Ledakan besar yang Draco ciptakan karena Bombarda membuat sedikit kekacauan, meski hal itu nampaknya membantu karena sebagian buku monster telah tersingkir. Mengambil kesempatan, Draco melewati buku-buku yang hendak kembali menyerang, dia berpindah ke rak satu dan lainnya, mencari orang lain yang ada di sana selain dirinya.
Hanya ada para juara yang Draco tau dikirim ke tempat ini, dan jika ada satu orang lagi, maka tidak akan sesualit itu. Tapi dia juga perlu mempertimbangkan rasa lelah mengitari sekolah yang luas.
Perpustakaan hampir seluas great hall, atau sedikit lebih luas dengan rak-rak tinggi dan dipenuhi buku. Draco memerlukan tenaga untuk bisa mengitari semua rak dan pergi ke setiap sudut untuk ahkirnya mengetahui bahwa tidak ada siapapun di sana.
Mendengus, Draco keluar dari perpustakaan. Dia membuat pilihan antara lantai bawah atau lantai atas sampai kemudian menemukan pilihan untuk pergi ke lantai atas. Tampaknya bukan pilihan bagus untuk menyembunyikan seseorang di lantai bawah yang lembab dan dingin, atau itu hanya pikirannya saja.
Dia pergi menuju lantai dua dan mencari ke setiap ruangan yang bisa dia capai. Draco melihat patung gargoyle diujung koridor, merasa ragu untuk pergi dan memerkisa. Sejauh ini, Draco masih memiliki trauma pada orang yang menempati ruangan itu sebelumnya, bukan karena Draco membencinya, tapi lebih pada rasa sakit dan bersalah yang mengantuinya setiap kali dia ingat kejadian malam itu.
Draco menipiskan bibirnya. Karena keraguan itu, dia pergi dari sana, mengindarinya dan justru pergi ke tempat lain. Dia melihat ke ruangan milik guru pertahanan terhadap ilmu hitam, mengeceknya sejenak sebelaum pergi lagi. Tujuan selanjutnya adalah kamar mandi dimana Myrtle Merana tinggal. Tapi ini Hogwarts yang berbeda, maka hantu itu mungkin tidak ada seperti yang lainnya yang telah dihilangkan.
Namun dugaan Draco salah. Begitu dia masuk, telinganya segera disambut oleh suara tangisan melengking yang amat menganggu, lebih menyebalkan dari yang asli. Hanya ada suara tanpa wujud. Suaranya benar-benar menganggu sehingga membuatnya hampir tidak tahan untuk masuk lebih dalam. Tapi dia harus memeriksa lebih dulu, menggunakan sihir untuk meredam suara disekelilingnya, Draco masuk dan pergi kesetiap bilik.
Memeriksanya, sampai kemudian pada bilik keempat sebelah kiri, dia menemukam pintu itu terkunci dari dalam. Draco mengetuk-ngetuknya "hei, ada orang didalam?" Serunya, masih mengetuk-ngetuk pintu.
Draco perlu beberapa kali memanggil untuk pemeriksaan sebelum memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Dan mulutnya segera menganga dengan mata membelakak terkejut saat dia melihat Granger duduk diatas toilet dan tampaknya tidur atau pingsan.
Apakah Granger adalah orang yang harus mereka temukan? Pertanyaan itu hinggap dipikirannya sementara Draco menatap wajah damai Hermione. Draco mendekat, menepuk-nepuk pipi Hermione untuk membuatnya sadar.
"Granger, hei! Bangun" Draco melakukannya beberapa kali sebelum sadar kalau dia harus melepas mantra peredam yang dia pasang lebih dulu agar Granger bisa mendengarnya. Tapi tampaknya dia kurang memikirkan dampaknya karena suara Myrtle Merana yang melengking segera menyerangnya dan nyaris membuatnya tuli.
Dia menggendong tubuh Hermione, bergegas keluar dan menutup pintu kamar mandi kembali. Dengan itu, suara melengking menghilang.
Draco merosot saat dia bersandar di dinding. Mengumpat kecil karena kekesalan sejenak. Hermione masih ada dalam dekapannya, masih dalam kondisi yang sama dan entah kapan akan sadar. Namun seolah pikirannya terkoneksi oleh alam bawah sadar Hermione, gadis berjubah Gryffindor itu akhirnya sadar.
Draco melihat kelopak matanya mengejrap dan raut wajahnya mengeruh. Mata Coklatnya memperhatikan keadaan sekitar sampai kemudian bertemu dengan mata keabu-abuan miliknya. Mereka bertatapan cukup lama. Hermione tampaknya mencoba memastikan penglihatannya, sementara Draco hanya diam, tidak memberikan rekasi berati. Sampai kemudian Hermione sadar dan segera turun dari pangkuan Draco.
Begitu Hermione lepas dari dekapannya, Draco bangkit berdiri "jadi kau orangnya?"
"Apa?" Tanya Hermione defensif. Dia menatap Draco dengan sinis.
"Orang yang harus ditemukan," katanya menjelaskan. Hermione mungkin mengira bahwa dia ingin menyerangnya.
"Kupikir bukan hanya aku yang dikirim ke sini. Ada dua orang lain, jumlah yang sama seperti para juara."
Raut Draco segera berubah "jadi masing-masing mendapatkan satu?"
Hermione mengerutkan alisnya, tidak menyukai kata-kata yang Draco gunakan untuk deskrpsi dari penjelasannya "kau mengatakan seolah kami barang. Dan ya, setiap juara harus menemukan satu orang." Hermione menghentikan perkataanya dan mendegus sembari memalingkan pandangan "dan bertapa beruntungnya aku karena kau yang menemukanku." intonasi suaranya penuh sarkasme.
Draco menghela nafas pelan. "Peluang untuk bertemu denganku sangat besar ditempat ini, aku yakin kau cukup tau soal ini. Kenapa kau datang?"
"Aku hanya menerima tawaran ketika McGonagall meminta siapa yang bersedia untuk pergi."
"Aku tidak mengira itu alasan yang bagus, terutama untukmu. Kau selalu punya alasan jelas untuk melakukan sesuatu."
Hermione melihat kecurigaan dimata Draco, jelas sekali bahwa pemuda Slytherin ini tidak percaya pada alasannya.
"Aku mengaku aku punya alasan lain, tapi bukan berarti aku harus mengatakannya padamu, kan. Kau jelas tidak cukup peduli."
Draco mendengus. Hermione jelas masih marah padanya. "apa itu masih tentang pencarian mengenai masalah yang menimpa kita?"
Hermione memutar bola mata "kupikir ini hanya masalahku, karena kau tampaknya tidak cukup peduli untuk mengetahuinya."
Draco menghela nafas berat, dia tidak menanggapinya lagi, justru kembali duduk bersandar ke dinding. Saat itu, suara Midgen terdengar, memberitau mereka sesuatu.
"Kulihat kalian telah menemukan patner kalian masing-masing. Kami telah menyiapkan tiga perwakilan lain dari masing-masing sekolah dan berharap kalian mendapat patner dari sekolah yang berbeda untuk menjalin kerjasama, namun nampaknya kami tidak bisa memisahkan Miss Granger dari Mr Malfoy..."
Hermione memutar bola matanya terhadap perkataan Midgen. Tapi disisi lain dia juga memikirkannya. Jika ditelaah lagi, Hermione memang selalu terlibat dengan Malfoy, baik dulu mapun sekarang. Yang lain mungkin pergi atau menjauh, tetapi Hermione selalu melihat Malfoy disekitarnya, berada disana seolah tidak pernah pergi.
Sementara itu, pikiran Draco dipenuhi pertanyaan tentang rencana apa yang membuat Granger rela melemparkan dirinya sendiri dalam turnamen. Apa yang telah dia temukan dan apa yang dicarinya di tempat ini.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
