Hermione terbangun, menemukan dirinya berada di Hospital Wings. Bertanya-tanya apakah yang dilihatnya sekarang nyata atau masih bagian dari memori Malfoy. Dadanya masih terasa sakit, namun tidak lagi separah sebelumnya. Ingatannya berputar pada penglihatan terahkirnya, tentang bagaimana Malfoy mendekap tubuhnya dan menangis. Apakah kejadian itu benar-benar terjadi.
"Hermione, syukurlah. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja sekarang?" Anne menghambur memeluknya. Gadis itu datang bersama Rose.
Hermione menatap mereka, sepertinya ini benar-benar nyata, dan nampaknya dia telah keluar dari area turnamen dan kembali ke Hogwarts yang asli.
"Kau pingsan selama seminggu, membuat kami khawatir. Ayah, bibi Ginny dan paman Harry sampai datang untuk mejengukmu," kata Rose.
"Mereka datang? Tapi seminggu, itu waktu yang lama." Hermione menghela nafasnya. "Bagaimana dengan Malfoy? Bagaimana dengan turnamennya?"
Rose dan Anne berbagi tatapan membuat Hermione mengerutkan ekspresi wajahnya.
"Turnamennya sudah selesai. Beauxbatons membawa pulang piala triwizard," kata Anne lesuh. Tampak tidak terima.
"Malfoy menjatuhkan kain merahnya untuk membawamu keluar dari area turnamen," kata Rose.
"Tapi, bukankah artinya itu..." Hermione tidak dapat melanjutkan ucapanya, dia sulit mempercayainya. Apakah benar bahwa Malfoy sepeduli itu padanya.
"Dia menyerah."
Rose menghela nafas berat, sejujurnya cukup kecewa dengan keputusan Malfoy. Hermione menunduk, kilasan dari penglihatannya kembali menyerangnya. Hermione sulit mempercayainya, apalagi mantra yang pelahap maut lemparkan padanya adalah avada, bukan exitium seperti yang Harry beritaukan. Apa ini sebenarnya. Malfoy pasti tau apa yang sebenarnya terjadi, alasan itulah yang membuatnya begitu lempeng dengan apa yang menimpa mereka.
"Aku harus menemuinya." Hermione menyikap selimut, hendak turun dari ranjang.
"Kau belum boleh pergi sebelum minum ini, Miss Granger."
Tiga gadis itu menoleh pada Marton Hospital Wing yang berjalan mendekat, membawa sebotol cairan yang kemudian diberikan pada Hermione.
"Minum ini dan kau boleh pergi."
Tanpa menunggu lama, Hermione segera meneguk cairan itu dan mengembalikan botol kosong pada sang Marton. Gadis berambut coklat brunte itu bergegas turun dari ranjang dan beranjak pergi meninggalkan Hospital Wings. Dia harus bicara pada Malfoy.
Biasanya akan mudah menemukan Malfoy di Hogwarts. Pria itu selalu muncul dimanapun tanpa diduga, selalu berada disekitarnya dan teman-temannya, datang dan menganggu mereka dengan kata-kata kotornya. Tapi kali ini, sulit sekali menemukan presensinya di Hogwarts, seakan dia telah hilang dan pergi entah kemana.
Hermione pergi kesemua tempat dalam kastil, tidak bisa menemukan keberadaannya dimanapun.
"Ayolah Malfoy, dimana kau?"
"Ikuti nyanyian kami dan kau akan nememukannya."
"Ikuti suara kami dan kau bisa melihatnya."
"Hari hampir usai, matahari akan datang dan bulan akan sirna."
"Dia berada ditempat kami, dimana cahaya bulan memancarkan sinar paling terang."
"Ikuti nyanyian kami dan kau akan nememukannya."
"Ikuti suara kami dan kau bisa melihatnya."
Entah darimana nyanyian tanpa musik itu datang, menghampiri Hermione yang sedang berada di menara astronomi. Dari posisinya, Hermione melihat bulan bersinar, cahayanya menyorot ke dalam hutan terlarang.
"Ikuti nyanyian kami dan kau akan nememukannya."
"Ikuti suara kami dan kau bisa melihatnya."
Nyanyian itu terus dilantunkan, seolah mengiring Hermione ketika dia pergi dari kastil dan menuju hutan terlarang. Dan di sana Hermione melihatnya, dibawah cahaya bulan rambut platina yang mencolok, sosoknya berdiri membelakangi Hermione.
"Kau sudah tau, Granger?"
Alis Hermione terangkat bingung. Malfoy bicara tanpa melihatnya.
"Selama ini kau tau apa yang terjadi, dan tidak memberitauku?" Kata Hermione.
"Aku ingin tapi tidak bisa. Bukan aku yang memegang kendali."
"Jadi kejadian itu benar-benar terjadi. Bahwa aku seharusnya mati hari itu?"
Malfoy tidak menjawab. Hermione menunggu cukup lama hening yang melingkupi mereka.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati."
"Malfoy, apa yang telah kau lakukan?" Hermione berjalan mendekat, menarik bahu Malfoy dan terkejut menyaksikan raut terlukanya.
"Aku tidak bisa memberitaumu," kata pria itu pilu.
Hermione memejamkan mata frustasi "oke, jangan beritau yang itu. Beritau aku kenapa yang semua orang tau Exitium adalah mantra yang aku terima, bahkan Montague yang merupakan pelahap maut yang menyerangku dengan avada."
"Sangat mudah membuat pria yang telah dikecup dementor untuk bicara, sayang."
Seorang wanita berwujud seperti spirit muncul dari balik tubuh Malfoy, dilingkupi cahaya dan secantik bunga. Kemunculannya membuat Hermione terkejut dan refleks melangkah mundur.
"Draco hanya ingin kau hidup. Kami pikir, dia akan menggunakan waktu yang diberikan untuk bersamamu, tapi kau tidak terlalu suka menjadi panjang umur, tidak suka dengan kehidupan yang dia berikan padamu. Kau selalu ingin tau, karena itu kami memberitaumu."
Suaranya halus namun kata-katanya menusuk.
Hermione melihat Malfoy yang menunduk sedih, tampak pasrah, tidak bergerak seincipun dari tempatnya berdiri. Membiarkan wanita spirit itu merengkuhnya dari belakang.
"Waktunya tidak lama lagi."
Tangan wanita itu membelai wajah Malfoy. Hermione menahan nafas, merasa marah tanpa alasan.
"Kami punya sisa ingatan, ingatan milik Draco yang berharga, ingatan yang dia simpan sendirian."
Lalu sebuah kilasan acak menabrak penglihatannya, mengirim Hermione kembali kedalam ingatan milik Malfoy lagi. Tapi kali ini berbeda, sebelumnya Malfoy hanya memperhatikan dirinya dari jauh, kali ini mereka berhadapan, secara langsung, saling menautan tangan dan membagi senyum.
Kilasan itu berputar acak, berganti ke momen lain dengan singkat. Hermione mengenali tahun keempatnya ketika dia menangis akibat bertengkar dengan Ron. Malfoy datang dan memberi kata-kata kotornya, merubah tangis Hermione menjadi amarah. Namun setidaknya dia tidak lagi bersedih.
Ingatan berganti, menampakan danau hitam dimana mereka duduk saling berdampingan, berbicara dengan tenang tanpa umpatan atau hinaan.
Tahun kelima yang suram, dikamar kebutuhan, mereka duduk disofa dan membagi cerita, saling menghibur ditengah kekacauan yang dibawa Umbridge.
Ingatan itu berubah, Hermione menemukan dia dan Malfoy tengah berdebat saat Hermione mengatakan bahwa dia akan pergi dengan Harry ke kementrian sihir.
Ditahun keenam. Dikoridor yang sepi, Hermione menghentikan Draco yang sedang berjalan sendirian dengan tatapan mengawasi. Hermione mengajukan banyak pertanyaan, wajah gadis itu khawatir dan takut bahwa perkiraannya bisa saja benar. Tapi Malfoy menepis tangannya dan menyuruhnya pergi.
Ingatan berikutnya hanya beberapa hari kemudian. Mereka berada di menara astronomi. Bicara dalam suara yang lebih tenang. Saling memegang tangan dan kemudian membagi pelukan. Sebelum Malfoy beranjak pergi lebih dulu, tapi pemuda ia menghentikan langkahnya, menatap punggung Hermione. Malfoy mengenggam tongkatnya erat, mengangkat tongkatnya kearah Hermione dan membuat pola, merapalkan mantra.
"Obliviate."
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
ғᴜᴛᴜʀᴇ ↬ᴅʀᴀᴍɪᴏɴᴇ ✓
FanficHermione dan Draco terkena mantra misterius saat perang membuat keduanya pingsan dan harus dirawat di St.mungo. Namun ketika keduanya kembali sadar, mereka melihat keanehan pada diri orang-orang disekitar mereka. _ "Harry? apa itu kau?" _ "Jangan be...
