"Selamat malam, anak-anak, para guru, para hantu… dan terutama para tamu," kata McGonagall, tersenyum kepada murid-murid dari luar negeri. "Dengan sukacita besar aku menyambut kedatagan kalian semua di Hogwarts. Aku berharap dan percaya selama kalian tinggal di sini, kalian akan nyaman dan senang."
"Turnamen akan dibuka resmi seusai pesta ini," kata McGonagall. "Sekarang aku mengundang kalian semua untuk makan, minum, dan anggap saja di rumah sendiri!" Dia duduk, dan kemudian mulai mengobrol dengan kedua kepala sekolah dari sekolah lain.
Hermione bisa melihat dua wajah yang tidak biasanya terlihat di sekolah, duduk bersama para profesor. Sepertinya mentri yang diutus kementrian untuk menjadi juri selama turnamen triwizard
Piring-piring di depan mereka dipenuhi makanan seperti biasanya. Para peri-rumah di dapur rupanya mengeluarkan seluruh kepiawaian mereka. Di depan mereka tersaji lebih banyak jenis masakan daripada yang pernah dilihat, terdapat beberapa hidangan khas Prancis dan Skandinavia.
"Terahkir kali mereka menggunakan piala api untuk pemilihan champion, kan Hermione?" Anne melirik Hermione yang duduk tepat di depannya.
Hermione mendongkak dan kemudian mengangguk. "Mereka juga pakai sihir lingkaran Batas Usia di sekeliling Piala Api."
"Oh itu sihir yang tidak bisa ditembus anak dibawah tuju belas tahun ya?"
"Itu benar," sahut Fred II. Lelaki itu duduk bersama Hugo dengan jarak tiga kepala dari tempat Rose dan yang lain duduk.
"Aku dengar ayahku bahkan pernah sekali menipu sihir itu dengan ramuan penambah umur, tapi malah berubah jadi kakek-kakek." Dia dan Hugo kemudian tergelak. Mengingat cerita yang mereka dengar dari bibi Ginny dan ayah Hugo. Membayangkan bertapa lucunya adegan itu jika dilihat secara langsung.
"Kalian tau konsekuensinya, jangan berani-berani meniru hal konyol itu, Hugo." Rose menghardik adiknya. Tapi Hugo nampaknya tidak memperdulikan ucapan Rose, sebaliknya kembali bicara seru bersama Fred II. Rose berdecak kesal.
"Tapi kudengar, ayah Albus ikut saat usianya masih dibawah 17 tahun," kata Anne. Hermione yang sedang memakan hidangan penutup tersedak, segera meminum air dari piala emas.
"Lily, apakah ayahmu menceritakan sesuatu?" Anne beralih pada gadis yang duduk satu kepala disamping kirinya.
Lily yang sedang mengobrol dengan temannya menolehkan kepala pada Anne. Memandang kakak kelasnya tersebut dengan sorot mata tidak mengerti atas pertanyaannya.
"Bagaimana cara agar bisa terpilih menjadi champion padahal masih dibawah umur?"
Lily membuka mulutnya, tapi tidak mengeluarkan suara. Sesaat kemudian gadis itu mengulum bibir dan tersenyum manis. "Ayah tidak pernah cerita soal itu, jadi aku tidak tau," katanya, memberikan pandangan meminta maaf pada Anne.
Anne menghela nafas kecewa. "Oh, sayang sekali."
Hermione melirik Lily yang kembali melanjutkan obrolan dengan teman angkatannya. Harry tidak mungkin menceritakan masa-masa kelam itu pada anak-anaknya. Walau bagaimanapun, itu bukan sesuatu yang mudah untuk diceritakan, mereka kehilangan teman hari itu.
Meja Slytherin terletak tepat disebelah kiri Gryfindor. Draco mendengar jelas pembicaraan mereka dan bisa dengan jelas melihat raut wajah Granger yang tiba-tiba berubah sendu. Draco tentu tau mengenai tragedy di ahkir turnamen saat itu.
"Kira-kira, tantangan macam apa yang akan mereka siapkan tahun ini?" Tanya Aron.
Albus mengedikan bahu. "Dugaanku tidak akan sama seperti turnamen sebelumnya."
Aron mengangguk-anggukan kepalanya. Perhatiannya kemudian beralih pada Draco "bagaimana denganmu, Malfoy?"
Draco mengangkat alis sebagai tanggapan dari kebingungannya atas pertanyaan Aron.
"Kau ikut turnamen?"
Draco menggeleng. Di masa lalu Draco memang punya keinginan keras untuk menjadi perwakilan sekolah sebagai champion, apalagi saat mengetahui bahwa Potter terlibat sebagai perwakilan sekolah kala itu. Tapi untuk sekarang, setelah melihat langsung bahaya yang ada dibalik turnamen itu, Draco enggan kembali berkeinginan.
Begitu piring-piring emas telah dibersihkan, McGonagall berdiri lagi. Ketegangan yang menyenangkan memenuhi aula. Anak-anak bergairah, ingin tahu apa yang akan terjadi. Sementara Fred II dan Hugo mencondongkan tubuh ke depan, menatap ke depan penuh konsentrasi.
"Saatnya telah tiba," kata McGonagall, tersenyum ke arah lautan wajah yang mendongak.
"Turnamen Triwizard akan segera dimulai. Tetapi pertama-tama, izinkan aku memperkenalkan, bagi yang belum mengenal mereka, Mr Antonius Bagman, Kepala Departemen Kerjasama Sihir Internasional, dan Mr Marcus Midgen, Kepala Departemen Permainan dan Olahraga Sihir."
Tepukan tangan terdengar disegala penjuru aula ketika McGonagall memperkenalkan dua pria yang ikut duduk bersama para profesor dan kepala sekolah dari dua asrama tamu.
"Instruksi pelaksanaan tugas-tugas yang akan dihadapi para juara tahun ini sudah diperiksa oleh Mr Bagman dan Mr Midgen," kata McGonagall ketika Filch tua meletakkan sebuah peti dengan hati-hati di atas meja di depannya, "persiapan yang dibutuhkan untuk masing-masing tantangan juga sudah diselesaikan. Akan ada tiga tugas, dilaksanakan dalam rentang waktu sepanjang tahun ajaran, dan ketiga tugas ini akan mengetes para juara dalam berbagai hal kecakapan sihir mereka, keberanian mereka, kelihaian mereka, menarik kesimpulan dan, tentu saja kemampuan mereka dalam menghadapi bahaya."
Mendengar kata terakhir McGonagall, aula seketika sunyi senyap, seakan tak seorang pun bernapas.
"Seperti yang telah kalian ketahui, tiga juara akan bersaing dalam turnamen," McGonagall meneruskan dengan tenang, "satu juara dari masing-masing sekolah yang berpartisipasi. Mereka akan dinilai berdasarkan bagaimana prestasi mereka dalam masing-masing tugas, dan juara yang mengumpulkan jumlah nilai terbanyak setelah pelaksanaan ketiga tugas akan memenangkan Piala Triwizard. Ketiga juara akan dipilih oleh penyeleksi yang tidak berpihak. Piala Api."
Api berwarna kebiruan berkobar dari dalam mulut piala yang telah dikeluarkan dari peti. Anak-anak menatap tertarik pada benda tersebut.
"Siapa saja yang berminat mendaftarkan diri sebagai juara harus menuliskan nama dan sekolahnya dengan jelas di atas secarik perkamen dan memasukkannya ke dalam piala," kata McGonagall. "Para peminat punya waktu dua puluh empat jam untuk memasukkan nama mereka. Besok malam, si piala akan mengembalikan tiga nama yang dinilainya paling layak mewakili sekolah masing-masing. "
Piala itu kemdian diletakkan di Aula Depan agar mudah dicapai oleh siapa pun yang ingin ikut bertanding.
"Dan aku perlu mengingatkan untuk para anak dibawah umur agar tidak mencoba curang dengan meminta seseorang anak kelas 7 memasukan nama kalian. Aku telah memasang lingkaran batas usia sebagai pencegahan, dan tentu saja pengaman lain untuk mencegah segala tipuan sihir."
Ketika pesta penyambutan dan pembukaan resmi turnamen triwizard malam itu selesai. Semua orang membubarkan diri dari aula setelah kepala sekolah memberikan kata-kata terahkirnya. Para tamu segera dipersilahkan untuk pergi ke ruangan yang telah di siapkan oleh prefek masing-masing asrama. Hermione melihat Rose yang langsung melompat menjauh darinya dan Anne untuk mengkoordinir para prefek yang tengah melakukan tugas.
Mereka berjalan kembali ke asrama untuk mengistirahatkan diri, mengisi tenaga untuk memulai hari yang tidak biasa besok pagi.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanficHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
