Setelah insiden di perpustakaan, Draco Malfoy entah kenapa, mulai sering terlihat di dekat Lily Potter. Awalnya, hanya kebetulan, seperti saat mereka berpapasan di lorong atau saat Draco membantunya mengambil buku yang terjatuh. Tapi lama kelamaan, kebetulan itu menjadi semakin sering, sampai-sampai mereka terlihat mengobrol di taman atau belajar bersama di perpustakaan.
Hermione Granger, yang selalu memperhatikan Lily dan Draco, merasa semakin bingung dan cemburu. Dia tidak mengerti mengapa Draco begitu tertarik pada Lily, dan dia tidak mengerti mengapa Lily begitu terbuka pada Draco. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang dia lewatkan, sesuatu yang tidak dia mengerti.
Suatu sore, saat Hermione sedang berjalan di lorong, dia mendengar sekelompok siswa berbisik-bisik. Dia berhenti dan memasang telinga, ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
"Kau dengar?" kata seorang siswa. "Lily Potter dan Draco Malfoy berkencan."
"Benarkah?" kata yang lain. "Aku tidak percaya. Mereka sangat berbeda."
"Aku melihat mereka berpegangan tangan di taman kemarin," kata siswa pertama. "Mereka terlihat sangat mesra."
Hermione merasa jantungnya berdebar kencang. Dia tidak percaya apa yang dia dengar. Lily dan Draco? Berkencan? Itu tidak mungkin.
Dia bergegas mencari Lily, ingin tahu apakah rumor itu benar. Dia menemukan Lily sedang duduk di bawah pohon di tepi Danau Hitam, membaca buku ramuan. Dia terlihat tenang dan bahagia.
"Lily!" panggil Hermione, suaranya sedikit bergetar.
Lily mendongak, tersenyum. "Hai, Hermione," katanya. "Ada apa?"
Hermione duduk di samping Lily, menatapnya dengan serius. "Aku mendengar rumor," katanya. "Rumor tentang kau dan Malfoy."
Lily mengerutkan kening. "Rumor apa?" tanyanya.
"Rumor bahwa kalian berkencan," kata Hermione.
Wajah Lily memerah. "Apa?" katanya. "Itu tidak benar! Kami hanya... berteman."
Hermione menghela napas lega. Dia tahu bahwa Lily tidak akan berbohong padanya. Tapi dia masih merasa khawatir.
"Lily, kau harus berhati-hati," katanya. "Orang-orang akan salah paham. Dan Malfoy... dia tidak bisa dipercaya."
Lily mengangguk. "Aku tahu, Hermione," katanya. "Tapi aku rasa dia benar-benar berubah."
Hermione menatap Lily, merasa bingung. Dia tidak mengerti mengapa Lily begitu mempercayai Draco. Tapi dia tahu bahwa dia tidak bisa menghentikan Lily. Dia hanya bisa berharap yang terbaik.
"Baiklah," kata Hermione. "Tapi jika dia menyakitimu, aku akan membunuhnya."
Lily tertawa. "Terima kasih, Hermione," katanya.
Hermione tersenyum tipis. Dia tahu bahwa dia akan selalu ada untuk Lily. Tapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan cemburu dan khawatir yang menggerogoti hatinya. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak dia mengerti.
Hermione, dengan tekad bulat, memutuskan untuk menghadapi Draco Malfoy. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Draco dan Lily, dan dia ingin menghentikan rumor yang menyebar. Dia tahu ini mungkin ide buruk, tapi dia merasa harus melakukannya.
Dia menemukan Draco di perpustakaan, sendirian di meja sudut, membaca buku ramuan. Dia mendekatinya, merasa gugup, tapi berusaha menyembunyikannya.
"Malfoy," kata Hermione, suaranya tegas.
Draco mendongak, alisnya terangkat. "Granger," katanya, suaranya datar. "Ada masalah?"
"Ya," kata Hermione. "Masalahnya adalah kau dan Lily."
Draco tersenyum sinis. "Oh, jadi kau sudah mendengar rumor itu," katanya.
"Rumor itu tidak benar, kan?" tanya Hermione.
Draco mengangkat bahu. "Itu tergantung pada apa yang kau anggap benar," katanya.
Hermione mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Maksudku, kami berteman," kata Draco. "Kami menghabiskan waktu bersama. Kami saling membantu."
"Itu tidak menjelaskan mengapa orang-orang berpikir kalian berkencan," kata Hermione.
Draco tertawa kecil. "Orang-orang akan selalu berasumsi yang terburuk," katanya. "Itu sifat manusia."
Hermione merasa frustrasi. Dia tidak bisa mendapatkan jawaban langsung dari Draco. "Dengar, Malfoy," katanya. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, tapi aku tahu kau tidak bisa dipercaya. Jadi, tolong, jauhi Lily."
Draco menatap Hermione dengan tajam. "Kau tidak punya hak untuk memberitahuku apa yang harus dilakukan," katanya.
"Aku punya hak untuk melindungi temanku," kata Hermione.
Draco mencibir. "Lindungi dia dari apa? Aku?" katanya. "Aku tidak melakukan apa-apa yang menyakitinya."
"Kau sudah menyakitinya," kata Hermione. "Kau membuatnya menjadi bahan gosip."
Draco menghela napas. "Itu bukan salahku," katanya. "Orang-orang yang menyebarkan rumor itu."
"Tapi kau tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya," kata Hermione.
Draco terdiam. Dia menikmati perhatian ini.
Tiba-tiba, Draco tersenyum licik. "Kau tahu, Granger," katanya. "Aku selalu menganggapmu pintar. Tapi kau benar-benar bodoh."
Hermione mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Maksudku, kau cemburu," kata Draco.
Wajah Hermione memerah. "Aku tidak cemburu!" katanya.
"Tentu saja kau cemburu," kata Draco.
"Itu tidak benar!" kata Hermione.
"Benarkah?" kata Draco. "Lalu mengapa kau begitu marah?"
Hermione terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu bahwa Draco benar. Dia cemburu. Tapi dia tidak mau mengakuinya.
Draco tertawa kecil. "Kau tahu, Granger," katanya. "Kau terlihat sangat lucu saat marah."
Hermione merasa malu dan marah. Dia ingin memukul Draco, tapi dia tahu itu tidak akan menyelesaikan apa pun.
"Aku pergi," katanya, berbalik dan berjalan pergi.
Draco tertawa lagi. "Sampai jumpa, Granger," katanya. "Dan jangan terlalu khawatir."
Hermione berjalan menyusuri lorong-lorong Hogwarts dengan langkah cepat, amarahnya masih membara. Kata-kata Draco terngiang-ngiang di kepalanya, membuatnya semakin kesal. Cemburu? pikirnya. Dia pasti bercanda.
Dia tidak cemburu. Dia hanya khawatir tentang Lily. Dia tahu bahwa Draco tidak bisa dipercaya, dan dia tidak ingin Lily terluka. Tapi Draco berhasil membuatnya meragukan dirinya sendiri. Dia berhasil membuatnya merasa... bodoh.
Dia tiba di asrama Gryffindor, membanting pintu hingga tertutup, dan melemparkan dirinya ke tempat tidur. Dia menatap langit-langit, mencoba menenangkan diri. Tapi semakin dia mencoba, semakin dia merasa kesal.
Dia memikirkan Lily. Lily yang begitu polos dan baik hati, yang selalu melihat yang terbaik dalam diri orang lain. Dia tidak pantas mendapatkan ini. Dia tidak pantas menjadi bahan gosip.
Dia memikirkan Draco. Draco yang licik dan manipulatif, yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan dari Lily.
Dan dia memikirkan dirinya sendiri. Hermione Granger, si pintar dan logis, yang tiba-tiba merasa bingung dan tidak aman. Dia tidak mengerti mengapa dia merasa seperti ini. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu peduli.
Dia duduk, meraih buku pelajaran Transfigurasi-nya, dan mencoba berkonsentrasi. Tapi pikirannya terus melayang. Dia tidak bisa menghilangkan bayangan Lily dan Draco dari kepalanya. Kenapa dia terus sibuk memikirkan hal tidak berguna, padahal ada hal yang lebih penting yang harus dia pikirkan.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
