09 - Jam Malam

571 54 5
                                        

Hermione menghabiskan waktu di perpustakaan lebih banyak dari sebelumnya. Setelah menerima surat dari Harry tentang mantra yang digunakan serta penyebab bagaimana dirinya berakhir koma dua puluh tahun lebih, Hermione tidak bisa berhenti memikirkannya.

Banyak pertanyaan bergerumul dalam benaknya. Bagaimana takdir mendorongnya hingga dia berakhir dalam kondisi ini. Dan bagaimana Malfoy ada di dalamnya dari sekian banyak orang.

"Nona Granger? Kau masih di sini?"

Kedatangan Madam Piece menarik Hermione dari lamunan. Dia mendongkak dan melihat ke arah si pengelola perpustakaan.

"Sebentar lagi jam malam berakhir. Dan aku harus segera menutup perpustakaan, Nona Granger. Kuharap kau bersedia untuk segera menyelesaikan urusanmu di sini."

Hermione tersenyum kecil dengan ringisan. Kata-kata Madam Piece yang mengusirnya dengan halus langsung membuat Hermione segera bergerak merapikan barang-barangnya.

"Maaf Madam," kata Hermione. Kemudian dia melihat wanita itu berlalu pergi untuk mengecek sisi perpustakaan yang lain. Mungkin saja ada anak gila belajar seperti Hermione Granger di sana.

Setelah mengembalikan buku yang dipinjamnya ke tempat semula, Hermione lekas keluar dari perpustakaan. Nyarisa bersamaan, seseorang menyusulnya keluar dari pintu yang sama.

Hermione menemukan Draco ketika dia menoleh dan ekspresinya menjadi cukup datar saat mereka berpandangan.

Di tengah perjalanan menuju asrama, langkah Hermione tiba-tiba terhenti karena dia tidak sengaja menabrak sesuatu. Akan tetapi, di depannya tampak tidak apa-apa, seolah-olah dia menabrak benda tidak terlihat.

Mengetahui langkah gadis di depannya terhenti, Draco yang berjalan tepat di belakang sang gadis, juga ikut menghentikan langkah.

"Apa-apaan ini?" Hermione bertanya-tanya ketika dia merasakan sebuah benda di depannya dan perlahan mengenali hal tersebut. "Tunggu, ini..."

Dua orang pemuda muncul dari udara kosong. Dan kain jatuh begitu saja di bawah kaki mereka. Mengungkap sosok Albus Potter dan Aron Nott.

Jubah gaib, Hermione langsung mengenali benda magis itu. Jubah gaib milik Harry. Apakah benda itu dia wariskan pada putranya? Hermione segera menatap Albus yang balas menatapnya.

Seketika itu juga, adegan penyelamatan di halaman sekolah saat pelajaran terbang langsung terngiang dibenak Hermione. Dan dia ingat, bahwa dia belum sempat berterima kasih pada Albus yang telah menyelamatkannya dari dikirim ke St.Mungo.

"Apa itu?" Draco maju dan bertanya. Dia memandang jubah gaib yang telah dipugut Aron. Dia mengingat-ingat bahwa dia pernah menangkap Harry Potter mengawasinya di kereta pada tahun ke enam mereka. Apakah sang cousen one menggunakan jubah seperti itu juga, jubah yang membuatnya menjadi tidak terlihat.

"Bukan apa-apa," jawab Albus cepat. Tapi Draco meragukan jawabannya.

"Apakah kau menemukan mangsa, Miss Noris?"

Keempat murid itu langsung teralihkan oleh suara Flich, dan di ujung lorong, tampak kucing basah si penjaga sekolah menatap mereka dengan mata yang melotot. Bayangan Flich yang berjalan dari belokan lorong membuat mereka panik.

"Sialan," umpat Albus. Dia kemudiam meraih tangan Hermione agar gadis itu mendekat.

Aron melebarkan jubah, tidak lupa menarik Draco dan membiarkan jubah itu menutupi tubuh mereka. Efek magis langsung membuat mereka tidak terlihat dari luar. Tapi di dalam jubah gaib, keributan sedikit menyusahkan.

"Apakah benda ini tidak bisa di lebarkan sedikit?" keluh Draco.

"Diam Malfoy. Benda ini hanya membuat tubuh fisik kita tidak terlihat. Tapi jika kau mengoceh seperti itu, maka tidak ada gunanya. Jadi diam." Hermione berkata dengan suara tertahan.

Saat Flich dan kucingnya berjalan lewat, mereka sampai menahasn napas saking tidak ingin tertangkap.

"Aduh, kakiku Granger. Jangan menginjaknya," keluh Draco.

"Siapa yang menginjak kakimu? Dan diam Malfoy." Balas Hermione

"Aron, tanganmu keluar," tegur Albus

"Hei, berikan ruang untuk tanganku."

"Astaga. Sudah berapa lama benda ini tidak dicuci. Bau sekali."

"Granger, singkirkan rambutmu."

"Aduh."

Saking sibuknya mereka dibalik jubah gaib yang pengap. Keempatnya tidak menyadari bahwa Flich sudah berada di dekat mereka. Kemudian Noris, si kucing basah yang selalu berada disisi Flich seketika meraih ujung jubah gaib dengan giginya dan menarik jubah itu. Mengungkap empat orang yang sedang berselisih di dalamnya.

"Hah, ketangkap kalian, anak-anak nakal." Flich menyeringai dengan penuh kelicikan. Gigi-ginya yang hitam dan tidak beraturan membuat Draco mengernyit jijik.

Ekspresi Hermione sudah tidak karuan karena sebentar lagi pasti mereka akan diseret menemui kepala sekolah dan diberi hukuman.

Sementara Albus dan Aron mengumpatkan kata yang sama nyaris bersamaan.

Sesuai dengan prediksi Hermione. Mereka digeret menuju ruang kepala sekolah dimana Profesor McGonagal masih sibuk dengan parkemen-parkemen pekerjaannya.

Wanita berjubah hijau dan bertopi runcing itu memandang mereka dengan mata menyipit tajam.

Hermione menelan ludah dan segera menunduk penuh rasa bersalah saat tatapan McGonagal jatuh padanya. Dia sama sekali tidak ingin melihat tatapan kekecewaan dari Profesor favoritenya tersebut.

"Potter dan Nott. Kalian berdua lagi," ucap Profesor McGonagal dengan nadah lelah.

Hermione dan Draco langsung menoleh ke arah dua orang yang namanya disebut. Albus dan Aron terlihat menahan seringgaian. Mereka sudah sering melakukan hal ini.

Mata Hermione menyipit. Tidak seperti dugaan Hermione. Albus yang selalu bersama Aron tidak seperti Harry dan Ron. Mereka justru seperti Fred dan George, hanya seorang Slytherin.

"Kalian berempat akan mendapat hukuman..."

"Tentu saja," sahut Aron tanpa sadar yang langsung mendapat senggolan lengan dari Albus karena mata McGonagal sudah melotot lebar karena sahutan tidak sopan barusan.

"Besok, pergilah menemui Hagrid. Dia sepertinya membutuhkan bantuan untuk menangani beberapa hewan magis untuk pelajaraan pemeliharaan satwa gaib," kata McGonagal, tampak sangat serius memandang keempat muridnya dengan galak.

"Miss Granger, aku akan mempercayakan tanggung jawab padamu untuk mengawasi tiga lainnya. Pastikan mereka benar-benar melakukan tugas mereka, jangan sampai mereka hanya merepotkan Hagrid dan bukan membantunya."

"Baik, Profesor," tanggap Hermione sangat sopan. Dia bisa mendengar Draco berdecih disampingnya.

"Sekarang, kembali ke asrama kalian," pinta Profesor McGonagal.

"Tunggu, Mister Potter," cegat McGonagal. Hanya Albus yang dipanggil, tapi tiga lainnya ikut menoleh.

"Jubah gaib itu. Aku akan menyitanya. Akan dikembalikan setelah akhir tahun ajaran."

"Tapi, Profesor..."

"Tidak ada bantahan, Mister Potter. Barang-barang seperti ini tidak seharusnya digunakan untuk kecurangan seperti ini. Jika perlu aku akan memghubungi Harry Potter agar dia bisa melarangmu membawa benda-benda ini ke sekolah lagi."

"Tidak ada lagi, Profesor. Jika anda menahannya sampai akhir tahun ajaran, saya tidak akan datang ke sekolah lagi tahun depan karena saya sudah lulus." Seloroh Albus.

"Anda ingat kalau kami sudah tahun ketujuh kan Profesor?" Timpal Aron.

Profesor McGonagal langsung memberikan pelototan galak pada mereka dan mengusir mereka untuk segera keluar dari ruangannya.

"Untuk apa kalian berkeliaran menggunakan jubah gaib diluar jam malam begini?" tanya Hermione begitu mereka sudah berada diluar ruangan kepala sekolah.

"Oh. Kami ingin pergi ke hutan terlarang," jawab Aron santai.

"Untuk apa kalian pergi ke sana?" Kali ini Draco yang bertanya.

"Untuk melihat Unicorn."

To Be Continued

ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang