28 - Sisi Lain Hogwarts

268 25 0
                                        

Mereka kembali ke ruangan sebelumnya, ruangan tempat berkumpulnya para juara saat diumumkan nama mereka pertama kali. Draco tiba paling ahkir, dia melihat dua juara lain sudah ada di sana. Genevieve tidak setenang biasanya, dia tegang dan wajahnya pucat. Sementara Nolan, memasang wajah garang namun tetap kentara tegangnya. Draco bergabung tanpa banyak bicara, menunggu diruangan itu sampai seseroang datang dan memberitau tugas pertama mereka.

Midgen tampak bagai tokoh kartun yang kelewat besar, berdiri di tengah para juara yang berwajah pucat. Dia memakai jubah abu-abu. "Nah, setelah kalian semua berada di sini... sudah saatnya menjelaskan kepada kalian!" kata Midgen ceria. "Para penonton sudah berkumpul di aula, kalian akan masuk saat nama kalian dipanggil. Di sana kalian akan melihat piala lama Triwizard. Tugas kalian akan dimulai, saat kalian memegangnya. Intruksi selanjutnya akan  kuberitau nanti"

"Nolan Blenkinsop!"

Beberapa saat kemudian mereka
mendengar teriakan gemuruh penonton, Nolan berjalan dengan wajah garang, nampak berusaha menutupi ketegangannya, namun meskipun begitu, wajah pucatnya kentara sekali menunjukan ketakutannya. Suara sorak sorai semakin terdengar, pertanda Nolan sudah memasuki tampil di depan penonton.

Draco menunggu dengan gelisah. Triwizard tidak pernah menjadi turnamen yang mudah bagi siapapun.

"Genevieve Bishop!"

Genevieve berjalan dengan langkah pelan, wajah gadis prancis itu semakin pucat. Di depan pintu keluar menuju aula, Draco sempat melihat Madame Rofanle menunggui Genevieve, merangkul gadis itu bersamanya. Tampaknya hendak menenangkan muridnya yang gelisah.

"Draco Malfoy!"

Draco menarik nafas dalam. Beranjak dari posisinya dan berjalan menuju pintu yang membawanya ke aula. Rasa gelisahnya semakin parah ketika dia tiba di aula. Dia melihat segala sesuatu di depannya seakan dalam mimpi yang berwarna-warni.
Beratus-ratus wajah memandangnya dari bangku-bangku yang telah disihir selayaknya tribun. Anak-anak Hogwarts bersorak untuknya.

Pandangan Draco kemudian beraliha pada para juri yang berkumpul di atas podium. Di depan mereka terdapat meja yang diatasnya terdapat piala silver yang memancarkan kilau kebiruan.

"Mendekatlah ke meja itu, Mr Malfoy. Aku akan memberikan intruksi dan saat sudah siap, kau harus memegang piala itu," kata Midgen.

Draco mengambil nafas, berjalan ke sisi meja yang ditunjuk. Iris biru keabu-abuannya memandang piala itu dalam ketegangan. Kalau tidak salah ingat, piala ini adalah piala yang pernah di sihir menjadi portkey dan membawa Potter ke makan Riddle.

"Nah, Mr Malfoy. Piala ini telah disihir menjadi portkey....aman, karena Mister Bagman sendiri yang menaruh sihirnya. Portkey itu akan membawamu dan tentu dua juara sebelumnnya ke suatu tempat. Di sana kalian akan menemukan intruksi baru untuk tugas pertama yang sebenarnya." Kata Midgen, Draco memandang pria itu, mendengarkan dengan baik. "Kau lihat sapu tangan merah di atas meja itu, ambilah" Draco mengambil sapu tangan merah tersebut, memandangnya dengan alis berkerut, dia memandang Midgen lagi untuk menanti jawaban "simpanlah. Di saat kau sudah tidak sanggup mengikuti turnamen dan ingin menyerah, jatuhkan sapu tangan itu, maka kau akan dikirim kembali ke sini."

Draco segera memasukan sapu tangan merah itu ke dalam saku celananya.

"Nah, sekarang Mr Malfoy, raihlah piala itu."

Dengan intruksi Midgen, Draco meraih piala di atas meja. Rasanya seperti tubuhnya berputar dan dia tersedot ke dalam dimensi yang berbeda, kemudian muncul di suatu tempat yang familiar.

"Selamat datang di sisi lain Hogwarts, para juara!"

Suara Midgen bergema dari segala arah. Draco melihat penampakan lorong lantai tiga Hogwarts. Keadaan begitu sepi dan hening, seolah tidak ada orang lain di sana selain dirinya. Sampai suara Midgen kembali terdengar.

"Tugas pertama kalian adalah mencari seseorang. Orang itu bisa berada disuatu tempat dimanapun di dalam kastil. Kalian memiliki waktu selama lima jam untuk menemukan orang tersebut. Tapi ingat bahwa kami telah menaruh rintangan yang harus kalian lewati. Kalian bisa menggunakan jenis sihir apapun, tapi tentu saja tidak diperkenankan menggunkan sihir hitam. Tugas kedua akan diberitau setelah tugas pertama selesai. Berusahalah para juara, tetaplah hati-hati dan semoga selamat."

Draco berdecak, menarik tongkatnya dan segera berlari menyusuri lorong-lorong Hogwarts yang kosong. Pergerakannya terlihat dari sebuah layar besar yang telah di sihir dan dipertontonkan didepan para juri, profesor dan murid-murid dari tiga sekolah.

Semua orang menyaksikan dengan penuh ketegangan serta antusias tinggi para juara yang sedang berusaha melewati berbagai macam rintangan disisi lain Hogwarts, sebuah tempat atau dimensi yang dibuat oleh sihir para juri. Tempat yang berbeda dimana berbagai rintangan berbahaya dapat dijumpai dengan mudah.

Dilayar yang terbagi menjadi tiga bagian tempat yang masing-masing memperlihatkan posisi para juara. Nolan yang sebelumnya berada di ruang rekreasi Slytherin sudah keluar dan sedang menuju lantai atas. Genevieve telah tiba di menara Gryffindor setelah sebelumnya berada di kelas transfigurasi dan Draco pergi menuju perpustakaan. Masing-masing mulai menunjukan skil mereka ketika rintangan mulai bermunculan dan menjadi penghalang.

Dalam layar, mereka melihat Nolan menghindari sulur-sulur hitam jerat setan yang muncul dari dinding-dinding Hogwarts di lorong lantai satu. Berusaha melepaskan diri, dengan mencoba memotongnya. Namun sulur-sulur itu kembali muncul dan menjeratnya lagi.

Di menara Gryffindor, Genevieve harus berhadapan dengan ratusan Pixies Cornish yang tengah mengacau. Mahluk kecil biru itu segera menyerang Genevieve, menarik-narik rambut, bajunya bahkan tali sepatunya, mengangkatnya ketas sehingga membuat gadis itu menjerit.

Di perpustakaan, Draco berhadapan dengan ratusan buku monster yang melompat dari rak-rak dan mencoba mengigitnya. Dia berusaha menyingkirkan buku-buku bergigi tajam itu dengan melemparkan sihir.

Masing-masing juara melakukan apapun untuk terbebas dari rintangan yang menghadang mereka. Tugas pertama Triwizard memang tidak pernah beres. Untuk tugas kedua nanti, entah tantangan macam apa lagi yang harus mereka hadapi. Draco mendegus jengkel, melemparkan bombarda pada buku monster dan menciptakan ledakan yang cukup dasyat.

To Be Continued

ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang