelum diberikan pada burung hantu untuk diantar ke Hogwarts, dimana Hermione tengah berada saat ini.
Dimeja panjang Great Hall, duduk bersama Rose dan Anne. Hermione tengah memperhatikan Anne yang sedang menuliskan namanya dan nama sekolah di atas secarik parkemen. Niat Anne untuk ikut serta dalam turnamen tentu saja tidak urang sedikitpun.
Suara burang hantu kemudian mengalihkan pandangan beberapa orang yang ada di aula. Hermione melihat burung hantu yang famiiliar, burung hantu milik Harry itu kemudian menjatuhkan surat tepat dimeja dimana Hermione berada.
"Surat dari paman Harry?"
Hermione meraih surat tersebut, sejenak mengangguki pertanyaan Rose. Rose tentu saja mengenali burung hantu yang mengantar surat tersebut.
Hermione membuka segel dan kemudian mengeluarkan parkemen. Membaca setiap deret kalimat yang tertulis di atasnya. Sampai kemudian matanya agak melebar dan Hermione menahan nafas dengan ekspresi tegang. Rose dan Anne memperhatikannya dengan penasaran.
Gadis itu kemudian tersenyum, senyum yang kelewat lebar, menambah kerutan didahi Rose dan Anne yang semakin dibuat bingung. "Aku harus pergi untuk melakukan sesuatu. Maaf Anne tidak bisa menemanimu. Sampai jumpa." Hermione bergegas meninggalkan aula, meninggalkan tanda tanya yang masih bersarang dikepala Rose dan Anne.
Sementara itu, Draco memperhatikan dari meja Slytherin. Wajahnya jelas menunjukan kebingungan dan rasa ingin tau. Apa yang tertulis dalam surat sehingga membuat Granger sangat bersemangat?
"Sudat tulis namamu?"
"Hem."
Draco mengalihkan perhatian pada Aron dan Albus yang tengah membuat tiket turnamen triwizard.
"Memang Potter tidak melarangmu?" Tanya Draco, kurang yakin kalau Harry Potter akan mengizinkan anaknya ikut dalam turnamen yang berbahaya, dan Potter pasti tau seberbahaya apa itu karena pernah mengalaminya secara langsung.
Albus mengedikan bahu, dan Draco bisa menebak kalau Albus ikut tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Draco kemudian melirik Lily Potter yang sedang duduk dimeja Ravenclaw bersama dua pemuda kembar Scamander. Terlihat tidak perduli dengan apa yang sedang kakaknya lakukan.
"Kau yakin tidak ingin ikut?" tanya Aron. Deaco menghela nafas berat dan mendelik.
"Sudah kubilang aku tidak ingin ikut turnamen gila itu," balas Draco. Tapi Aron melemparkan tatapan tidak percayanya.
Pemuda Nott itu memandangnya dengan ketidak yakinan sebelum meraih secarik parkemen lagi. "Biar kutulis namamu," katanya dengan usil. Draco mengeruhkan ekspresi wajahnya, dan memukul kepala Aron dengan keras, segera mengambil parkemen yang sudah ditulis nama sekolah dan namanya, lalu merobeknya.
Aron mendengus "bukan berarti namamu yang akan keluar kan? Ayo coba, ada banyak yang ikut. Peluang untuk terpilih, satu banding seratus."
Deaco memandang anak Theo itu dengan pandangan siap melemparnya ke danau hitam. Aron terlalu cerewet sebagai anak dari seorang Theodore Nott yang agak kalem, dan Daphne Greengrass yang anggun.
Aron melirik Draco yang sudah kembali mengalihkan perhatian ke arah lain. Pemuda Nott itu tersenyum licik, mengambil parkemen baru dan kembali menuliskan nama Draco di atasnya. Lagipula, tidak mungkin nama Draco yang akan keluar diantara banyaknya murid Hogwarts yang ikut. Kan?
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
