Pondok Hagrid tampak sunyi saat mereka tiba. Tidak ada Buckbeak yang biasanya berkeliaran di halaman, dan jendela-jendela pondok tampak gelap. Hermione mengetuk pintu, dan setelah beberapa saat, Hagrid membukanya, wajahnya tampak lelah.
"Ah, kalian sudah datang," kata Hagrid, suaranya berat. "Masuklah, masuklah."
Mereka masuk ke dalam pondok yang hangat dan berantakan. Di tengah ruangan, ada tumpukan besar pot-pot tanah liat yang kotor. "Detensi kalian hari ini adalah membersihkan semua pot ini," kata Hagrid, menunjuk tumpukan itu. "Kalian harus mencucinya sampai bersih, tidak boleh ada sisa tanah."
Draco mendengus jijik, sementara Albus dan Aron tampak pasrah. Hermione, yang selalu siap untuk tugas apa pun, langsung mengambil ember dan mulai mengisi air.
"Ayo, kita bagi tugas," kata Hermione, mencoba menyemangati yang lain. "Albus, kamu bantu isi air. Aron, kamu sikat pot-pot yang besar. Draco, kamu..." Hermione berhenti, menatap Draco dengan tatapan menantang. "...kamu sikat pot-pot yang kecil."
Draco mendengus lagi, tapi kali ini dia mengambil sikat dan mulai menggosok pot-pot kecil dengan kasar. Suasana di pondok Hagrid menjadi sunyi, hanya terdengar suara gemericik air dan gesekan sikat di pot tanah liat.
Setelah beberapa saat, Hermione memecah keheningan. "Jadi, Albus," katanya, sambil mencuci pot, "bagaimana kabarmu? Aku belum sempat berterima kasih padamu karena sudah membantuku di kelas terbang."
Albus tersenyum tipis. "Tidak masalah, Hermione. Aku senang bisa membantu."
Draco mendengus lagi, kali ini lebih keras. Tapi Hermione tidak menghiraukannya.
Mereka terus bekerja dalam diam, sesekali diselingi percakapan singkat. Hermione memperhatikan Draco, yang meskipun tampak kesal, tetap menyelesaikan tugasnya dengan teliti. Dia menyadari bahwa Draco tidak sepenuhnya buruk, meskipun dia selalu berusaha menyembunyikan sisi baiknya.
Saat matahari mulai terbenam, semua pot akhirnya bersih. Hagrid memeriksa pekerjaan mereka dan mengangguk puas. "Bagus sekali, kalian sudah selesai. Kalian boleh pergi sekarang."
Mereka keluar dari pondok Hagrid, merasa lega dan sedikit lelah. Hermione menatap Albus dan Aron. "Sampai jumpa besok," katanya. "Terima kasih sudah bekerja sama."
"Sampai jumpa, Hermione," jawab Albus.
Hermione lalu menoleh ke Draco, yang berdiri di sampingnya. "Terima kasih, Malfoy," katanya, dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. "Meskipun kau menggerutu sepanjang waktu, kau tetap membantu."
Draco mendengus, tapi kali ini ada sedikit senyum di wajahnya. "Tentu saja aku membantu, Granger," katanya. "Aku tidak mau berlama-lama di sini."
Hermione tersenyum tipis. "Sampai jumpa, Malfoy."
"Sampai jumpa, Granger."
Hermione berjalan kembali ke kastil, merasa sedikit aneh. Dia tidak pernah menyangka akan menghabiskan sore bersama Draco Malfoy, dan bahkan mengucapkan terima kasih padanya. Mungkin, pikirnya, orang bisa berubah. Atau mungkin, dia hanya terlalu lelah untuk berpikir jernih.
Di sisi lain, Albus berjalan kembali ke asrama Slytherin bersama Draco dan Aron.
Pikiran Albus dipenuhi oleh Hermione. Dia tidak bisa melupakan senyumnya, atau cara dia memimpin detensi dengan begitu efisien. Albus merasa ada sesuatu yang menarik dari gadis itu, sesuatu yang membuatnya ingin mengenalnya lebih jauh.
"Tidak mungkin," gumam Albus pada dirinya sendiri. "Dia sahabat orang tuaku. Dia jauh lebih tua dariku."
Albus mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran itu dari benaknya. Dia tahu bahwa perasaannya tidak pantas. Hermione adalah sosok yang dihormati di dunia sihir, seorang pahlawan perang, dan sahabat dekat orang tuanya. Dia adalah sosok yang seharusnya dia kagumi dari jauh, bukan sosok yang dia bayangkan dalam mimpi-mimpinya.
Namun, semakin Albus mencoba untuk tidak memikirkannya, semakin dia tidak bisa. Senyum Hermione terus terbayang di benaknya, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkannya dengan gadis-gadis lain di Hogwarts. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan, keberanian, dan kebaikan Hermione.
Albus tahu bahwa dia harus mengendalikan perasaannya. Dia tidak ingin merusak persahabatan antara keluarganya dan keluarga Granger. Dia juga tidak ingin membuat Hermione merasa tidak nyaman. Dia harus belajar untuk mengagumi Hermione sebagai seorang teman dan mentor, bukan sebagai objek cinta.
Ketika Albus tiba di asrama Slytherin, dia langsung menuju tempat tidurnya dan berbaring. Dia menatap langit-langit, mencoba untuk mengosongkan pikirannya. Namun, bayangan Hermione terus menghantuinya.
"Aku harus berhenti memikirkannya," gumam Albus pada dirinya sendiri. "Ini tidak benar."
Namun, jauh di lubuk hatinya, Albus tahu bahwa dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Malam itu, Albus tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar-putar, terjebak dalam labirin perasaan yang rumit. Dia tahu bahwa perasaannya salah, tetapi dia tidak bisa menghentikannya. Setiap kali dia mencoba untuk memejamkan mata, wajah Hermione muncul di benaknya, senyumnya yang hangat, matanya yang cerdas.
"Ah, aku pasti sudah gila. Dasar, sadarlah!" Dia mengacak-acak rambutnya, membuatnya berkali-kali lipat lebih retantakan.
Aron yang baru saja masuk ke dalam kamar, dibuat terkejut oleh teriakan frustasi Albus.
"Kau kenapa?" tanya Aron, matanya memicing dalam kegelapan. "Apa akhirnya kau kehilangan kewarasan?"
Albus duduk di tempat tidurnya, berusaha menenangkan napasnya. "Pergi tidur saja" balasnya.
Aron menatapnya dengan curiga. Dia tahu bahwa Albus sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi dia tidak ingin memaksa temannya untuk berbicara. "Terserah." katanya.
Aron berbaring di tempat tidurnya dan memejamkan mata, dan tak lama kemudian, suara napasnya yang teratur memenuhi ruangan. Albus, bagaimanapun, tetap terjaga. Dia menatap langit-langit, pikirannya kembali ke Hermione.
Dia membayangkan senyumnya, suaranya, cara dia bergerak. Dia merasa seolah-olah dia telah mengenal Hermione sepanjang hidupnya, meskipun mereka baru bertemu beberapa kali. Dia merasa seolah-olah mereka memiliki hubungan yang lebih dalam daripada sekadar teman sekelas.
Albus tahu bahwa dia harus menghentikan pikiran-pikiran ini. Dia tahu bahwa dia harus fokus pada studinya, pada Quidditch, pada teman-temannya. Tetapi dia tidak bisa menahan diri. Dia merasa seolah-olah dia ditarik ke Hermione oleh kekuatan yang tak terlihat.
Dia akhirnya tertidur, tetapi mimpinya dipenuhi dengan bayangan Hermione. Dia bermimpi tentang mereka berjalan-jalan di sekitar danau hitam, tertawa dan berbicara. Dia bermimpi tentang mereka terbang bersama di atas sapu, melayang di atas kastil. Dia bermimpi tentang mereka berciuman di bawah cahaya bulan, ciuman yang lembut dan penuh gairah.
To Be Continued
A/n
Waduh, udah ngangur berapa tahun ya cerita ini? Maaf udah dibikin nunggu lama.
Aku bakal spam up beberapa chapter hari ini~
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanficHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
