Pekan Hogsmeade akhirnya tiba, membawa serta kegembiraan dan kehangatan yang selalu dinantikan oleh para siswa Hogwarts. Halaman kastil dipenuhi dengan tawa dan obrolan, saat para siswa bersiap-siap untuk perjalanan mereka ke desa yang indah itu. Hermione, meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan misteri koma dan rahasia Draco, memutuskan untuk menikmati suasana perayaan.
Dia berjalan melalui lorong-lorong kastil, mengamati para siswa yang bersemangat. Rose dan Anne, teman-temannya, mendekatinya dengan senyum lebar. "Hermione, ayo kita pergi bersama!" kata Rose, menarik lengannya. "Ada banyak hal yang ingin kita lihat di Hogsmeade!"
Hermione tersenyum dan mengangguk. "Tentu, aku ikut," katanya, merasa sedikit lega karena ada gangguan dari pikirannya yang kusut.
Mereka bergabung dengan kerumunan siswa yang berbondong-bondong menuju gerbang Hogwarts, melewati Hutan Terlarang yang tampak tenang di bawah sinar matahari musim dingin. Hogsmeade menyambut mereka dengan aroma mentega panas, permen, dan kayu bakar. Toko-toko dipenuhi dengan barang-barang ajaib, dan para siswa berkerumun di sekitar jendela, mengagumi berbagai macam permen, mainan, dan barang-barang unik lainnya.
Hermione, Rose, dan Anne mengunjungi Honeydukes, di mana mereka membeli berbagai macam permen dan cokelat. Mereka tertawa dan bercanda, mencoba melupakan masalah mereka sejenak. Mereka juga mengunjungi Zonko's Joke Shop, di mana mereka mengagumi berbagai macam lelucon praktis dan mainan ajaib.
Saat mereka berjalan-jalan di desa, Hermione sesekali melirik ke sekeliling, mencari Draco. Dia tahu bahwa dia mungkin sedang bersembunyi di suatu tempat, mengamati mereka dari kejauhan. Dia merasa penasaran dan sedikit cemas, ingin tahu apakah dia akan mengatakan sesuatu tentang mimpi mereka atau misteri koma mereka.
Namun, Draco tidak terlihat di mana pun. Hermione mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, tetapi dia tidak bisa menghentikan rasa ingin tahunya. Dia merasa seolah-olah dia sedang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan jawaban, kesempatan untuk mengungkap rahasia yang telah menghantuinya.
Saat matahari mulai terbenam, mereka memutuskan untuk mengunjungi Three Broomsticks, pub yang hangat dan nyaman yang selalu menjadi tempat favorit para siswa Hogwarts. Mereka memesan mentega panas dan duduk di dekat perapian, menikmati suasana yang ramai.
Tiba-tiba, pintu pub terbuka, dan Draco masuk, diikuti oleh Albus dan Aron. Hermione menatapnya, merasa jantungnya berdebar kencang. Draco melihatnya dan mengangguk kecil, lalu duduk di meja yang jauh dari mereka.
Hermione merasa bingung. Dia tidak tahu apakah dia harus mendekati Draco atau tidak. Dia ingin bertanya kepadanya tentang mimpinya, tentang misteri koma mereka, tetapi dia juga merasa takut. Dia takut akan apa yang mungkin dia temukan, takut akan kebenaran yang mungkin terlalu menyakitkan untuk ditanggung.
Dia menatap Draco, yang sedang berbicara dengan Albus dan Aron, dan merasa ada sesuatu yang aneh tentangnya. Dia tampak lebih tenang dari biasanya, lebih santai. Hermione merasa seolah-olah dia sedang melihat sisi lain dari Draco, sisi yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Hermione menghela napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya. Dia bangkit dari kursinya, memberi isyarat kepada Rose dan Anne bahwa dia akan segera kembali, dan berjalan menuju meja Draco. Albus, yang duduk di samping Draco, menatapnya dengan rasa ingin tahu, tapi Hermione mengabaikannya.
"Malfoy, bisakah kita bicara sebentar?" kata Hermione, suaranya terdengar lebih tenang dari yang dia rasakan.
Draco menatapnya, alisnya terangkat. "Tentu, Granger," jawabnya, suaranya datar.
Mereka berdua berjalan keluar dari Three Broomsticks, meninggalkan kehangatan pub dan memasuki udara dingin Hogsmeade.
Albus memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan bingung, merasa ada sesuatu yang aneh dalam interaksi mereka. Tapi, secara tiba-tiba, Albus teringat mimpinya semalam, membuatnya langsung mengumpat dan meneguk Butterbeer nya banyak-banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
