25 - Para Lukisan

288 24 0
                                        

Semua orang pergi ke aula depan, berkumpul untuk melihat  siapa saja anak-anak yang akan ikut dalam pemilihan champion. Tapi Hermione justru pergi menuju ruang kepala sekolah.

Gadis itu memasuki ruangan setelah mengucap kata sandi. Patung gyole membawanya naik ke atas dan kemudian tiba didalam ruang kepala sekolah. Tidak ada siapun di ruagan itu. Kepala sekolah telah mengizinkannya berada di sini berkat surat permohonan yang Harry kirimkan.

Lukisan para kepala sekolah terdahulu terpasang di dinding, mata mereka langsung tertuju pada anak yang baru saja masuk. Menatapnya dengan penasaran dan curiga. Tapi Hermione tidak menghiraukannya, pandangan langsung tertuju pada lukisan profesor Snape yang berada di sebelah lukisan Dumbledore.

"Selamat malam Hermione." Dumbledore menyapa ramah, bibirnya membentuk senyum dibalik jangut putih yang lebat. Hermione tersenyum sebagai tanggapan.

"Apa yang seorang murid lalukan di ruang kepala sekolah yang kosong?" Lukisan Phineas Nigellus memandangnya penuh selidik.

"Kepala sekolah McGonagall telah memberi saya izin," kata Hermione.

"Ada perlu apa datang ke sini? Mencari sesuatu atau perlu bicara dengan kami para lukisan," tanya lukisan Armando Dippet, lebih ramah ketimbang lukisan Phineas Nigellus.

"Saya perlu bicara dengan profesor Snape." Hermione menjawab.

Lukisan Severus Snape yang sejak tadi diam dan tidak memiliki niat untuk mengeluarkan suara, kini memandang Hermione dengan wajah mengeruh dan alis beratut.

Hermione memfokuskan perhatiannya pada lukisan profesor Snape, sementara lukisan kepala sekolah terdahulu, memandanginya penasaran.

"Saya ingin bertanya tentang mantra Exitium profesor, apa anda tau?"

"Mantra Exitium? Belum pernah dengar." bukan profesor Snape yang menyahut, tapi lukisan Armando Dippet.

"Dari mana kau tau tentang mantra itu? Exitium tidak di ajarkan di Hogwarts " tanya lukisan Phineas Nigellus.

"Kenapa kau bertanya soal mantra itu, Miss Granger?" Tanya lukisan Profesor Snape.

Hermione melirik lukisan lainnya. Dia melihat eksprsi yang mereka tunjukan berbeda-beda. Armando Dippet memandangnya dengan ketertarikan, Phineas Nigellus masih dengan tatapan menyelidiknya. Dumbledore memandangnya dengan tatapan hangat persis seperti saat beliau masih hidup. Sementara itu lukisan lain hanya menampilkan ekspresi penasaran biasa, kecuali lukisan Newt Scamander yang sedari tadi hanya tersenyum ramah tanpa mengatakan apa-apa.

Perhatian Hermione kembali pada lukisan profesor Snape "Exitium adalah mantra yang dilemparkan kepada saya sehingga saya bisa mengalami hal ini..." tatapan Hermione berubah, ada sedikit pancaran api "Harry menemui Harper Montague, pelahap maut yang menyerang saya dengan Exitium, dan mengaku bahwa mantra itu dia temukan dalam buku anda, Profesor. The half blood prince."

"Ya dan kau tau bahwa buku itu sudah dicuri Potter," kata lukisan profesor Snape dengan intonasi suara menyindir.

Hermione berusaha untuk tidak terpengaruh. Dia melanjutkan ucapannya "kedatangan saya bukan ingin bertanya mengenai buku itu, Profesor. Tapi mengenai mantra Exitium, apakah anda bisa memberitau saya efek semacam apa yang ditimbulkan mantra itu?" Hermione sangat berharap mendapatkan jawaban yang tepat.

"Bukan aku yang menciptakan mantra itu, Miss Granger. Dan aku belum pernah mencobanya pada manusia. Exitium adalah sihir kuno dan sangat asing. Aku tidak tau efek semacam apa yang ditimbulkan mantra itu jika menganai manusia," jawaban lukisan profesor Snape, membuat bahu Hermione melemas dan ia menghembuskan nafas kecewa.

"Exitium adalah mantra yang dibuat oleh peri."

Semua mata, baik yang mati dan hidup langsung beralih ke asal suara. Pada lukisan seroang wanita dengan pakaian klasik berwarna hijau. Kepala sekolah Dilys Derwent menatap Hermione dengan tatapan serius.

ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang