Albus Severus Potter, kakak Lily, mendengar rumor tentang adiknya dan Draco Malfoy dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa khawatir. Draco Malfoy, meskipun telah berubah, masih memiliki reputasi yang meragukan. Di sisi lain, dia tahu bahwa Lily cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri. Dan yang lebih penting, Albus dan Draco, entah bagaimana, telah menjalin hubungan yang bisa dibilang persahabatan, meskipun tidak konvensional.
Albus memutuskan untuk berbicara langsung dengan Draco. Dia menemukan Draco di ruang rekreasi Slytherin, duduk sendirian di sofa, membaca buku.
"Malfoy," panggil Albus.
Draco mendongak, menghela napas. "Potter," katanya. "Apa sekarang?"
"Aku ingin bicara tentang Lily," kata Albus.
Draco mengerutkan kening. "Apa yang terjadi padanya?" tanyanya.
"Tidak ada yang terjadi," kata Albus. "Tapi ada rumor yang beredar tentang kalian berdua."
Draco memutar matanya. "Oh, rumor itu," katanya. "Aku sudah muak mendengarnya."
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Albus.
Draco menghela napas panjang. "Tidak ada yang terjadi," katanya. "Kami berteman. Itu saja."
"Berteman?" tanya Albus, alisnya terangkat.
"Ya, berteman," kata Draco. "Apa itu sangat sulit dipercaya?"
"Agak," kata Albus. "Mengingat sejarahmu dengan orang tuaku."
Draco mencibir. "Orang berubah, Potter," katanya. "Atau setidaknya, beberapa dari kita."
"Jadi, tidak ada perasaan romantis?" tanya Albus.
Draco tertawa kecil. "Tentu saja tidak," katanya. "Lily seperti adik kecil bagiku. Dan... yah, kau tahu, ada perbedaan usia yang signifikan, meskipun penampilanku menipu."
Albus mengangguk, merasa lega. Dia tahu bahwa Draco tidak akan berbohong padanya.
"Jadi, kau tidak keberatan dengan rumor itu?" tanya Albus.
Draco mengangkat bahu. "Aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan," katanya. "Mereka akan selalu berasumsi yang terburuk."
"Tapi itu menyakiti Lily," kata Albus.
"Aku tahu," kata Draco. "Dan aku minta maaf untuk itu. Tapi aku tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan."
Albus terdiam. Dia tahu bahwa Draco benar. Tapi dia masih merasa khawatir tentang Lily.
"Baiklah," kata Albus. "Tapi jika kau menyakitinya, aku akan..."
"Aku tahu, Potter," potong Draco. "Kau akan membunuhku. Aku sudah mendengarnya."
Albus tersenyum tipis. "Bagus," katanya.
Draco menghela napas lagi. "Aku tidak akan menyakitinya," katanya. "Aku berjanji."
Albus menatap Draco, lalu mengangguk. Dia percaya pada Draco. Tapi dia masih akan mengawasi adiknya.
Draco mengalihkan pandangannya ke buku yang ada di pangkuannya, tanda bahwa percakapan mereka telah berakhir.
Draco benar-benar terlihat muak tentang rumor ini, dan banyak orang datang hanya untuk mencari klarifikasi, membuatnya semakin kesal. Ia tidak mengerti mengapa orang-orang begitu tertarik pada kehidupan pribadinya.
Setelah percakapan tentang Lily, Albus merasa ada kesempatan untuk menanyakan hal lain yang mengganggunya. Dia berusaha untuk terlihat santai, seolah-olah pertanyaannya hanyalah iseng belaka.
"Jadi," kata Albus, sambil berpura-pura melihat-lihat buku di rak dekat mereka, "bagaimana dengan Hermione?"
Draco mengangkat alis, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Maksudku," lanjut Albus, "dia selalu ada di sekitar Lily, kan? Apa pendapatmu tentangnya?"
Draco terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan jawabannya. "Hermione Granger," katanya akhirnya, "adalah... Hermione Granger."
Albus mengerutkan kening. "Itu tidak menjelaskan apa-apa," katanya.
"Dia pintar," kata Draco. "Sangat pintar. Mungkin terlalu pintar untuk kebaikannya sendiri."
"Dan?" desak Albus.
"Dan... dia selalu benar," kata Draco, dengan nada yang sedikit kesal. "Itu bisa membuat frustrasi."
Albus tertawa kecil. "Aku bisa membayangkan," katanya.
"Dia juga sangat protektif terhadap teman-temannya," kata Draco. "Mungkin terlalu protektif."
"Itu karena dia peduli," kata Albus.
"Atau mungkin karena dia cemburu," kata Draco, dengan senyum tipis.
Albus terdiam. Dia tidak menyangka Draco akan mengatakan itu. Dia melirik Draco, mencoba membaca ekspresinya, tetapi Draco hanya menatap buku di tangannya.
"Cemburu?" tanya Albus, mencoba terdengar santai. "Cemburu pada apa?"
"Pada perhatian yang Lily berikan padaku," kata Draco, tanpa melihat ke arah Albus.
Albus merasa pipinya memanas. Dia tidak tahu apakah Draco sedang bercanda atau serius. Dia berusaha untuk tidak terlihat terganggu.
"Itu konyol," kata Albus. "Hermione tidak mungkin cemburu padamu."
"Tentu saja tidak," kata Draco, dengan nada yang sama. "Dia terlalu rasional untuk itu."
Albus terdiam lagi. Dia merasa seolah-olah Draco sedang bermain-main dengannya. Dia tidak tahu apakah Draco sedang mencoba menggodanya atau hanya bersikap sinis seperti biasa.
Draco, di sisi lain, menyadari perubahan sikap Albus. Dia melihat bagaimana Albus berusaha menyembunyikan ketertarikannya pada Hermione. Dia melihat bagaimana Albus menjadi gugup ketika dia menyebutkan nama Hermione. Draco tersenyum tipis dalam hati.
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi dia tahu bahwa dia telah berhasil membuat Albus merasa tidak nyaman. Dia menikmati permainan ini. Dia menikmati melihat Albus berusaha menyembunyikan perasaannya.
Albus, sementara itu, merasa semakin bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dipikirkannya. Dia tidak tahu apakah Draco sedang menggodanya atau hanya bersikap jujur. Dia hanya tahu bahwa dia tidak menyukai bagaimana Draco membuatnya merasa.
Albus merasa frustrasi. Dia tidak tahu apakah dia harus mempercayai Draco atau tidak. Di satu sisi, Draco adalah temannya, atau setidaknya, orang yang dia anggap sebagai teman. Di sisi lain, Draco adalah Draco Malfoy, dan dia tidak pernah bisa sepenuhnya yakin dengan niatnya.
Dia memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan. Dia tidak ingin terjebak dalam permainan pikiran Draco.
"Jadi," kata Albus, "apa yang kau lakukan di sini sendirian?"
"Membaca," kata Draco, sambil mengangkat bukunya.
"Tentang apa?" tanya Albus.
"Ramuan tingkat lanjut," kata Draco. "Aku sedang mencoba membuat ramuan yang bisa menyembuhkan luka sihir."
Albus terkesan. "Itu ambisius," katanya.
"Aku tahu," kata Draco.
To Be Continued
A/n
Okey, semangat. Ayo cepet tamatin cerita ini!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanfictionHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
