Aroma ramuan yang kuat dan beragam memenuhi udara ruang Ramuan. Kuali-kuali mendidih di atas api, dan para siswa sibuk mengukur bahan-bahan dan mengaduk campuran mereka. Hermione berdiri di mejanya, matanya tertuju pada buku ramuan di depannya. Dia mencoba fokus pada instruksi, tetapi pikirannya terus melayang ke Draco.
Dia melihat Draco di meja seberang ruangan, bekerja dengan kualinya dengan gerakan yang tepat. Dia tampak tenang dan terkendali, seperti biasa. Tapi Hermione tahu ada sesuatu yang berbeda. Dia tahu dia menyembunyikan sesuatu.
Profesor Slughorn berjalan di sekitar ruangan, mengawasi para siswa dan memberikan nasihat. Dia berhenti di meja Hermione dan mengangguk setuju pada ramuan yang sedang dia buat.
"Bagus sekali, Nona Granger," katanya. "Ramuan Penenangmu tampak sempurna."
"Terima kasih, Profesor," kata Hermione, tersenyum tipis.
Profesor Slughorn melanjutkan perjalanannya, dan Hermione kembali ke kualinya. Dia menambahkan bahan terakhir dan mengaduk ramuan itu dengan hati-hati. Ramuan itu berubah warna menjadi ungu muda yang lembut, dan aroma lavender yang menenangkan memenuhi udara.
Dia menghela napas lega. Ramuan itu berhasil. Dia menuangkan ramuan itu ke dalam botol kecil dan menutupinya dengan gabus.
Saat dia membersihkan mejanya, dia melihat Draco menatapnya. Dia menatapnya kembali, dan mereka berdua saling bertukar pandang. Ada sesuatu dalam tatapan Draco yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Kelas Ramuan berakhir, dan para siswa mulai meninggalkan ruangan. Hermione mengambil botol ramuannya dan berjalan menuju pintu. Dia melihat Draco berdiri di dekat pintu, menunggunya.
"Granger," katanya.
"Ada apa, Malfoy?" tanya Hermione.
"Kita perlu bicara," kata Draco.
"Tentang apa?" tanya Hermione, menatap Draco dengan tatapan sinis.
Draco menghela napas panjang, seolah-olah dia sedang mengumpulkan keberanian. "Tentang semua ini," katanya, menunjuk ke sekeliling mereka. "Tentang mantra itu, tentang ingatan yang hilang, tentang Pelahap Maut itu."
"Apa maksudmu?" tanya Hermione, mengerutkan kening.
"Aku pikir kau harus berhenti," kata Draco, suaranya pelan. "Kau harus berhenti mencari tahu. Kau harus menjalani hidupmu. Tidakah kau berpikir ini adalah kesempatan kedua?"
Hermione terkejut. "Apa?" katanya. "Kenapa?" Dia bertanya dengan sengsi. Dia tidak menyangka Draco berpikiran seperti itu. Kesempatan kedua? Itu omong kosong. Dia hehilangan separuh kehidupannya.
"Ini terlalu berbahaya," kata Draco. "Kau tidak tahu apa yang kau hadapi. Kau bisa terluka, atau lebih buruk."
Hermione menggepalkan tangannya, merasa geram. "Karena itu beritahu aku. Biarkan aku yang menghadapinya, kau tidak perlu ikut campur jika itu yang kau mau. Aku tidak bisa hanya diam saja," kata Hermione. "Aku harus mencari tahu kebenaran."
"Tidak, kau tidak harus," kata Draco tegas. Dia tampak frustasi. Hermione terlalu keras kepala. "Kau bisa melupakannya. Kau bisa hidup normal."
Hermione menatap Draco, bingung. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu bersikeras. Dia tidak mengerti mengapa dia ingin menyerah.
"Perang sudah lama usai, Granger. Sekarang saatnya kau mengejar apa yang benar-benar kau inginkan." Kata Draco.
"Kau takut," kata Hermione. Dia menunduk dalam. Dia kesal mendengar apa yang Draco katakan. Seolah-olah dia perduli padanya, pada hidupnya.
Draco menatapnya dengan mata dingin. "Aku tidak takut," katanya.
"Kau bohong," kata Hermione. "Kau takut dan kau mencoba membuatku takut juga."
Draco terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dari Hermione, menatap ke lantai.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka," katanya, suaranya pelan.
Hermione terkejut dan mengangkat pandagan, melihat sebersit kekhawatiran di mata Draco, kekhawatiran yang ditujukan padanya. Dia tidak pernah melihat Draco menunjukkan emosi seperti itu sebelumnya.
"Kenapa kau peduli?" tanya Hermione, suaranya berbisik.
Draco tidak menjawab. Dia hanya menatapnya dengan mata yang penuh dengan emosi yang tidak bisa diartikan.
Hermione merasa bingung. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia tidak mengerti mengapa Draco begitu peduli padanya.
"Aku tidak mengerti," kata Hermione. "Kenapa kau ingin aku berhenti? Kenapa kau begitu takut?"
"Karena..." Draco berhenti, seolah-olah dia sedang berjuang dengan kata-katanya. Tapi akhirnya dia tidak bisa mengungkapkannya, seperti ada sesuatu yang mengganjal pita suaranya.
Draco berdecak kesal, mengalihkan pandangannya dari Hermione. Dia merasa frustrasi, tidak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Kata-kata seolah-olah tersangkut di tenggorokannya, tidak mau keluar.
"Lupakan saja," katanya, suaranya dingin. "Aku tidak tahu apa yang kubicarakan."
Dia berbalik dan mulai berjalan pergi, meninggalkan Hermione sendirian di koridor. Hermione menatap punggungnya, bingung dan kecewa. Dia tidak mengerti mengapa Draco begitu tertutup, mengapa dia tidak bisa jujur tentang perasaannya.
"Malfoy, tunggu!" panggil Hermione, berlari mengejarnya.
Draco berhenti dan berbalik, menatap Hermione dengan mata dingin. "Ada apa lagi?" tanyanya.
"Kenapa kau seperti ini?" tanya Hermione, suaranya bergetar. "Kenapa kau tidak bisa jujur padaku?"
Draco menghela napas panjang. "Aku sudah jujur," katanya.
Hermione menghela napas pasrah.
"Okey, aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi bisakah kau jawab satu pertanyaan saja?"
"Apa?"
"Ingatanmu, apakah itu juga hilang sebagian, seperti milikku?" tanya Hermione. Setidaknya dia harus tahu. Apakah efek samping dari mantra itu adalah kehilangan sebagian memori.
Draco terdiam sejenak. Cukup lama sampai dia akhirnya menjawab "ini yang terakhir, Granger. Tidak....ingatanku utuh, tidak ada yang hilang." Dengan jawaban itu, dia berlalu pergi. Meninggalkan Hermione sendirian dengan pikiran yang berkecamuk.
Hermione berdiri terpaku, menatap punggung Draco yang menjauh. Kata-katanya terngiang di telinganya: "Ingatanku utuh, tidak ada yang hilang." Jantungnya berdebar kencang, pikirannya berputar-putar.
"Jadi, ini bukan karena mantra itu," gumamnya pada dirinya sendiri. "Hilangnya ingatanku... itu sesuatu yang lain."
Dia merasa seperti potongan-potongan puzzle yang selama ini berantakan mulai menyatu. Ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang lebih besar dari yang dia duga.
Dia teringat pada Ramuan Pengungkapan Masa Lalu. Kilasan-kilasan ingatan yang muncul, mata Pelahap Maut yang familiar, dan kekosongan yang menganga di antara ingatan-ingatan itu.
"Jika bukan mantra itu, lalu apa?" pikirnya. "Siapa yang menghapus ingatanku? Dan mengapa?"
Dia merasa seperti sedang berjalan di labirin yang gelap, tanpa tahu jalan keluar. Dia tahu dia harus mencari tahu, tetapi dia tidak tahu dari mana harus memulai.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
