Melihat senyum kecil dari bibir Thea, tanpa di sadari Edmund juga ikut tersenyum kecil. Keduanya mulai berjalan-jalan menyusuri tempat sekitar.
Mata Thea dimanjakan oleh tumpukan salju yang di buat menyerupai banyak hal. Dia merasa sedang melakukan karya wisata sekarang. Genggaman tangan yang semakin mengerat membuat Thea kini beralih menatap ke arah tangannya.
"Tuan Duke," panggil Thea.
"Ada apa?" tanya Edmund.
"Saya rasa... anda terlalu erat menggenggam tangan saya," ujar Thea.
"Tidak," bantah Edmund tapi tidak mengendurkan genggaman nya.
Apanya yang tidak? Dia ini kenapa lagi sekarang?
Edmund mengajak Thea berkeliling dan menikmati makanan khas disana. Jajanan di sekitar sudah hampir semuanya Thea coba dan kini, Thea merasa perut nya akan meledak karena kekenyangan.
"Kenapa tidak ada sihir untuk mengurangi efek perut kenyang sih," dumel Thea.
"Mana kakiku sekarang sudah pegal lagi,"
Thea menoleh kearah Edmund, apa pria itu tidak memiliki niatan untuk berhenti berjalan. Kaki Thea rasanya sakit sekali sekarang.
"Tuan Duke, anda tidak ingin kembali?" tanya Thea dengan hati hati.
"Kenapa? Sudah bosan?" tanya Edmund.
Thea menggeleng, "kaki saya sudah lelah." ucap Thea sambil menjulurkan kakinya.
"Kenapa tidak bilang sedari tadi," ucap Edmund dengan kesal.
Thea menatap pria di sampingnya itu dengan bingung. Disini yang harusnya kesal kan dia, kenapa jadi Edmund?
"Tuan Duke, ini kaki saya yang pegal loh. Kenapa jadi anda yang marah marah?" tanya Thea dengan bingung.
Edmund tidak menjawab ucapan Thea tapi semakin mengeratkan genggaman keduanya. Dan dalam kedipan mata dia sudah berada di kamarnya dengan Edmund.
Dia hampir saja mengumpati Edmund, sebelum pria itu menyuruh nya duduk dan mulai melihat kearah kakinya. Hal seperti ini sebenarnya tidak sopan dalam aturan kerajaan. Tapi, siapa yang bisa membantah pria di hadapannya.
"Kaki mu lecet, kenapa tidak menggunakan sihir penyembuh?" tanya Edmund.
Setelah Edmund berbicara seperti itu, barulah Thea sadar. Dia bisa healing, kenapa tidak dia gunakan sedari tadi.
'Dasar otak tumpul,' rutuk Thea pada dirinya sendiri.
"Tidak kepikiran," ucap Thea dengan ketus ke Edmund. Itu dia lakukan untuk menutupi kegugupan atas kebodohan nya.
Thea mulai mengalirkan mananya ke kakinya sendiri , cahaya kehijauan mulai keluar dan menyembuhkan memar di kakinya. Edmund menghembuskan nafas lega, Thea yang melihat hal itu kembali bingung.
"Duke ini kenapa sebenarnya?" tanya Thea.
"Aku? Aku kenapa?" tanya Edmund balik.
"Anda tidak seperti biasanya. Lalu ... perhatian anda pada saya ini maksudnya apa ya, Duke?" tanya Thea langsung.
Dia tidak mau gr, tapi semuanya terlihat dengan jelas. Mana mungkin dia pura pura tidak tahu, itu bukan dirinya sekali.
"Apa terlihat?" tanya Edmund.
"Kenapa Duke ini selalu membalas pertanyaan dengan pertanyaan juga, sih-- tunggu... terlihat? Apa maksud nya?" bingung Thea.
'Apa jangan jangan tebakanku benar? Tapi bagaimana bisa?' batin Thea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Make My Own Choice
FantasySetelah menerima undangan ke sebuah pulau bersama 12 orang lainnya. Masing-masing dari mereka menerima perhiasan dan dia menerima gelang cantik bermata berlian, setelah memakainya Ghea Kanaya terlempar ke suatu tempat asing. Ghea terpaksa harus bera...
