22 - Para Tamu

280 26 0
                                        

Siang menjelang sore, pukul 2 siang matahari mulai turun bersinar di atas Hutan Terlarang. Hermione, berdiri di antara Rose dan Anne di deretan kedua dari depan. Hermione melihat Anne kentara sekali bergairahnya di antara anak-anak lainnya.

"Hampir pukul tiga," kata Rose. Mereka memandang halaman dengan bergairah, tetapi tak ada yang bergerak. Segalanya diam, dan sunyi, dan sama seperti biasanya. Hermione mulai merasa tidak nyaman. Dia berharap mereka segera tiba. Murid-murid dari luar negeri ini pasti sedang menyiapkan kedatangan yang dramatis seperti tahun sebelumnnya.

"Itu dia!" teriak seorang anak kelas enam, menunjuk ke arah hutan. Sesuatu yang besar, lebih besar daripada sapu atau, malah seratus sapu meluncur dilatarbelakangi langit biru dengan semburat oranye menuju kastil, makin lama makin besar.

Ketika benda hitam raksasa itu melayang di atas pucuk-pucuk pepohonan Hutan Terlarang, mereka melihat kereta kuda raksasa berwarna biru, melesat menuju mereka, ditarik selusin kuda putih keemasan yang masing-masing sebesar gajah. Tiga deretan anak-anak yang di depan mundur ketika kereta itu meluncur turun, berhenti secara tiba-tiba sekali kemudian, dengan bunyi berdebam luar biasa keras yang membuat beberapa anak melompat ke belakang dan menginjak kaki anak-anak dibarisan belakang mereka. Sedetik kemudian, keretanya juga mendarat, menyentak di atas roda-roda raksasanya, sementara kuda-kudanya yang berbulu keemasan mengedikkan kepala mereka yang amat besar dan memutar-mutar mata besar mereka yang merah berapi-api.

Seorang anak laki-laki memakai jubah biru muda melompat turun dari kereta, membungkuk ke depan, sesaat meraba-raba sesuatu pada dasar kereta, dan membuka lipatan satu set tangga keemasan. Sepatu hitam berkilauan bertumit tinggi muncul dari dalam kereta dan seorang wanita berparas cantik keluar, menggunakan jubah satin hitam, sepintas menimbulkan decak kagum dari anak laki-laki.

Madame Maximee pasti sudah tidak menjadi kepala sekolah, karena itulah Hermione melihat orang lain yang datang.

McGonagall mulai bertepuk tangan. Anak-anak, mengikuti teladannya, ikut bertepuk. Banyak di antara mereka yang berjingkat, agar bisa lebih jelas melihat wanita ini. Wajah si wanita mengendur dalam senyum anggun dan dia berjalan menuju Mcgonagall, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

"Madame Rofanle," sapanya. "Selamat datang di Hogwarts."

"McGonagall," kata Madame Rofanle dengan logat prancis yang kental, "Ku'arap kau baik-baik saja?"

"Baik sekali, terima kasih," kata McGonagall.

"Murid-muridku," kata Madame Rofanle, melambaikan salah satu tangan besarnya dengan asal saja ke belakang.

Hermione memperhatikan bahwa sekitar selusin anak laki-laki dan perempuan, semuanya tampaknya berumur delapan atau sembilan belas tahun, telah keluar dari kereta dan sekarang berdiri di belakang Madame Rofanle. Mereka menggunakan jubah biru muda yang terbuat dari sutra halus. Hermione bisa melihat beberapa anak memandang Hogwarts dengan khawatir.

"Mari," Madame Rofanle memerintahkan murid-muridnya, dan anak-anak Hogwarts menyisih untuk memberi jalan kepada mereka menaiki undakan batu, masuk kedalam kastil.

Sementara anak-anak Hogwarts masi berdiri ditempat yang sama untuk menunggu rombongan Dumstrang yang masih belum keliatan.

"Apakah kau mendengar sesuatu?" celetuk Anne tiba-tiba.

Hermione mendengarkan. Bunyi ganjil mengerikan terdengar keras dari dalam kegelapan. Bunyi derum dan isapan yang teredam, seakan ada pengisap debu raksasa sedang bergerak di sepanjang tepi sungai.

"Danau!" Salah satu anak, seraya menunjuk ke danau.

"Lihat ke danau!" Dari posisi mereka di puncak padang rumput yang menghadap ke halaman, mereka bisa melihat dengan jelas permukaan air yang licin dan gelap-hanya saja mendadak permukaan itu tidak lagi licin. Gangguan besar sedang terjadi jauh di dalam air di tengah danau. Gelembung-gelembung besar terbentuk di permukaannya, dan kini gelombang menyapu tepiannya yang berlumpur dan kemudian, di tengah danau muncul pusaran air, seakan sumbat raksasa baru saja dicabut dari dasar danau. Sesuatu yang tampak seperti tiang hitam panjang perlahan muncul dari tengah pusaran air itu, dan kemudian Hermione melihat tali-temalinya. "Itu tiang kapal!" kata Anne kepada Rose dan Hermione.

Hermione sudah menduganya, Beauxbatons datang masih dengan cara yang sama dan Dumstrang pasti juga demikian.

Perlahan, dengan megah, kapal itu muncul dari dalam air, berkilauan tertimpa cahaya matahari

Penampilannya menimbulkan kesan seperti kerangka, seakan itu kapal karam yang diangkat, dan sinar redup berkabut yang memancar dari lubang-lubang tingkapnya seperti mata-mata mengerikan. Akhirnya, dengan bunyi kecipak keras, seluruh kapal muncul, terapung di atas air yang bergolak, dan mulai meluncur ke pantai. Beberapa saat kemudian, mereka mendengar bunyi debur jangkar yang dilempar ke dalam air yang dangkal, dan debum papan yang diturunkan ke pantai. Orang-orang turun dari kapal.

Mereka bisa melihat siluet melewati cahaya di lubang-lubang tingkap. Mereka sudah semakin dekat, berjalan menyeberangi lapangan rumput memasuki Aula Depan, mereka memakai mantel yang terbuat dari semacam bulu panjang tebal. Tetapi laki-laki yang memimpin mereka ke kastil memakai bulu jenis lain, licin mengilap dan keperakan.

"McGonagall!" serunya ramah sambil berjalan mendekati kepala sekolah. "Apa kabar?"

"Baik sekali, terima kasih, Profesor Karlin." jawab McGonagall.

Suara Karlin terdengar bermanis-manis, dan ketika dia melangkah ke pintu depan kastil, mereka melihat bahwa dia jangkung dan kurus, rambutnya hitam dan pendek agak acak-acakan, tampaknya jenis rambut yang sulit diatur.

Setibanya di dekat McGonagall, dia menjabat tangan kepala sekolah Hogwarts dengan kedua tangannya.

"Hogwarts tersayang," katanya, memandang kastil dan tersenyum.

Hermione memperhatikan, Profesor Karlin sedikit mirip Gilderoy Lockhart, tapi sedikit lebih baik karena tampaknya lebih tegas dan tidak keliatan genit. "Senang sekali berada di sini."

"Delegasi dari Beauxbatons, Madame Rofanle sudah menunggu. Mari masuk."

Rombongan Dumstarang mengikuti McGonagal dan Profesor Karlin. Kemudian baru anak-anak Hogwarts menyusul dibelakang mereka dengan posisi berderet.

"Aku harus pergi lebih dulu untuk mempersiapkan sambutan, dah!" Rose pamit dan berjalan mendahului mereka, mengambil arah lain untuk tiba di aula lebih dulu.

Hermione kemudian memandang Anne yang masih antusias dan kemudian mulai bicara, "kau serius ingin ikut turnamen?" tanya Hermione.

Anne menoleh dan menganguk semangat. Gadis ini memang punya energi lebih banyak. "Tentu saja, tapi mungkin akan sulit untuk bisa terpilih. Albus tampaknya tertarik untuk ikut," katanya.

Hermione mengernyitkan alis. "Memang ada apa dengannya?"

"Well, dia punya gen Potter yang hebat," jawab Anne.

Hermione makin mengeruhkan ekspresi wajahnya. Keterlibatan Harry dalam perang benar-benar mengangkat derajatnya dalam komunitas sihir. Bahkan namanya dipandang begitu tinggi. Tapi bagi Hermione, karena Albus menyandang nama Potter, bukan berarti anak itu akan sama seperti Harry. Lagupula, cara bagaimana Harry terpilih bukan karena keberuntungan. Mereka tampaknya tidak tau sejerah dengan lengkap.

To Be Continued

ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang