Hermione duduk di sofa, membaca buku ramuan yang rumit. Namun, pikirannya melayang. Dia tidak bisa fokus pada kata-kata di halaman. Dia terus memikirkan Draco dan rumor tentangnya. Dia tidak tahu mengapa, tetapi dia merasa tidak nyaman dengan rumor itu.
Dia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Dia tahu itu konyol. Entah sejak kapan perasaan ini dimulai.
Tapi perasaan itu tidak mau hilang. Setiap kali dia melihat Draco, ada sesuatu yang menusuk hatinya. Dia tidak tahu apa itu, dan dia tidak mau mengakuinya.
Dia menutup bukunya dengan keras, membuat Rose dan Anne yang duduk di dekatnya menoleh.
"Ada apa, Hermione?" tanya Rose.
"Tidak ada," jawab Hermione, terlalu cepat. "Aku hanya... lelah."
"Kau yakin?" tanya Anne, menatapnya dengan curiga.
"Ya, tentu saja," kata Hermione, mencoba tersenyum. "Aku hanya perlu istirahat."
Dia bangkit dan berjalan menuju asrama perempuan. Dia tahu dia tidak bisa berbohong kepada mereka. Tapi dia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya sendiri.
Dia masuk ke kamarnya dan membanting pintu. Dia bersandar di pintu, menutup matanya. Dia merasa bingung, frustrasi, dan... entahlah.
Dia membuka matanya dan menatap dirinya di cermin. Dia melihat seorang gadis yang tidak dikenalnya. Seorang gadis yang merasa cemburu tanpa alasan. Seorang gadis yang tidak tahu apa yang dia inginkan.
Dia menghela napas panjang. Dia tahu dia harus menghadapi perasaannya. Tapi dia tidak tahu bagaimana.
Hermione menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba memahami perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Kecemburuan yang tidak beralasan, kebingungan tentang perasaannya terhadap Draco, dan beban misteri mantra yang mengikat takdir mereka.
"Kenapa aku merasa seperti ini?" bisiknya pada pantulan dirinya. "Kenapa aku merasa cemburu? Ini konyol."
Dia menghela napas panjang, mencoba merasionalisasi perasaannya. Dia dan Draco, untuk ukuran hubungan mereka, mereka bahkan bukan teman, atau setidaknya, itulah yang dia yakini. Tapi, jauh di lubuk hatinya, dia tahu ada sesuatu di antara mereka.
"Mungkin ini karena mantra itu," gumamnya. "Mungkin mantra itu telah mengubahku, membuatku merasakan hal-hal yang tidak seharusnya kurasakan."
Dia teringat akan penelitiannya tentang mantra itu. Dia tahu bahwa sihir kuno yang digunakan oleh Pelahap Maut itu sangat kuat dan kompleks. Mungkin, mantra itu tidak hanya menghentikan penuaan mereka, tetapi juga memengaruhi emosi dan pikiran mereka.
"Jika itu benar," pikirnya, "maka aku harus menemukan Pelahap Maut itu. Aku harus menemukan cara untuk membatalkan mantra itu, untuk mengembalikan hidupku yang normal."
Dia bertekad untuk mengungkap misteri ini, jika Draco tidak ingin membantu, maka Hermione akan melakukannya untuk dirinyan sendiri. Terjebak dalam tubuh anak muda, meskipun pikiran dan pengalaman telah jauh melampaui itu.
Dia mengambil perkamen dan pena bulu dari meja belajarnya dan mulai menulis. Dia mencatat semua yang dia ketahui tentang mantra itu, tentang Pelahap Maut, tentang perasaannya terhadap Draco. Dia mencoba menyusun teka-teki ini, mencari pola atau petunjuk yang mungkin terlewatkan.
"Aku harus menemukan jawabannya," tekadnya. "Aku tidak bisa membiarkan mantra ini mengendalikan hidupku."
Dia telah menghabiskan berjam-jam meneliti buku-buku sihir kuno, mencari petunjuk tentang mantra yang mereka alami. Tapi dia tidak menemukan apa-apa. Mantra itu seolah-olah tidak ada dalam catatan sejarah sihir.
Dia merasa putus asa. Dia ingin tahu jawabannya. Dia ingin mengembalikan hidupnya yang normal. Tapi dia merasa seperti sedang mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Dia menghela napas panjang dan menatap bintang-bintang. Dia tahu dia tidak bisa menyerah. Dia harus terus mencari. Dia harus menemukan jawabannya.
Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sesuatu yang dia baca dalam salah satu buku ramuan kuno. Sebuah ramuan yang disebut "Ramuan Pengungkapan Masa Lalu". Ramuan itu dikatakan mampu mengungkapkan ingatan tersembunyi, bahkan ingatan yang telah dihapus atau diubah.
Dia tersenyum. Mungkin ini adalah jawabannya. Mungkin ramuan ini bisa membantunya mengingat siapa Pelahap Maut itu dan mantra apa yang di gunakan.
Dia berbalik dan berlari menuruni tangga menara. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia akan membuat Ramuan Pengungkapan Masa Lalu.
Beberapa bahan sangat langka, tetapi Hermione yakin dia bisa mendapatkannya.
Dia mulai mencampur bahan-bahan dengan hati-hati, mengikuti instruksi dalam buku ramuan. Ruangan itu dipenuhi dengan aroma yang aneh dan kuat, campuran antara aroma bunga mawar dan aroma logam. Ramuan itu mulai berkilauan dengan warna perak yang lembut.
Setelah beberapa jam, ramuan itu selesai. Hermione menatap botol ramuan itu, jantungnya berdebar kencang. Dia tahu ramuan ini bisa mengungkapkan kebenaran tentang mantra yang menimpanya dan Draco. Tapi dia juga tahu ramuan ini bisa mengungkapkan ingatan yang menyakitkan, ingatan yang lebih baik dilupakan.
Dia menarik napas dalam-dalam dan meneguk ramuan itu. Rasanya pahit dan dingin, seperti es. Tiba-tiba, dia merasakan gelombang energi yang kuat mengalir melalui tubuhnya. Kepalanya mulai berputar, dan ingatan-ingatan yang terkubur mulai muncul ke permukaan.
Dia melihat kilasan-kilasan adegan dari masa lalunya: dia dan Draco berdiri di tengah pertempuran, Pelahap Maut dengan topeng hitam mengacungkan tongkat sihir ke arah mereka, cahaya hijau yang menyilaukan. Dia mendengar suara Pelahap Maut itu, suara yang dalam dan serak, mengucapkan mantra dalam bahasa kuno. Tapi dia tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Dia bahkan tidak melihat wajah Pelahap Maut itu, wajah yang tersembunyi di balik topeng, tetapi matanya... matanya tampak familiar. Dia mencoba mengingat di mana dia pernah melihat mata itu sebelumnya, tetapi ingatannya kabur.
Dia merasakan sakit yang tajam di kepalanya, seperti ada yang mencoba menembus pikirannya. Dia jatuh berlutut, mencengkeram kepalanya dengan tangan. Ingatan-ingatan itu terlalu kuat, terlalu menyakitkan.
Tiba-tiba, semuanya menjadi gelap.
Asrama Gryffindor
Hermione terbangun di tempat tidurnya, kepalanya masih berdenyut. Dia melihat sekeliling, menyadari bahwa dia berada di asramanya. Dia ingat apa yang terjadi: dia membuat Ramuan Pengungkapan Masa Lalu dan meminumnya, dan ingatan-ingatan itu muncul kembali.
Dia duduk dan mencoba mengingat apa yang dia lihat. Dia ingat Pelahap Maut itu, atau lebih tepatnya, matanya. Tapi dia tidak bisa mengingat di mana dia pernah melihat mata itu sebelumnya.
Dia merasa frustrasi. Dia begitu dekat dengan kebenaran, tetapi ingatannya masih kabur. Dia tahu dia tidak bisa menyerah.
Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja belajarnya. Dia mengeluarkan perkamen dan pena bulu, dan mulai menuliskan semua yang dia ingat. Dia akan memecahkan misteri ini, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanficHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
