Mereka kembali terhenti saar akan menyerang. Ada beberapa orang yang datang dan sepertinya mereka akan turun gunung. Para bandit tentu saja langsung mnencegah mereka turun.
Para bandit itu mulai merampas barang bawaan para rakyat. Jika di lihat dari tindakan mereka, terlihat sekali jika mereka non-magic.
"Dengan kehadiran mereka, ini bisa menjadi alasan dan kesempatan kita menyerang mereka. Meskipun terdengar sedikit kejam." ucap Thea dengan ringisan di akhir kalimat.
"Untuk kali ini kita tidak butuh archer. Jadi, gunakan pedangmu." ucap Edmund.
Thea mengangguk. Dia sendiri untuk menggunakan pedang saja tadi, melihat kemampuan para bandit itu, dia pikir pertarung jarak dekat tidak akan masalah baginya.
Selain itu, ini adalah waktu dia menguji keahlian pedangnya setelah berlatih keras dengan Theo. Percuma dia berlatih sampai badan sakit kalau tidak pakai.
"Mereka semakin kasar dan mulai melukai para rakyat, Tuan." ucap Larc.
"Sekarang,"
Mereka mulai maju dengan menyerang lewat sihir kecil agar perhatian mereka teralih. Setelah teralih baru lah mereka mulai mengeluarkan pedang yang sudah di aliri sihir.
Akhirnya pertempuran tidak terelakan. Para rakyat itu langung mencari tempat bersembunyi. Mereka berjongkok dengan kepala yang mereka lindungi dengan lengan-lengan mereka.
Thea mulai mengayunkan pedangnya untuk bertahan dan menyerang. Karena dia baru saja belajar berpedang, tak terelakkan dia terkena beberapa kali terkena sabetan pedang.
Sial! Keahlianku dari awal memang lah panahan. Jika tahu akan hidup seperti ini setidaknya dulu saat masih SMA aku akan ikut ekskul anggar atau kendo, batin Thea menggerutu.
Sekarang dia sedikit menyesal karena hanya berlatih panahan sejak kecil.
Meskipun lukanya terasa perih karena terkena angin malam, Thea tetap menyerang balik mereka. Tidak ada kata mundur dalam kamusnya. Setidaknya dia bisa menggunakan sihir api, air dan tanah meskipun dalam level rendah karena itu memang bukan keahliannya.
Setidaknya musuhnya bisa dia kalahkan.
Healer mana yang bertarung di garda terdepan sepertiku sekarang? Hanya Edmund saja yang bisa melakukan hal gila seperti ini.
Bertarung dengan menggerutu sepertinya sudah menjadi kebiasaannya setelah bepergiaan dengan Edmund.
***
"Lukanmu cukup parah," ucap Edmund saat mereka baru saja menyelesaikan pertarungan.
Thea menatap Edmund dengan sengit. "Apa?" tanya Edmund.
"Sepertinya aku baru tahu jika seorang healer akan bertarung di garda terdepan." ucap Thea dengan ketus.
"Kau kan juga seeorang archer," jawab Edmund.
"Archer tidak bertarung di garda terdepan, Tuan Duke yang terhormat." kesal Thea.
"Ya sudah, kau yang pertama. Yang penting kamu tidak mati dan masih bisa bernafas." ucap Edmund dengan enteng.
Thea tidak bisa berkata-kata. Pantas dia disebut seorang tirani yang kejam. Dia tidak memiliki belas kasih.
Tidak mati katanya? Katakan saja jika saat ini dia beruntung karena masih bernafas.
Edmund dan Thea yang akan kembali berdebat, segera di hentikan oleh Bass saat melihat para rakyat muncul dari tempat persembunyian mereka.
"Tuan, Nona. Hentikan perdebatan kalian berdua." ucap Bass.
KAMU SEDANG MEMBACA
Make My Own Choice
FantasySetelah menerima undangan ke sebuah pulau bersama 12 orang lainnya. Masing-masing dari mereka menerima perhiasan dan dia menerima gelang cantik bermata berlian, setelah memakainya Ghea Kanaya terlempar ke suatu tempat asing. Ghea terpaksa harus bera...
