"Edmund, ya ..." ucap Seamus sambil menerawang jauh.
"Dia ... merasa ada yang janggal dari kakakmu. Untuk mengetahuinya, bukan kah lebih baik jika kakakmu selalu berada di radarnya." ucap Seamus.
"Setiap hari kekuatan kakakmu itu semakin besar dan hanya Edmund yang bisa meredam mana kakakmu yang tak jarang keluar dengan sendirinya. Kamu tahu kan sihir Edmund?" tanya Seamus di akhir dan Theo mengangguk.
"Dan ... Edmund si bengis itu, memiliki perasaan pada kakakmu." lanjut Seamus yang membuat Theo melebarkan matanya.
"Bagaimana bisa? Bukannya dia anti terhadap wanita? Rumor mengatakan dia gay kan?" tanya Theo terus menerus.
"Dia bukan gay dan juga bukan anti pada wanita. Dia hanya terlalu waspada dengan kaum yang disebut wanita." ralat Seamus.
Seamus dan Edmund selain sudah menjadi atasan dan bawahan sejak kecil, mereka adalah teman di akademi sihir dan pertahanan. Jadi, besar kecilnya rahasia Edmund , Seamus sedikit banyaknya tahu.
"Apa aman jika kakakku dekat dengan Duke Maven, kak? Aku takut keamanan kakakku malah akan semakin di perketat oleh Ayah." ujar Theo.
"Kalau sampai itu terjadi, bukan paman yang memperketat penjagaan Thea, namun Edmund yang akan melakukannya." terang Seamus.
Setelah membahas tentang Edmund dan Thea, kini keduanya berganti bahasan.
Bahasan kali ini lebih berat, karena menyangkut tentang para monster yang berkeliaran di area warga. Monster kali ini cukup pintar, mereka datang ke pemukiman warga yang tidak memiliki sihir.
Akhirnya, kerajaan menghibau agar penduduk menutup semua akses rumah mereka saat matahari mulai kembali ke peraduan. Setelah di cermati, monster itu akan membunuh dan mengejar mangsanya, jika sang mangsa berada di depannya.
"Apa yang akan kau lakukan, Theo?" tanya Seamus.
"Masih aku pikirkan, kak. Pergerakan monster itu memang sudah terbaca, tapi.." Theo menggantungkan kata-katanya.
"Tapi apa?" tanya Perin.
Theo menoleh kearah Perin. "Monster itu bergerak bukan atas kemauannya sendiri. Monster itu biasa merusak apapun yang ada di depannya, namun kini tidak. Sepintar apapun monster, monster tetaplah monster." jelas Theo.
"Kalau sesuai dengan penjelasannmu, dapat di simpulkan jika ada orang di balik semua ini. Begitu?" urai Perin dan Theo mengangguk mengiyakan.
"Kak, kenapa masalah ini tidak di serahkan pada Duke Maven saja?" tanya Perin.
"Edmund sedang menangani kasus yang lain. Dia akan berangkat setelah pesta selesai," jawab Seamus.
"Dengan kakakku?" tanya Theo.
Seamus menggeleng. "Untuk kali ini, kakakmu tidak akan ikut. Dia meminta pada Edmund untuk melakukan petualang sendiri. Katanya ada yang harus dia pastikan." jelas Seamus.
"Sekarang apalagi kak?" gumam Theo yang semakin hari tidak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya.
*)_(*
Sedangkan Thea dan Astin sedang asik mengadu kekuatan sihir mereka. Astin dibuat menyeringai senang melihat perkembangan adik sepupunya.
Dia tidakm menyangka, sepupunya yang tipe healer itu denganmudah mengcopy sihirnya dan membuat serangan balasan untuknya.
"Ini menyenangkan," ucap Astin dengan senyum lebar.
Thea sekarang sudah tidak menggunakan gaun, dia tadi mengganti bajunya dengan menggunakan sihir. Dia suka disini sekarang, lebih mudah dan simple.
KAMU SEDANG MEMBACA
Make My Own Choice
FantastikSetelah menerima undangan ke sebuah pulau bersama 12 orang lainnya. Masing-masing dari mereka menerima perhiasan dan dia menerima gelang cantik bermata berlian, setelah memakainya Ghea Kanaya terlempar ke suatu tempat asing. Ghea terpaksa harus bera...
