Terpilihnya ia menjadi juara Hogwarts membuatnya sangat sibuk. Triwizard adalah turnamen yang terkenal, ditambah namanya yang juga diketahui banyak orang. Draco menjadi sasaran wartawan Daily Prophet selama masa perkenalan peserta.
Well, dia adalah pelahap maut, maksudnya mantan pelahap maut, dan semua orang tau seberapa berpengaruhnya Malfoy dalam kubu dark lord kala itu. Manornya menjadi markas utama dan bahkan ayahnya sendiri memberikan tongkatnya pada Voldemort yang dipakai pria hidung rata itu untuk melawan Harry Potter sang pahlawan perang.
Hari ini ada wawancara lagi dengan Daily Prophet dan beberapa media lain. Setelah sesi wawancara pertama, Draco segera kabur, sebab melihat gerak-gerik wartawan Daily Prophet yang bersiap mengadakan sesi wawancara lebih panjang dengannya. Draco berdecih, dia tidak mau menjadi sampul utama Daily Prophet dengan judul yang menyebalkan. Dan kemudian menjadi bulan-bulanan anak-anak Hogwarts yang kehabisan topik pembicaraan.
Semua anak sedang berada di central park, melihat anak-anak Dumstrang yang sedang pamer sihir. Entah apa bagusnya cowok-cowok berjubah merah itu, kebanyakan dari mereka berpawakan tidak beda jauh dari Krum, bertubuh besar dan membungkuk.
Draco masuk ke dalam perpustakaan, melirik sejenak Madam Piece yang berada dibalik meja kebangaanya, sedang serius membaca sebuah buku. Draco mengabaikannya, berjalan menuju rak samping jendela di sudut. Namun saat melewati salah satu rak, Draco menemukan gadis berambut merah jahe sedang berusaha menaruh buku, namun rak yang terlalu tinggi membuat gadis pendek itu kesusahan.
Draco melirik Madam Piece, wanita itu suka sekali memarahi anak yang menggunakan tongkat sihir diperpustakannya yang suci. Dalam sekali lambaian tongkat, buku itu terlepas dari tangan Lily Potter dan bergerak naik dan masuk ke dalam rak.
Lily terkejut, segera memalingkan kepala untuk melihat siapa yang membantunya. Draco menyimpan kembali tongkatnyan ke dalam jubah, kemudian melirik anak bungsu Potter dengan ekspresi datar, terkesan bosan, kontrak dengan suasana hatinya saat ini.
"Sama-sama," katanya datar, lantas berlalu pergi melewati rak tempat Lily berada.
Gadis berambut merah jahe persis ibunya itu tercengang, bahkan ia belum mengatakan apa-apa, tapi Draco Malfoy sudah bersuara lebih dulu. Lily melonggokan kepala, mengintip Draco yang berjalan menjauh darinya, kemudian berbelok ke arah rak yang berjarak tiga lemari dari tempat Lily berada.
Selama ini ada banyak hal yang Lily dengar tentang Draco Malfoy. Pelahap maut yang beralih kubu di ahkir perang, dan menjadi salah satu kunci penyebab pihak terang menang. Draco Malfoy melemparkan tongkatnya pada Harry Potter yang kembali hidup dan, mempertaruhkan nyawanya juga kedua orang tuanya. Tindakan heroik yang datang dari orang tidak terduga. Dan kini dia telah membangun pertemanan yang tidak terduga dengannya.
Gadis Potter itu tersenyum. Dia kemudian beranjak pergi dari perpustakaan.
Sementara itu, Draco menghela nafas berat. Iris kelabunya bertabrakan dan saling menusuk tajam dengan iris Hazel milik gadis berambut coklat semak yang tengah duduk di didepannya bersama sebuah buku tebal.
Hermione mendengus, menutup bukunya dengan agak kasar dan beranjak dari duduknya. Dia hendak pergi, tapi Draco menahan langkahnya ketika pria itu bicara.
"Sudah dapat petunjuk?"
Draco bertanya tanpa melihat Hermione. Posisi mereka saling membelakangi. Hermione mendengus sekali lagi.
"Memang apa pedulimu?" Kata Hermione ketus. Masih merasa kesal atas penolakan kerja sama Draco tempo hari.
"Yah, aku hanya ingin bertanya. Ngomong-ngomong kau lupa tongkatmu." Draco berlalu setelah memberitaunya.
Hermione berbalik, melihat Draco yang sedang memilih-milih buku. Wajah Hermiome mengerut dan alisnya tertekuk, ekspresi kesal seorang Hermione Granger. Hermione berjalan kembali ke arah meja untuk mengambil tongkatnya yang terlupakan. Dia hendak pergi lagi, tapi sesuatu menahannya, kali ini bukan Draco, tapi rasa penasaran Hermione yang sudah tidak bisa ia redam lagi.
Dalam sekali tarikan nafas, Hermione bicara, "sesuatu membuatku penasaran. Kenapa kau tidak ingin mencari tau penyebab kau dan aku jadi seperti ini?"
Draco menghentikan aktivitasnya, kemudian memalingkan kepala, melihat Granger tengah menunduk. Sosoknya terlihat seperti orang yang banyak pikiran. Ya, itu memang benar.
"Aku tidak bilang bahwa aku tidak ingin mencari tau." alis Draco tertekuk. Jelas tidak setuju dengan pemikiran gadis itu tentangnya.
Hermione segera mengangkat pandangan, jelas kaget atas pernyataan itu "aku pikir kau..." gadis itu menggeleng, segera mengganti pertanyaannya. "Lalu kenapa kau menolak saat kuajak untuk bekerja sama. Bukankah akan lebih baik melakukannya bersama?" Hermione heran.
Draco menghembuskan nafas berat. "Justru itu, aku tidak ingin melakukannya denganmu."
"Kenapa?" Hermione bertanya, seolah benar-benar tidak tau alasannya.
Draco menatap Hermione sejenak sebelum menjawab, "bukankah itu sudah jelas?"
Draco tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, membuat Hermione mengeruhkan air mukanya kesal dan juga bingung. Hermione tidak bisa mengerti arti tatapan Draco. Ada sorot merendahkan dalam iris kelabu itu, tapi juga ada jenis tatapan lain dibaliknya yang tidak bisa Hermione simpulkan.
Gadis Gryffindor itu mendengus, lantas beranjak pergi meninggalkan perpustakaan. Sementara itu, Draco berbalik, memandangi sosok Hermione yang menjauh secara diam-diam. Ekspresi wajah pemuda itu mengeruh, jelas sekali bahwa ia merasa bersalah.
Mungkin karena penyebab Hermione mengalami situasi ini bersamanya karena sesuatu yang tidak sengaja Draco lakukan. Sesuatu yang membuat Draco Malfoy dan Hermione Granger mengalami peristiwa yang tidak masuk akal.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
