Setelah percakapan yang tegang dan penuh misteri dengan Draco, Hermione merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Fakta bahwa ingatan Draco utuh sementara ingatannya sendiri hilang sebagian, membuatnya curiga bahwa ada kekuatan lain yang bermain di balik semua ini. Dia tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi, sesuatu yang mengancam.
Hermione tahu bahwa dia membutuhkan bantuan, dan orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Harry. Dia berharap Harry memiliki informasi atau petunjuk yang bisa membantunya mengungkap kebenaran.
Dengan tekad yang baru, Hermione mulai menyusun suratnya, menuangkan semua keraguan dan kecurigaannya ke dalam kata-kata. Dia tahu bahwa ini adalah langkah pertama dalam perjalanannya untuk mengungkap kebenaran, dan dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan jawaban.
Otaknya telah bekerja semalaman, memikirkan berbagai macam rencana alternatif dan kini Hermione siap dengan rencana matang dalam pikirannya. Tanpa mengganti pakaian tidurnya, Hermione mengambil parkemen dan pena bulu, kemudian mulai menuliskan surat.
Dear Harry
Bagaimana kelanjutan dari penelitian mengenai sihir yang menyerangku?
Dan juga, mengenai siapa yang melemparkan mantra itu, Aku ingin mencari tau, apa kau miliki kandidat kuat siapa kira-kira yang mencurigakan?
Segera hubungi aku.
Salam sayang, Hermione
Hermione membaca kembali surat yang ditulisnya. Semoga saja Harry tidak keberatan dengan permintaannya dan dia akan segera mendapat balasan. Melipat surat tersebut dan meletakannya di atas nakas, Hermione beranjak untuk bersiap-siap. Ia akan mampir ke menara barat dimana kandang burung hantu berada sebelum pergi ke great hall untuk sarapan.
___
Hermione, Rose dan Anne berjalan beriringan sembari mengobrol. Baru saja menyelesaikan kelas pemeliharaan satwa gaib. Saat tiba di aula depan, jalan mereka terhalang oleh banyaknya murid yang berada di sana, tampak mengerubungi pengumuman yang telah di pasang di kaki tangga pualam.
Anne yang tampak paling penasaran menyingkirkan para adik kelas untuk sampai ke depan, tidak mengidahkan beberapa seruan protes penuh kejengkelan yang dilontarkan para anak tahun ke enam dan ke lima. Hermione dan Rose mengekor dibelakang setelah mendapat jalan.
Rupanya itu adalah pengumuman mengenai turnamen triwizad. Perwakilan dari Beauxbatons dan Durmstrang akan tiba hari sabtu pukul 15.00 dan kelas akan berahkir lebih cepat agar para murid bisa membuat penyambutkan meriah untuk para tamu.
"Menurut kalian siapa yang akan jadi perwakilan Hogwarts?" tanya Anne entah pada siapa, sebab gadis itu tidak melihat pada siapapun dan hanya memandang pengumuman di depan.
Rose mengedikan bahunya. "Siapapun itu, aku harap tidak akan ada kejadian seperti terahkir kali." Ekspresi wajah Rose mengeruh. Sesaat kemudian gadis Weasley itu sadar dan melirik Hermione, dan dia melihatnya tersenyum getir.
"Sudah, ayo pergi." Hermione berlalu lebih dulu, meninggalkan Rose dan Anne yang hanya bisa saling pandang dengan wajah meringis.
Kematian Cedric 28 tahun lalu adalah tragedy. Orang-orang digenerasi ini hanya bisa mengenang, tidak tau seberapa kelamnya hari-hari setelah tragedy itu terjadi. Kebangkitan Voldemort dan perang yang memakan korban, Hermione berharap tidak pernah mengelaminya. Beruntunglah mereka yang hidup setelah perang usai.
Sisa-sisa perang dan ingatan tentangnya membentuk trauma yang mendalam bagi yang melewatinya. Dan Hermione adalah salah satunya, meski dia tidak menyaksikan bagaimana perang berhenti dan pihak mereka ahkirnya menang, tidak serta merata luka yang dia dapatkan juga akan hilang.
Hermione membuang nafas berat. Tiba-tiba merasa begitu melankolis.
"Hei, kau baik-baik saja?" Rose menepuk bahu Hermione. Dia dan Anne berhasil menyusul dan melihat Hermione berjalan sembari merenung.
Hermione berusaha tersenyum, dan kemudian mengangguk. "Ya, tentu saja."
Hermione menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Dia tahu dia tidak bisa membiarkan Draco membuatnya takut. Dia harus tetap fokus pada tujuannya: mencari tahu kebenaran.
Dia memandang sekeliling aula depan, yang sekarang mulai sepi. Para siswa sudah mulai pergi ke kelas mereka, dan hanya beberapa yang tersisa. Dia melihat Rose dan Anne menunggunya di dekat pintu masuk Aula Besar.
"Ayo," katanya kepada mereka, berusaha terdengar ceria. "Kita tidak mau terlambat ke kelas Transfigurasi, kan?"
Rose dan Anne saling pandang, lalu mengangguk. Mereka tahu ada sesuatu yang mengganggu Hermione, tetapi mereka tidak menekannya. Mereka tahu dia akan memberi tahu mereka jika dia siap.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang kelas Transfigurasi, pikiran Hermione masih berputar-putar tentang percakapannya dengan Draco. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu bersikeras agar dia berhenti mencari tahu. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu takut.
Dia tahu dia tidak bisa mempercayai Draco sepenuhnya. Dia tahu dia menyembunyikan sesuatu. Tetapi dia tidak tahu apa itu.
Dia memutuskan untuk mengesampingkan pikirannya untuk saat ini dan fokus pada kelas. Dia tahu dia tidak bisa membiarkan kekhawatiran dan ketakutannya mengganggunya. Dia harus tetap kuat dan fokus jika dia ingin mengungkap kebenaran.
Kelas Transfigurasi berlalu dengan cepat. Hermione hampir tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Pikirannya terlalu sibuk dengan misteri yang dia coba pecahkan.
Setelah kelas selesai, dia bergegas keluar dari ruang kelas dan menuju perpustakaan. Dia tahu dia perlu melakukan lebih banyak penelitian jika dia ingin menemukan jawaban.
Dia menghabiskan sisa sore itu di perpustakaan, membaca buku-buku tentang sihir kuno, mantra terlarang, dan Pelahap Maut. Dia mencari petunjuk apa pun yang bisa membantunya mengungkap identitas Pelahap Maut misterius dan mantra yang dia gunakan.
Semakin banyak dia membaca, semakin dia merasa bahwa dia sedang menggali sesuatu yang sangat berbahaya. Ada kekuatan gelap yang bekerja di belakang layar, dan dia tidak yakin apakah dia siap untuk menghadapinya.
Tetapi dia tahu dia tidak bisa berhenti. Dia tidak bisa membiarkan kekuatan jahat ini menang. Dia harus mengungkap kebenaran, tidak peduli apa pun risikonya.
Saat matahari mulai terbenam, Hermione akhirnya meninggalkan perpustakaan. Dia merasa lelah dan kewalahan, tetapi dia juga merasa bertekad. Dia tahu dia semakin dekat untuk mengungkap kebenaran, dan dia tidak akan berhenti sampai dia melakukannya.
Dia berjalan kembali ke asramanya, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan dan keraguan. Dia tidak tahu apa yang akan dia temukan, tetapi dia tahu dia harus terus mencari.
Malam itu, Hermione tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu sibuk dengan semua yang telah dia pelajari. Dia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit, dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dia tahu dia tidak bisa melakukan ini sendirian. Dia membutuhkan bantuan. Tetapi dia tidak yakin siapa yang bisa dia percayai.
Dia memikirkan Harry dan Ron. Dia tahu mereka akan membantunya, tetapi dia tidak ingin menempatkan mereka dalam bahaya, sudah cukup dia merepotkan mereka dengan investigasi tentang asal usul mantra. Dia tahu ini adalah masalahnya, dan dia harus menyelesaikannya sendiri.
Dia memikirkan Draco. Dia tahu dia tidak bisa mempercayainya, tetapi dia juga tahu dia memiliki informasi yang dia butuhkan. Dia memutuskan untuk mencoba berbicara dengannya lagi.
Dia tahu ini adalah risiko, tetapi dia bersedia mengambilnya. Dia tahu dia harus mendapatkan jawaban, tidak peduli apa pun yang terjadi.
Dengan tekad yang baru, Hermione akhirnya tertidur. Dia bermimpi tentang Pelahap Maut misterius, mantra terlarang, dan kekuatan gelap yang mengancam untuk menelan dunia.
Dia tahu dia harus menghentikannya. Dia tahu dia harus mengungkap kebenaran. Dan dia tahu dia tidak akan berhenti sampai dia melakukannya.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
Fiksi PenggemarHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
