31 - Rahasia Malfoy

414 34 0
                                        

Tempat kembali berganti, kini Hermione berada di asrama laki-laki Slytherin. Dimana dia melihat Malfoy sedang duduk gelisah diatas ranjang hijaunya.

"Semua ingatan ini tentang Malfoy. Apa ini?"

Hermione kebingungan. Kenapa dia diperlihatkan kenangan Malfoy.

"Brengsek."

Perhatian Hermione kembali pada anak yang duduk di atas ranjang. Malfoy lebih jakung dan lebih kurus dari sebelumnya, penampilan yang Hermione lihat ditahun keenam mereka.

Malfoy memegang sebuah parkemen, yang tampaknya sebuah surat. Hermione sempat membaca satu kalimat pendek sebelum sebagian tulisan menghilang.

_Draco jika kau gagal, dia akan membunuh kita semua_

Malfoy meremas parkemen itu hingga menjadi gumpalan. Otot-otong tangannya timbul tegang saking kuatnya dia meremas parkemen itu.

Pintu tiba-tiba terbuka, dan seorang anak Slytherin berkulit tan masuk. Anak itu saling bertatapan dengan Malfoy yang membalasnya dengan tatapan dingin, sebelum Malfoy beranjak dan pergi meninggalkan asrama.

Hermione mengikutinya. Malfoy pergi ke great hall, tapi dia melihat Harry sedang bicara dengan Katie Bell. Malfoy berbalik, dia pergi ke kamar mandi dimana Myrtle Merana tinggal. Malfoy berjalan cepat menuju wastafel, melihat presensi dirinya dalam cermin. Dia kemudian melepas rompinya, menyisakan kemeja putih kusut. Penampilannya kacau. Dia menangis.

Tidak lama kemudian, Harry datang, dan mereka memulai konfrontasi yang berujung duel. Malfoy terkena sectusempra. Hermione terkejut melihat seberapa para dampak serangan itu dan merasa agak kesal pada Harry, yang terlihat terkejut dan tidak tau efek dari mantra yang dia gunakan.

Snape datang dan kemudian membawa Malfoy ke Hospital Wings.

Malam datang dalam sekejap untuk Hermione. Dia melihat Malfoy sadar dan bangun dari ranjang hospital. Pemuda itu bertemu Snape didepan pintu.

"Mau kemana kau?" Tanya pria itu dengan raut datarnya.

"Bukan urusanmu," balas Malfoy kasar. Dia hendak pergi, tapi Snape mendorongnya kedinding dan menekannya.

"Aku sudah tau apa yang pangeran kegelapan tugaskan padamu, Malfoy. Kau tidak akan sanggup. Biarkan aku membantumu," kata Snpe serius, agak memaksa. Tapi Malfoy keras kepala, dan sepertinya sudah sangat gelisah dan putus asa.

"Tugas itu diberikan padaku sebagai ganti nyawaku dan orangtuaku. Kau tidak bisa membantu," kata Malfoy, susah payah mendorong Snape.

"Kau akan menjadi pembunuh," kata Snape sarkas.

Saat itu, Malfoy berhenti mendorong Snape. Mata abu-abunya membalas mata kelam Snape sinis, dan kemudian bicara, "ya, seperti ayahku."

Malfoy mendorong Snape yang pegangannya melemah. Membiarkan anak baptisnya pergi mengemban tugas berat, tugas yang akan menjadikannya seorang pembunuh.

Beban Malfoy begitu berat. Maut seakah berada tepat disampingnya, seolah rapalan avada siap menghantam jantungnya kapan saja. Dia baru berusia 16 tahun, masih begitu muda untuk menjadi seorang pembunuh. Hermione merasa sesak, tenggorokannya tercekat, sulit baginya menahan perasaan iba. Rasanya dia ingin meraih bahu pemuda itu dan mengatakan penghiburan padanya. Tidak siapapun dari mereka yang tau penderitaannya. Hermione memiliki Harry dan Ron, dan teman-temannya yang lain, tapi Malfoy sendirian, dan dalam situasinya, akan sulit menerima bantuan dari siapapun, disaat taruhan atas segalanya adalah nyawa orang tuanya, dan nyawanya sendiri.

Perkiraanya, Malfoy akan langsung pergi ke kamar kebutuhan, tapi, Hermione salah. Malfoy pergi menaiki tangga. Dia kemudian berhenti dan kemudian bersembunyi ketika dua orang berjalan turun.

ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang