Thea yang baru

55 7 0
                                        


Semua penghuni Duchi terkejut dengan perubahannya. Sebenarnya bukan perubahan yang begitu besar, hanya saja Thea yang sekarang seperti tidak mengenal rasa takut dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Di tambah kondisi fisiknya yang mulai membaik. Tidak ada lagi keluhan yang datang dari kediamannya.

"Nona, Tuak Grand Duke memanggil anda."
Teha bangun dari duduknya dan mulai berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Masalah kaburnya kemarin masih belum selesai. Karena dia berakhir ketiduran hingga malam, dan orang tuanya memilih membicarakan keesokan harinya saja.

Saat akan mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, Thea terkejut karena pintu sudah terbuka terlebih dahulu. Tangan kanan ayahnya juga ikut terkejut dan segera menunduk memberi hormat singkat.

"Nona Thea sudah datang, Tuan." ucapnya yang kembali masuk kedalam.

Apollyon mendongakkan kepalanya dan menaruh gulungan yang baru saja dia baca. "Masuklah putriku,"

Langkah kaki Thea berjalan dengan amat sangat lambat. Dia sedang membuat banyak jawaban di kepalanya atas pertanyaan yang sekiranya akan dilontarkan oleh ayahnya.

"Thea," panggil Apollyon pada putrinya yang terus menunduk.

***

Mampus! Apa yang harus aku jawan ini. Saat aku kabur, aku lupa berpikir tentang alasan karena aku pikir hanya sebentar.

"Thea!" panggil Apollyon lagi dengan nada sedikit tinggi karena putrinya tidak membalas.

"Iya ayah..." jawab Thea akhirnya.

"Sepertinya kamu sudah tahu alasan kenapa ayah memanggilmu kemari," Thea mengangguk patah patah.

Tanpa dia sadari, ternyata adiknya sedari tadi juga ada disana. Sedang membantu sang ayah menyelesaikan tugasnya.

"Jadi.. apa pembelaanmu,"

"Aku.. bosan." hanya itu jawaban yang bisa Thea keluarkan. Otaknya sama sekali tidak bisa diajak berpikir kali ini. Terlalu banyak yang dia pikirkan hingga otaknya mogok berpikir.

"Bosan? Kata itu baru pertama kali ayah dengar selama kamu hidup," ucap Apollyon.

Jawaban itu semakin membuat Thea kelabakan. Tidak mungkin dia menjawab, jika dia sedang mencari tahu semua informasi disini dan berencana mencari jalan untuk kembali ke tempatnya berasal. Bisa di bilang gila dia.

Sihir atau apapun itu memang ada. Tapi transmigrasi? Yang benar saja! Mana ada hal seperti itu. Thea bahkan tidak akan percaya jika tidak mengalaminya sendiri.

"Benarkah? Aku tidak ingat seperti apa aku dulu." mencoba mencari jalan aman.

"Jika kakak bosan, kakak bisa memberitahu aku atau ayah. Ayah pasti akan mengijinkan." suara yang membuat Thea tersentak kaget.

Sejak kapan bocah itu ada disini? Aku tidak mendengar pintu terbuka sedari tadi. Apa teleportasi?

"Aku sedari tadi sudah ada disini membantu ayah mengerjakan pekerjaannya." jawab Theo.

Dia bisa membaca pikiranku? Apa itu kekuatannya? Tunggu memang keluarga ini kekuatannya apa?

"Aku tidak bisa membca pikiran. Semua sudah tergambar jelas dari ekspresi kakak. Dan keluarga kita turun temureun memiliki sihir pelindung atau yang biasa disebut shield." jelas Theo.

Thea mengeluarkan ekspresi konyolnya dan membuat kedua pria berbeda umur tergelak. Mereka tidak menyangka dari wajah yang biasanya hanya menampilkan ekspresi takut ternyata ada ekspresi lain.

"Aku harap kakak tidak kembali mengingat lagi. Kakak yang seperti ini lebih baik. Meskipun sering membuat sakit kepala." harap Theo yang mana membuat Thea mengerutkan wajahnya.

Make My Own ChoiceCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang